Laman

Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Maret 2010

Padi SRI Tidak Identik dengan Padi Organik

Metoda SRI (System of Rice Intensification) memang sangat menganjurkan penggunaan pupuk organik sebagai langkah jangka panjang untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah serta hasil yang lebih baik (terutama segi kualitas beras yang dihasilkan). Akan tetapi metoda SRI tidak harus menggunakan pupuk organik untuk dapat menghasilkan produksi yang maksimal.

Di beberapa tempat dimana diadakan petak-petak percontohan, kesalahpahaman bahwa SRI mutlak harus menggunakan pupuk organik adalah suatu kesalahan fatal dalam perkembangan aplikasi metode ini. SRI hanyalah suatu metode dimana kondisi lingkungan mikro pertanaman padi dibuat menjadi lebih optimal dengan memberikan keleluasaan tumbuh yang lebih baik, aerasi daerah perakaran yang lebih optimal, dalam lingkup irigasi menggunakan ketersediaan air yang lebih efisien sehingga ketersediaan air dapat digunakan dalam areal yang lebih luas.

Penggunaan pupuk organik yang disyaratkan pada praktek petak percontohan tanpa penjelasan yang jujur dan bijak menjadi kendala utama bagi perkembangan pelaksanaan metode SRI selama ini. Selain itu, beberapa kendala lainnya juga dijumpai di tingkat lapangan, sehingga SRI dianggap sebagai metode yang sulit dilakukan oleh petani, yaitu diantaranya adalah :
  1. SRI "harus" menggunakan pupuk organik dimana sampai saat ini petani belum siap memproduksi pupuk organik sendiri dan pupuk organik masih "mahal" untuk dibeli.
  2. Penanaman 1 (satu) bibit perlubang tanam dengan bibit yang masih muda msih merupakan praktek yang sulit dilaksanakan petani karena harius dilaksanakan secara cepat.
  3. Sistem pemberian air yang terputus (intermitten) di lahan beririgasi merupakan hal yang masih sulit dilaksanakan dimana pergiliran pengairan pada petak-petak tersier / sekunder dilaksanakan berdasarkan waktu hari (10 harian, 2 mingguan atau pada musim kemarau di daerah kering dilaksanakan sebulan sekali)
  4. Proses pengeringan lahan di lahan beririgasi yang relatif datar masih sulit dilaksanakan.
Dari beberapa kendala yang dijumpai di tingkat lapangan seperti disebutkan di atas, pengembangan metode SRI sebaiknya dilaksanakan dengan faktor pendukung berkut :
  1. Pada saat sosialisasi, perlu ditekankan bahwa SRI tidak harus menggunakan pupuk organik atau SRI dilaksanakan sebagai bagian dari integrated farming system (pertanian terpadu) terutama antara tanaman dan ternak (sapi atau ayam). Pada sistem pertanian terpadu, kebutuhan pupuk organik dapat dipenuhi dari limbah ternak, sedangkan kebutuhan pakan ternak dapat dipenuhi dari limbah tanaman (jerami atau sekam/dedak).
  2. Lebih mengutamakan pengembangan di areal dengan ketersediaan buruh tani yang cukup setiap musim tanam atau dengan penekanan sistem bertani secara berkelompok (sistem gotong royong).
  3. Pengembangan diutamakan pada areal dengan kemiringan yang cukup (mungkin lebih dari 3%) atau bahkan pada lahan dengan terasering agar proses pengeringan dapat dilakukan dengan baik (pada lahan dengan proses drainase / pembuangan air yang lebih baik). Selain itu, SRI nampaknya lebih cocok dikembangkan pada luas petakan yang lebih sempit (kurang dari 2000 m2) agar proses penanaman bibit da pengeringan dapat dilakukan secara cepat.
  4. Pelaksanaan SRI disertai dengan pengembangan budaya pembuatan saluran keliling atau cacingan pada setiap petak tersier. Sejak belasan tahun lalu, saluran cacingan ini telah disosialisasikan dalam rangka pengaturan air yang lebih baik pada lahan yang sulit menerapkan jadwal penanaman serempak dan juga sebagai langkah preventif bagi pengendalian hama tikus dan lainnya (PHT dengan pengaturan lingkungan).
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas, nampaknya pengembangan SRI di Indonesia sebaiknya dikonsentrasikan pada lahan dengan terasering dimana luas petakannya lebih sempit dan kebutuhan tenaga buruh untuk setiap petakan dapat dipenuhi setiap saat. Selain itu, proses pengeringan lahan akan lebih mudah dilaksanakan.

