Laman

Tampilkan postingan dengan label Pertanian Organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian Organik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Oktober 2011

Plus Minus Pestisida Nabati (Alami)

Tembakau, bahan insektisida yang ampuh.
Beberapa dekade terakhir ini, dunia pertanian diramaikan dengan program green revolution, kembali ke alam, atau organic farming. Hal ini dipicu oleh proteksi beberapa negara (terutama eropa) yang melarang produk-produk pertanian yang mengandung pestisida masuk ke negaranya. Statistik kesehatan di negara mereka telah mencatat betapa banyak pasien rumah sakit yang disebabkan oleh dampak kandungan pestisida dalam makanan yang dikonsumsi yang menyebabkan berbagai penyakit.

Atas kebijakan tersebut dan mungkin juga kesadaran beberapa produsen pertanian besar akan bahaya pencemaran pestisida dalam produknya bagi kesehatan konsumen, sistem pertanian organik mulai mendapat perhatian yang besar. Tidak tanggung-tanggung, dunia penelitian  secara gencar mengembangkan produk-produk pupuk dan pestisida alami yang mempunyai efektifitas setara dengan pestisida sintetis.

Kemudian, 20 tahun terakhir ini, dunia pertanian Indonesia pun mulai ikut-ikutan. Biasalah ... walaupun terlambat dan berjalan lambat, Indonesia mulai memikirkan hal ini. berbagai penelitian pun dilakukan. Walaupun belum dapat mengembangkan teknologi canggih dalam pengembagan pestisida alami ini, dunia pertanian di Indonesia mulai "diperkenalkan kembali" pada pengendalian hama penyakit tradisional, yaitu dengan menggunakan bahan-bahan alami, seperti daun mimba, tembakau, daun sirsak, dll. (lihat kembali artikel BEBERAPA PESTISIDA NABATI POTENSIAL.

Selasa, 16 Maret 2010

Padi SRI Tidak Identik dengan Padi Organik

Metoda SRI (System of Rice Intensification) memang sangat menganjurkan penggunaan pupuk organik sebagai langkah jangka panjang untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah serta hasil yang lebih baik (terutama segi kualitas beras yang dihasilkan). Akan tetapi metoda SRI tidak harus menggunakan pupuk organik untuk dapat menghasilkan produksi yang maksimal.

Di beberapa tempat dimana diadakan petak-petak percontohan, kesalahpahaman bahwa SRI mutlak harus menggunakan pupuk organik adalah suatu kesalahan fatal dalam perkembangan aplikasi metode ini. SRI hanyalah suatu metode dimana kondisi lingkungan mikro pertanaman padi dibuat menjadi lebih optimal dengan memberikan keleluasaan tumbuh yang lebih baik, aerasi daerah perakaran yang lebih optimal, dalam lingkup irigasi menggunakan ketersediaan air yang lebih efisien sehingga ketersediaan air dapat digunakan dalam areal yang lebih luas.