Kembali pada persoalan pokok dimana SRI sering diidentikkan dengan padi organik. Beberapa petak percobaan di lahan petani menunjukkan peningkatan hasil yang signifikan dengan hanya menerapkan pupuk kimia berimbang sesuai anjuran setempat. Penggunaan pupuk organik terutama yang berasal dari ternak sapi memang merupakan teknologi yang sangat dianjurkan untuk pertanaman padi, dengan SRI atau tanpa SRI. Hal ini sangat erat kaitannya dengan perbaikan strukutur tanah dalam jangka yang panjang melalui perkembangan mikroorganisme tanah yang lebih baik dan pemenuhan unsur-unsur hara mikro yang secara nyata memperbaiki kualitas beras yang dihasilkan. Beberapa demplot yang dilaksanakan dengan metode konvensional oleh Departemen Pertanian, menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kandang ternak sapi yang tercampur dengan urine sapi (takaran 2 ton/ha) dengan 50% dosis penggunaan pupuk kimia secara nyata meningkatkan produksi padi sekitar 25% sampai 40% dengan kualitas beras yang lebih baik.
.

Minggu, 14 Maret 2010

Pertumbuhan dan Hasil Padi SRI

Bagi yang belum melihat hasil budidaya padi SRI (System of Rice Intensification), pertumbuhan awal nampak lebih kecil atau lambat dibanding dengan cara budidaya konvensional. Hal ini bisa dimaklumi karena pada metode SRI, bibit yang ditanam adalah bibit muda (5 - 10 hari) sehingga membutuhkan waktu penyesuaian lingkungan yang lebih lama, selain itu faktor pemberian air secara intermitten (terputus-putus) membuat pertumbuhan awal lebih tertekan. Hal ini berlangsung sampai umur sekitar 60 hari, dimana tinggi tanaman baru bisa menyamai tinggi tanaman padi dengan metode konvensional.

Akan tetapi, berbeda dengan tinggi tanaman, jumlah anakan dengan metode SRI melampaui jumlah anakan metode konvensional pada umur 30 hari setelah tanam. Rupanya, pengeringan lahan berpengaruh lebih baik pada perkembangan anakan daripada pertumbuhan tinggi tanaman.

Jumat, 26 Februari 2010

Pemupukan dan Penyiangan Budidaya Padi SRI (ilustrasi)

Pemupukan.

Pada prinsipnya, pemupukan yang dianjurkan adalah yang sesuai dengan anjuran dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan setempat. Hal ini karena anjuran tersebut merupakan hasil analisis kebutuhan setempat, oleh karenanya merupakan takaran yang paling sesuai untuk daerah setempat. Sangat dianjurkan pemupukan dilakukan dalam 3 tahap sesuai umur dan pertumbuhan padi. Dapat pula menggunakan bagan warna daun sebagai penentu waktu pemupukan yang tepat. Selain itu, dianjurkan pula menggunakan pupuk kandang atau kompos, baik sebelum tanam (saat pengolahan tanah) maupun setelah tanam (10 - 20 hst) dengan cara ditabur. Beberapa tahun terakhir ini, pemakaian pupuk bersalut (termasuk kategori slow release fertilizer; pupuk yang dibuat sedemikian agar lambat terurai di tanah) memberikan hasil yang lebih baik pada lahan beririgasi.