Penggunaan pupuk organik yang disyaratkan pada praktek petak percontohan tanpa penjelasan yang jujur dan bijak menjadi kendala utama bagi perkembangan pelaksanaan metode SRI selama ini. Selain itu, beberapa kendala lainnya juga dijumpai di tingkat lapangan, sehingga SRI dianggap sebagai metode yang sulit dilakukan oleh petani, yaitu diantaranya adalah :
  1. SRI "harus" menggunakan pupuk organik dimana sampai saat ini petani belum siap memproduksi pupuk organik sendiri dan pupuk organik masih "mahal" untuk dibeli.
  2. Penanaman 1 (satu) bibit perlubang tanam dengan bibit yang masih muda msih merupakan praktek yang sulit dilaksanakan petani karena harius dilaksanakan secara cepat.
  3. Sistem pemberian air yang terputus (intermitten) di lahan beririgasi merupakan hal yang masih sulit dilaksanakan dimana pergiliran pengairan pada petak-petak tersier / sekunder dilaksanakan berdasarkan waktu hari (10 harian, 2 mingguan atau pada musim kemarau di daerah kering dilaksanakan sebulan sekali)
  4. Proses pengeringan lahan di lahan beririgasi yang relatif datar masih sulit dilaksanakan.
Dari beberapa kendala yang dijumpai di tingkat lapangan seperti disebutkan di atas, pengembangan metode SRI sebaiknya dilaksanakan dengan faktor pendukung berkut :
  1. Pada saat sosialisasi, perlu ditekankan bahwa SRI tidak harus menggunakan pupuk organik atau SRI dilaksanakan sebagai bagian dari integrated farming system (pertanian terpadu) terutama antara tanaman dan ternak (sapi atau ayam). Pada sistem pertanian terpadu, kebutuhan pupuk organik dapat dipenuhi dari limbah ternak, sedangkan kebutuhan pakan ternak dapat dipenuhi dari limbah tanaman (jerami atau sekam/dedak).
  2. Lebih mengutamakan pengembangan di areal dengan ketersediaan buruh tani yang cukup setiap musim tanam atau dengan penekanan sistem bertani secara berkelompok (sistem gotong royong).
  3. Pengembangan diutamakan pada areal dengan kemiringan yang cukup (mungkin lebih dari 3%) atau bahkan pada lahan dengan terasering agar proses pengeringan dapat dilakukan dengan baik (pada lahan dengan proses drainase / pembuangan air yang lebih baik). Selain itu, SRI nampaknya lebih cocok dikembangkan pada luas petakan yang lebih sempit (kurang dari 2000 m2) agar proses penanaman bibit da pengeringan dapat dilakukan secara cepat.
  4. Pelaksanaan SRI disertai dengan pengembangan budaya pembuatan saluran keliling atau cacingan pada setiap petak tersier. Sejak belasan tahun lalu, saluran cacingan ini telah disosialisasikan dalam rangka pengaturan air yang lebih baik pada lahan yang sulit menerapkan jadwal penanaman serempak dan juga sebagai langkah preventif bagi pengendalian hama tikus dan lainnya (PHT dengan pengaturan lingkungan).
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas, nampaknya pengembangan SRI di Indonesia sebaiknya dikonsentrasikan pada lahan dengan terasering dimana luas petakannya lebih sempit dan kebutuhan tenaga buruh untuk setiap petakan dapat dipenuhi setiap saat. Selain itu, proses pengeringan lahan akan lebih mudah dilaksanakan.

Kembali pada persoalan pokok dimana SRI sering diidentikkan dengan padi organik. Beberapa petak percobaan di lahan petani menunjukkan peningkatan hasil yang signifikan dengan hanya menerapkan pupuk kimia berimbang sesuai anjuran setempat. Penggunaan pupuk organik terutama yang berasal dari ternak sapi memang merupakan teknologi yang sangat dianjurkan untuk pertanaman padi, dengan SRI atau tanpa SRI. Hal ini sangat erat kaitannya dengan perbaikan strukutur tanah dalam jangka yang panjang melalui perkembangan mikroorganisme tanah yang lebih baik dan pemenuhan unsur-unsur hara mikro yang secara nyata memperbaiki kualitas beras yang dihasilkan. Beberapa demplot yang dilaksanakan dengan metode konvensional oleh Departemen Pertanian, menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kandang ternak sapi yang tercampur dengan urine sapi (takaran 2 ton/ha) dengan 50% dosis penggunaan pupuk kimia secara nyata meningkatkan produksi padi sekitar 25% sampai 40% dengan kualitas beras yang lebih baik.
.

Senin, 28 Desember 2009

Pupuk Organik (Kompos)

Menurunnya kandungan bahan organik tanah ditengarai disebabkan karena cara budidaya pertanian yang kurang memperhatikan kandungan bahan organik. Salah satunya penggunaan pupuk kimia yang sangat intensif. Petani lebih memperhatikan penambahan unsur hara kimia dan tidak memperhatikan bahan organik. Misalnya: petani memakai urea, tetapi selalu membakar jerami setelah panen.


Salah satu akibat dari rendahnya bahan organik tanah adalah kebutuhan pupuk buatan yang semakin meningkat  tetapi  produksi justru cenderung menurun. Beberapa kakek petani pernah bercerita ke saya, jika dulu dia cukup menggunakan 100 kg NPK/ha. Sekarang mereka memupuk hingga 200 250 kg NPK/ha. Bahkan dosen Fak. Pertanian IPB pernah menceritakan jika di daerah Gunung Kidul DIY petani menggunakan pupuk  urea dengan dosis 500 kg/ha. Ini mau memupuk atau 'nguruk' tanah dengan pupuk?  Pak Haji Zaka menceritakan kepada saya jika dulu produksi padinya dengan varietas Pelita  1 bisa mencapai 10 ton/ha, tetapi sekarang produksi padinya cuma 6 7 ton/ha (varietas ciherang) meskipun pupuknya lebih banyak. Ironi sekali.

Saat ini petani sangat tergantung dengan pupuk kimia. Sayangnya pupuk sering dipermainkan banyak pihak. Ketika kebutuhan pupuk tinggi, tiba-tiba pupuk menghilang dari pasaran dan harganya membumbung tinggi. Pupuk-pupuk palsu juga banyak beredar. Saya pernah membeli pupuk SP36, tetapi setelah dianalisa kandungan P2O5- nya hanya 20%. Setelah komplain ke penjualnya, mereka menawarkan pupuk super fosfat lain, tetapi kandunganya hanya 18%. Gila....!!!!


Pemerintah harus mengeluarkan dana trilyunan rupiah untuk subsidi pupuk. Sayangnya pupuk subsidi itu banyak diselewengkan, dipakai oleh  perusahaan/perkebunan besar, dan diselundupkan keluar negeri. Subsidi pupuk seperti lebih menguntungkan perusahaan-perusahaan pupuk besar dan cukong-cukong daripada petani-petani kecil.

Kesadaran untuk kembali menggunakan pupuk organik sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Pemerintah melalui Deptan pernah mendeklarasikan 'Go Organik 2010'. Tahun 2010 tinggal satu tahun lagi, tetapi belum ada tanda-tanda kalau 'Go Organik 2010' akan terwujud.

Puncaknya ketika terjadi krisis energi tahun 2008, harga BBM naik tinggi  yang membuat biaya produksi pupuk juga meningkat.   Agar harga  pupuk  tetap rendah, pemerintah harus mengeluarkan subsidi lebih banyak lagi.   Ini jelas sangat membenani APBN.   Pemerintah kemudian mengalihkan sebagian subsidi pupuk kimia buatan ke pupuk organik.

Pemupukan memakan kurang lebih 60% dari seluruh biaya produksi di industri perkebunan. Bagi perkebunan-perkebunan besar, naiknya harga pupuk sangat membebani anggaran pemupukan mereka. Salah satu alternatif solusinya adalah mereka 'berbondong-bondong' beralih menggunakan pupuk organik.

Pupuk organik berbeda dengan pupuk kimia buatan (lebih jelasnya silahkan baca di  http://isroi.wordpress.com/2008/02/26/pupuk-organik-pupuk-hayati-dan-pupuk-kimia/). Manfaat dari pupuk organik adalah untuk meningkatkan kandungan bahan organik tanah yang  banyak  memiliki  peranan penting  di  dalam  tanah. Bahan organik  tanah menjadi salah satu indikator kesehatan tanah karena memiliki  beberapa peranan kunci di tanah. Peranan-peranan kunci bahan organik tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:

a. Fungsi Biologi:

  • menyediakan  makanan  dan  tempat  hidup  (habitat)  untuk organisme (termasuk mikroba) tanah
  • menyediakan energi untuk proses-proses biologi tanah
  • memberikan kontribusi pada daya pulih (resiliansi) tanah b.  Fungsi Kimia:
  • merupakan ukuran kapasitas retensi hara tanah
  • penting untuk daya pulih tanah akibat perubahan pH tanah
  • menyimpan cadangan hara penting, khususnya N dan K

c. Fungsi Fisika:

  • mengikat partikel-partikel tanah menjadi lebih remah untuk meningkatkan stabilitas struktur tanah
  • meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air
  • perubahahan moderate terhadap suhu tanah

Fungsi-fungsi bahan organik tanah ini saling berkaitan satu dengan yang lain.  Sebagai contoh bahan organik tanah menyediakan nutrisi untuk  aktivitas mikroba yang juga dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik, meningkatkan  stabilitas agregat  tanah, dan meningkatkan daya pulih tanah.

Cara sederhana untuk melihat peranan pupuk organik, dalam hal ini kompos, adalah sebagai berikut. Jika tanah berpasir diberi kompos, maka tanah berpasir akan menjadi lebih gembur/remah, agregat tanah terbentuk, dan tanaman dapat tumbuh lebih baik.  Demikian pula jika tanah liat diberi kompos.  Sifat fisik tanah akan menjadi lebih gembur dan remah, tanah akan berkurang 'kelengketannya' dan tanaman dapat tumbuh lebih baik.