Selasa, 23 Februari 2010

Pengolahan Tanah dan Penanaman Padi SRI (ilustrasi)

Pengolahan Tanah

Seperti pada budidaya padi konvensional, pengolahan tanah pada Budidaya Padi SRI dilakukan sesuai petunjuk penuluh lapangan, dengan menggunakan cangkul, kerbau atau traktor. Kedalaman olah tanah yang paling dianjurkan adalah 25 sampai 30 cm. Setalah dibajak, dilakukan penggaruan untuk melumatkan agregat tanah sehingga melumpur. Saat penggaruan ini merupakan saat yang baik untuk menaburkan pupuk kandang atau kompos apabila dikehendaki. Langkah terakhir adalah meratakan muka tanah sesuai rata muka air agar tinggi muka air terhadap tanaman merata di seluruh petakan (hal ini untuk menciptakan lingkungan mikro yang seragam). Pada sistem SRI, setiap petakan dibuat parit keliling dan tengah (tergantung lebar lahan) utuk membantu proses pengeringan lahan secara berkala. Hal ini terutama diperlukan pada lahan-lahan beririgasi teknis yang kadang sulit untuk dilakukan pengeringan saat pintu air irigasi terbuka.

Jumat, 19 Februari 2010

Persiapan Bibit Padi SRI (Ilustrasi)

Langkah-langkah persiapan benih padi dengan menggunakan metoda SRI (System of Rice Intensification) :
  1. Buat larutan air garam dalam ember untuk perendaman benih padi
  2. Gunakan telur itik sebagai indikator konsentrasi larutan garam ; apabila telur itik mengapung dalam larutan tersebut, maka konsentrasi garam telah dianggap cukup / sesuai.
  3. Benih dimasukkan ke dalam larutan garam tersebut (kebutuhan benih sekitar 5 kg/ha)
  4. Benih diaduk secara perlahan selama 1 - 2 menit.
  5. Diamkan selama kurang lebih 10 - 15 menit sampai benih yang baik dan yang jelek terpisah. Benih baik akan tenggelam, sedangkan benih jelek akan terapung
  6. Benih yang mengapung disisihkan dengan menggunakan saringan.
  7. Benih tenggelam diambil dan dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan sisa garam yang menempel.
  8. Benih yang terpilih kemudian direndam dalam air bersih selama 24 - 48 jam (1 -2 hari)
  9. Benih kemudian ditiriskan (diangin-anginkan di tempat teduh yang terlindung) selama 1 - 2 hari sampai berkecambah.

Jumat, 12 Februari 2010

Prinsip Budidaya Padi SRI


Seperti pada postingan terdahulu, SRI atau System of Rice Intensification tertumpu pada 4 hal pokok yaitu :
  1. Menanam bibit muda (5 – 15 hari setelah semai)
  2. Menanam 1 bibit pertitik tanam
  3. Mengatur jarak tanam lebih lebar (30 x 30 cm sampai 50 x 50 cm ; di Indonesia, jarak tanam ideal untuk SRI adalah 35 x 35 cm atau 35 x 35 cm)
  4. Manajemen pengairan yang super hemat dengan cara intermitten (terputus ; berselang seling antara pemberian air maksimal 2 cm dan pengeringan tanah sampai retak).
Selain keempat hal tersebut, sangat dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik. Pupuk organik selain menyediakan unsur hara yang lengkap (makro dan mikro) juga memperbaiki struktur tanah sehingga meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman, udara yang cukup bagi perakaran, dan meningkatkan daya ikat air tanah.

Minggu, 24 Januari 2010

Teknologi Budidaya Jagung

Tanaman jagung merupakan tanaman pangan kedua setelah padi yang pada umumnya ditanam pada awal musim kemarau atau musim tanam ke-2 atau ke-3. Di lahan kering, jagung juga merupakan tanaman penting karena 75% lahan kering di Jawa Timur maupun di daerah lainnya di Indonesia pada musim penghujan ditanami jagung, dan untuk lahan sawah dalam pola tanam padi-padi palawija atau padi palawija-palawija, jagung merupakan prioritas untuk tanaman palawija disamping kedelai.