Penggunaan pupuk organik akan meningkatkan efisiensi penyerapan hara oleh tanaman. Penggunaan pupuk organik yang dikombinasikan dengan  pupuk kimia dapat mengurangi dosis pupuk kimia. Serapan hara tanaman  meningkat dan  produksinya  pun  cenderung menjadi lebih tinggi.

.
.

Minggu, 13 Desember 2009

Pengelolaan Sampah Organik Rumah Tangga

Hampir semua kota besar saat ini mengalami masalah dengan penanganan sampah. Seiring dengan perkembangan jumlah penduduk dan taraf ekonomi masyarakat, volume sampah yang harus ditangani Pemerintah Kota semakin besar sementara kemampuan armada persampahan kota dan TPS (Tempat Pembuangan Sementara) maupun TPA (Tempat Pembuangan Akhir) semakin berkurang. Permasalahan lain juga timbul dari perkembangan penduduk di sekitar TPA yang akhirnya membatasi perluasan TPA itu sendiri.

Sebenarnya masalah persampahan kota ini dapat ditangani apabila masyarakat mau bekerjasama dengan pemerintah, bukan hanya menuntut bahkan menyalahkan pemerintah. Paling tidak masayarakat dapat ikut membantu mengurangi sampah yang harus ditampung pada TPA.

Bagaimana caranya ?

  1. Dengan sedikit kesadaran dan kemauan, marilah kita pisahkan sampah organik dan non-organik plus kertas. 
  2. Sediakan 2 tempat sampah di dapur, satu untuk kertas dan plastik dan satu lagi untuk sisa makanan, sayuran, atau buah-buahan. 
  3. Tanamkan kebiasaan pada seluruh anggota keluarga agar disiplin membuang sampah pada tempatnya sesuai jenis sampah (kebisaan akan membuat suatu pekerjaan yang tadinya dianggap merepotkan akan terasa ringan !).
  4. Buang sampah non-organik dan kertas di bak sampah untuk diambil petugas sampah, sedangkan sampah organik dibuang ke dalam bak khusus untuk diproses menjadi pupuk organik.
Sampah organik yang diproses menjadi pupuk organik (kompos) akan sangat membantu bagi rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan media tanam tanaman pot atau menyuburkan tanah di sekitar tamanan buah-buahan atau  tanaman hias di pekarangan, jadi tidak perlu membeli. Tanaman dalam pot akan tampak selalu segar (sebaiknya media tanam dalam pot diganti 2/3 nya setiap 6 bulan sekali), tanaman buah-buahan akan tumbuh subur dengan buah yang baik, begitu pula tanaman bunga akan berbungan dengan lebih baik.

Jadikan rumah indah, segar dan menyehatkan. Rumahku adalah surgaku, tempat istirahat yang menyenangkan dan menenangkan, sebagai obat stress setelah seharian bekerja.

Wah... Pak, saya gak mau repot-repot lah, pekerjaan saya banyak, mana sempat memilah sampah apalagi membuat kompos segala ! Apalagi nanti kan timbunan sampahnya bau dong ! Begitulah pernyataan yang sering dilontarkan Ibu-Ibu. TIDAK, kalau kita telah membiasakan diri dan tahu cara membuat kompos dengan benar !

BAGAIMANA ?

Yang pertama, siapkan 2 tempat sampah dalam rumah terutama di dapur dan di ruang makan dengan tanda yang jelas, yang satu ditandai UNTUK PLASTIK DAN KERTAS dan yang lain UNTUK SISA MAKANAN, SAYURAN, DAN BUAH-BUAHAN.
Yang Kedua, buatlah bak pemroses kompos (BAK KOMPOSTER) di halaman belakang rumah (kalau ada) dengan semen atau bisa pula dibuat dari ember plastik besar. Sebaiknya bak komposter ini dibuat 2 buah.

Gambar di bawah ini contoh dan model bak komposter yang bisa disiapkan. Apabila dibuat dari semen dengan cara menggali tanah, buatlah permukaan bak lebih tinggi minimal 5 sentimeter dari muka tanah agar tidak kemasukan limpasan air hujan.



Tutup bak komposter sebaiknya dibuat kedap air atau tidak bocor dan cukup rapat, sehingga bak tidak kemasukan air hujan. Pada komposter yang dibuat dari ember plastik, sebaiknya dibuatkan lubang aerasi (diameter sebaiknya 1 inchi) agar bakteri atau jasad dekomposter lain yang bersifat aerob (butuh oksigen) dapat berkembang dengan baik. Untuk menghindari bau busuk (walaupun sedikit karena lubangnya kecil), lubang aerasi ini dapat disambung dengan selang atau pipa pralon yang ujungnya ditempatkan pada ketinggian yang aman.

Sebaiknya setiap rumah menyediakan bak komposter sebanyak 2 buah agar pada saat bak penuh, sementara lapisan atas belum terdekomposisi dengan baik (masih bau busuk), sampah baru dapat ditampung pada bak satunya lagi.

Sampah organik yang telah penuh dalam tempat sampah dalam rumah dibuang/dimasukkan ke dalam bak komposter dan diratakan. Setiap ketebalan sekitar 10 - 20 cm ditaburi tanah setebal kira-kira 2-5 cm (tanah bekas media tanam pot yang diganti dapat dibuang/ditaburkan dalam bak komposter). Untuk mempermudah pembusukan (dekomposisi), setiap lapisan disiram dengan cairan Microorganisme (lihat artikel lain mengenai pembuatan Microorganisme Cair) yang dapat dibuat sendiri atau dibeli di toko tani terdekat (dapat dengan pupuk organik cair) secukupnya. Setiap lapisan biasanya akan terdekomposisi dengan baik (matang) setelah 2 minggu, sehingga bak dengan kedalaman 1 meter dapat menghasilkan pupuk organik selama kira-kira 2 bulan. Sampah yang sudah matang dicirikan dengan hilangnya bau busuk dan penampakkannya sudah seperti tanah (gembur), berwarna kehitaman. Apabila kita mempunyai waktu luang yang cukup, sambil refreshing, ada baiknya isi bak diaduk / dibalik seminggu sekali agar proses dekomposisi berlangsung lebih baik lagi.




Setelah jadi, pupuk organik dapat disimpan dalam karung atau langsung digunakan untuk mengganti media tanam pot (untuk media pot sebaiknya dicampur tanah biasa dengan perbandingan 1 : 1) atau ditebar saja di sekitar tanaman pekarangan. TANAMAN PEKARANGAN ANDA AKAN SENANTIASA SUBUR DAN SEGAR.




Selain manfaat di atas, kebiasaan mengelola sampah di rumah juga memiliki keistimewaan yang luar biasa. Coba simak bagan di bawah ini :


Bayangkan bahwa anda telah melakukan :
  1. Membuat suasana pekarangan rumah hijau dan segar, tentunya lebih menyehatkan.
  2. Meringankan beban pemerintah dengan mengurangi volume sampah yang harus dikelola pada TPA.
  3. Kelebihan pupuk organik dapat diberikan pada petugas pengumpul sampah untuk dijual, sehingga anda dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mereka (bisa jadi sampah plastik dan kertas dapat dipak dengan baik dan dijual pada pengumpul besar).
  4. Sampah Plastik dan Kertas yang dibuang di TPA akan lebih mudah dipilah oleh para pemulung (bisa jadi para pemulung sudah mengambilnya sejak dari TPS, sehingga volume TPA akan berkurang lagi). Dengan kemudahan ini, diharapkan proses daur ulang akan lebih berkembang. Bisa jadi para pengusaha akan lebih tertarik mendirikan pabrik daur ulang plastik dan kertas (mungkin juga pemda melalui BUMD-nya) sehingga dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih besar.
Pada akhirnya, mari kita kampanyekan PENGELOLAAN SAMPAH ORGANIK DI RUMAH, terutama pada rumah-rumah yang memiliki halaman.

Apabila tulisan ini anda anggap penting bagi orang banyak, silahkan sebarkan informasi ini dengan mengirimkan link URL Blog ini.

Selasa, 24 November 2009

Pembuatan Microorganisme Cair (MOC) dari Bonggol Pisang

Anda punya pohon pisang di pekarangan atau kebun belakang rumah ? Setalah dipanen buahnya biasanya bonggol pisang tersebut dibiarkan membusuk kan ? Bonggol pisang masih bisa dimanfaatkan untuk membuat microorganisme yang nantinya akan menyuburkan lahan pekarangan atau kebun anda, bahkan membantu menyuburkan tanaman hias di pelkarangan rumah. Inilah cara pembuatannya.

Bahan:
  • Bonggol Pisang 5 kg
  • Gula merah 1 kg
  • Air beras 10 lt
Cara Pembuatan:
  • Bonggol pisang ditumbuk/dihaluskan, kemudian dimasukan bersama air beras
  • Masukan gula merah sambil diaduk rata
  • Simpan ditempat drum/tong plastik
Biarkan selama 15 hari

Cara Penggunaan:
  • Pengomposan; dapat digunakan sebagai dekomposer dengan konsentrasi 1 : 5 (artinya 1 liter cairan MOC dicampur dengan 5 liter air tawar), tambahkan gula merah 1 ons dan aduk hingga rata, siramkan pada saat proses pembuatan kompos
  • Penggunaan pada tanaman; semprotkan pada berbagai jenis tanaman dengan konsentrasi 400 cc cairan MOC dicampur dengan 14 liter air tawar. Pada tanaman padi, sejak fase vegetatif hingga generatif pasca tanam yaitu hari ke 10, 20, 30 dan 40
  • Semprotkan pada pagi/sore hari, hindari penyemprotan pada siang hari. 

Lihat pula :


 

Minggu, 22 November 2009

Pembuatan Microorganisme Cair (MOC) dari Limbah Buah-buahan


Bahan:
  • Limbah buah-buan yang tidak termakan: Jeruk, Tomat, Pepaya Mangga, Pisang, Apel, Salak dll sebanyak 10 Kg,
  • Gula 1Kg,
  • 10 liter air kelapa.

Cara Pembuatan:
  • Buah-buahan sebanyak 10 Kg ditumbuk/dihaluskan,
  • Masukan pada drum/tong
  • Campurkan dengan air kelapa,
  • Tambahkan gula merah yang telah dicairkan
  • Tutup dengan plastik beri lubang udara dengan cara masukan slang plastik yang dihubungkan dengan botol yang sudah berisi air.
  • Biarkan selama 10- 15 hari.
Penggunaan:
  1. Pengomposan: Campur cairan MOC dan air dengan perbandingan 1 : 5 liter, tambahkan gula 1 ons, siramkan pada Bahan Organik yang mau dikomposkan.
  2. Penggunaan pada tanaman padi. Semprotkan pada konsentrasi larutan 400 cc cairan MOC dicampur dengan air tawar sebanyak 14 liter, semprotkan pada umur tanaman akhir vegetatif (kurang lebih umur 55 Hari- 60 hari). 
Lihat pula :

Mikro Organisme Cair Sederhana

Pembuatan Mikroorganisme Cair (MOC) dari Limbah Sayuran.

Pembuatan Microorganisme Cair (MOC) dari Keong Mas

Pembuatan Microorganisme Cair (MOC) dari Rebung Bambu


 

 

Sabtu, 21 November 2009

Pembuatan Microorganisme Cair (MOC) dari Rebung Bambu


Bahan:
  • 2 buah rebung bambu kurang lebih 3 Kg,
  • Air beras 5 liter,
  • 1 buah Maja (Labu Kaye/Aceh) yang sudah matang, jika tidak ada buah Maja bisa diganti dengan gula merah 1,5 ons.

Cara membuat:
  • Rebung Bambu di tumbuk halus atau diiris-iris, masukan pada ember/tong plastik,
  • Campurkan dengan buah Maja yang sudah dihaluskan,
  • Tambahkan gula merah yang telah dihaluskan dan diaduk
  • Rendam dengan air cucian beras sebanyak 5 liter.
  • Biarkan selama 15 hari
Cara Penggunaan:
  1. Pengomposan: dapat digunakan sebagai dekomposer dengan konsentrasi: 1 : 5 (1 liter cairan MOC ditambah dengan 5 liter air tawar), tambahkan gula merah 1 ons dan aduk hingga rata, disiramkan pada saat proses pembuatan kompos.
  2. Penggunaan pada tanaman: penyemprotan dilakukan pada pagi/sore hari dengan konsentrasi 400 cc cairan MOC dicampur dengan 14 liter air tawar pada umur 10 hari, 20 hari 30 dan 40 hari setelah tanam. Sebagai zat perangsang pertumbuhan tanaman

Lihat pula :

Mikro Organisme Cair Sederhana

Pembuatan Mikroorganisme Cair (MOC) dari Limbah Sayuran.

Pembuatan Microorganisme Cair (MOC) dari Keong Mas

 

 

Kamis, 19 November 2009

Pembuatan Microorganisme Cair (MOC) dari Keong Mas


Bahan:
  • 5 Kg Keong Mas yang masih hidup/segar,
  • 2 Buah Maja matang (jika tidak ada dapat diganti dengan cairan tebu 1 liter, atau gula merah 1kg)
  • Air kelapa 10 liter.
Cara membuat:
  • Keong mas ditumbuk hingga halus masukan pada tong plastk
  • Campurkan dengan buah maja yang sudah dihaluskan atau gula yang lebih dulu dihaluskan/cairan tebu
  • Tambahkan 10 liter air kelapa dan aduk hingga rata.
  • Tutup rapat dengan plastik dan berikan slang palstik sambungkan pada botol yang telah berisi air maksimal 3/4 nya (bisa menggunakan botol aqua yang besar).
  • Biarkan/simpan selama 15 hari
Cara Penggunaan:
  1. Pengomposan, dengan konsentrasi 1 : 5 (1 liter cairan MOC ditambah dengan 5 liter air tawar), tambahkan 1 ons gula merah, aduk rata dan siramkan pada bahan organik yang mau dikomposkan.
  2. Penggunaan pada tanaman dapat disemprotkan pada berbagai tanaman dengan konsentrasi 400 cc cairan MOC dicampur dengan 14 liter air tawar. Pada tanaman padi sejak fase vegetatif hingga generatif (umur 10, 20, 30, 40 atau pada fase masak susu) MOC keong mas ini dapat dicampur dengan MOC lainnya. Disemprotkan pada pagi/sore hari, hindari penyemprotan pada siang hari (terik Matahari). 

Lihat pula :

Pembuatan Mikroorganisme Cair (MOC) dari Limbah Sayuran.

Peralatan :
  • Drum plastik ukuran 200 liter
  • Plastik transparan 1 m2
Bahan :
  • 100 Kg Limbah Sayuran Hijauan (Kol, Cesin, Vetsay, Mentimun, Bayam, Kangkung dll),
  • Garam 5 % dari berat bahan ( ~5 Kg),
  • Gula merah 2 % dari cairan setelah diproses selama 24 hari.
Cara pembuatan :
  1. Limbah sayuran hijauan diiris-iris hingga menjadi potongan-potongan kecil dan masukan kedalam drum plastik, setiap lapisan setebal 20 cm taburkan garam sampai rata, lanjutkan dengan berlapis-lapis seperti diatas sampai kedua bahan habis.
  2. Tambahkan air cucian beras sebanyak 10 liter,
  3. Drum ditutup rapat dengan plastik dan diatasnya diberi air sehingga tampak plastik cekung terisi air.
  4. Setelah 3-4 minggu baru dibuka, akan tampak cairan berwarna kuning kecoklatan, baunya segar dan jika diukur PH nya 3- 5 .
  5. Tambahkan gula sebanyak 2 ons dan diaduk hingga rata.
Cara penggunaan : 
  1. Pengomposan, yaitu digunakan untuk mempercepat penghancuran Bahan Organik, dengan cara campurkan 1 liter cairan ditambah 10 liter air tawar tambahkan gula 2 0ns dan cairan siap di siramkan pada bahan organik yang akan dikomposkan.
  2. Penyemprotan pada tanaman, yaitu dengan cara campurkan 400 cc cairan MOC dengan 14 liter air tawar (1 tangki semprotan) dan diaduk rata, semprotkan pada pagi atau sore hari (hindari sengatan cahaya matahari pada siang hari) pada berbagai jenis tanaman, jika tanaman padi disemprotkan pada umur 10, 20, 30 dan 40 hari setelah tanam
Catatan :
  • Penggunaan pada tanaman lain pada prinsipnya sama karena bahan mikroorganisme cair ini berfungsi sebagai dekomposer dan stimulator bahan organik pada media tanam. Efek langsung pada tanaman adalah fungsinya sebagai zat pengautr tumbuhan sebagai hasil proses biokimia fermentasi bahan.
  • Pembuatan dapat dilakukan pada skala kecil untuk keperluan rumahtangga, seperti apotek hidup, sayuran pekarangan, ataupun tanaman hias. Dalam hal ini, perbandingan volume bahan seperti yang dijelaskan diatas.
  • Untuk jenis tanaman yang peka seperti sayuran dan tanaman hias, sebaiknya dicoba pada kosentrasi larutan yang lebih encer untuk menghindari proses plasmolisis jaringan daun. Apabila terjadi gejala kekeringan pad ujung daun, konsentrasi larutan dapat lebih diencerkan.







Lihat artikel sebelumnya :

Mikro Organisme Cair Sederhana

Senin, 16 November 2009

Mikro Organisme Cair Sederhana

Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil (biasanya kurang dari 1 mm) sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat bantuan. Mikroorganisme seringkali bersel tunggal (uniselular) meskipun beberapa protista bersel tunggal masih terlihat oleh mata telanjang dan ada beberapa spesies multisel tidak terlihat mata telanjang. Ilmu yang mempelajari mikroorganisme disebut mikrobiologi. Orang yang bekerja di bidang ini disebut mikrobiolog.

Mikroorganisme biasanya dianggap mencakup semua prokariota, protista dan alga renik. Fungi (jamur), terutama yang berukuran kecil dan tidak membentuk hifa, dapat pula dianggap sebagai bagiannya meskipun banyak yang tidak menyepakatinya. Kebanyakan orang beranggapan bahwa yang dapat dianggap mikroorganisme adalah semua organisme sangat kecil yang dapat dibiakkan dalam cawan petri atau inkubator di dalam laboratorium dan mampu memperbanyak diri secara mitosis.

Pemanfaatan mikroorganisme sebagai bahan stimulan bagi pemanfaatan unsur hara tanaman saat ini telah berkembang dengan pesat. Produk mikroorganisme yang telah beredar di pasaran sudah banyak dijumpai di toko-toko pertanian dengan berbagai merek. Sebenarnya apa peran mikroorganisme dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman ?

Mikroorganisme berfungsi sebagai pengurai dari bahan-bahan organik yang berada dalam tanah sehingga berubah menjadi zat hara (Nitrogen, Phosfat, Kalium, dan unsur hara makro dan mikro lainya) yang dapat dengan mudah diserap oleh tanaman. Unsur hara yang dihasilkannya sangat tergantung pada bahan organik yang terdapat dalam tanah tersebut. Selain itu, beberapa mikroorganisme dalam melakukan proses penguraian dapat menghasilkan hormon tumbuhan  yang dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman sebagai zat pengatur tumbuhan. Jadi, tidaklah benar kalau mikroorganisme kadang disebut juga pupuk organik atau bahkan hormon pertumbuhan tanaman seperti sering kita baca dalam brosur-brosur iklan.

Bagaimana caranya membuat atau lebih tepatnya mengembangbiakkan mikroorganisme? Sebenarnya tidaklah sesulit seperti yang kita baca mengenai teori mikroorganisme itu sendiri. Pada prinsipnya, mikroorganisme tertentu hanya dapat berkembangbiak dengan baik dalam media tertentu dan kondisi tertentu pula. Jadi, jenis mikroorganisme tergantung dimana dia tumbuh dan berkembang, sedangkan jenis lainnya yang mungkin ikut berkembang dalam media tersebut akan "tersaingi" sehingga tidak berkembang atau mati. Dengan demikian, mikroorganisme dapat dibuat secara sederhana melalui proses fermentasi biasa. Hanya saja, tanpa penyelidikan laboratorium, kita tidak tahu persis jenis mikroorganisme apa yang berkembang dalam media tertentu. Oleh karena itu, mengembangkan mirkoorganisme secara sederhana hanya dapat dilakukan sesuai dengan yang dicontohkan oleh orang lain yang berpengalaman akan hal tersebut.

Bahan-bahan organik yang baik untuk dijadikan media pengembangan mikroorganisme secara sederhana diantaranya adalah sayuran, limbah buah-buahan, bonggol pisang, dan banyak lagi. Hasil fermentasi dari bahan-bahan tersebut akan menghasilkan mikroorganisme yang dapat langsung kita gunakan sebagai stimulator penguraian bahan organik dalam media tanam atau dalam pembuatan kompos atau humus.