Secara nasional, jagung juga merupakan target swasembada pangan karena merupakan bahan utama bagi industri pakan ternak.

Sampai saat ini masih dijumpai beberapa permasalahan yang dihadapi petani jagung dalam memenuhi target produksi nasional, yaitu antara lain :
  1. Penggunaan varietas unggul yang berdaya hasil tinggi, baik yang bersari bebas maupun hibrida masih terbatas.
  2. Di beberapa daerah khususnya pada lahan kering petani masih banyak yang menggunakan jarak tanam yang tidak teratur
  3. Pemupukan pada umumnya belum didasarkan atas ketersediaan unsur hara dalam tanah dan kebutuhan tanaman. Umumnya petani memupuk dengan dosis yang beragam sesuai dengan kemampuan keuangannya masing-masing dan tidak diimbangi dengan pemupukan P dan K.
Dengan penerapan teknologi usahatani spesifik lokasi, potensi usahatani jagung akan memberikan hasil yang cukup tinggi secara ekonomi.

TEKNOLOGI YANG DIANJURKAN

1. Varietas Unggul
Beberapa varietas unggul dapat digunakan sebagai alternatif. Untuk daerah-daerah tertentu yang lebih menyukai varietas lokal karena alasan rasa dan umur panen, varietas lokal masih dapat ditanam tetapi cara budidaya-nya harus diperbaiki.

Tabel 1. Varietas jagung bersari bebas dan hibrida unggul yang dilepas dalam kurun waktu 1980 - 1999
A. Varietas bersari bebas:
Varietas
Umur Panen (hari)
Potensi hasil (t/ha)
Tahun Pelepasan
1. Arjuna
90
4,3
1980
2. Wisanggemi
90
6.0
1995
3. Bisma
96
6.5
1995

97
6,5
1997

B. Varietas Hibrida
Varietas
Umur Panen (hari)
Potensi hasil (t/ha)
Tahun Pelepasan
1. C-2
97 
6,7
1989
2. C-3
95
6,4
1992
3. CPI-2
97
6,2
1992
4. Semar-3
98
6,4
1992
5. BISI-1
92
7,0
1995
6. BISI-1
103
8,9
1995
7. Semar-3
100-105
8,5
1996
8. Semar-6
96
9,0
1996
9. Semar-7
100
8,8
1996
10. Semar-8
100
8,8
1996
11. Semar-9
100
9,0
1996
12. Semar-4
90
8,5
1999
13. Semar-5
98
9,0
1999
14. Semar-6
98
9,0
1999
15. Semar-7
98
9,0
1999
16. Semar-8
94
9,0
1999
17. Semar-9
95
8,5
1999
Keterangan : Varietas-varietas tersebut tahan terhadap penyakit bulai dan karat daun.

2. Pengolahan Tanah
Pada tanah berat dengan struktur mantap pengolahan tanah dilakukan 2 kali, sedang untuk tanah ringan (porous) seperti tanah Alfisol, Regosol, Etisol, dan Oxixol, dapat dilakukan pengolahan tanah minimum, yaitu pengolahan tanah sepanjang baris tanaman atau tanpa pengolahan tanah dan hanya dilakukan pendaringan (pengguludan) pada saat tanaman berumur sekitar 25 hari.

3. Cara Tanam
Cara tanam diusahakan dengan jarak yang teratur, baik dengan ditugal maupun mengikuti alur bajak. Populasi tanaman optimal berkisar antara 62.500 - 100.000 tanaman/ha, dengan jarak tanam 75 cm x 40 cm, 2 tanaman /lubang atau 75 cm x 20 cm,1 tanaman/lubang. Untuk varietas lokal pada musim penghujan jarak tanam 75 cm x 30 cm,2 tanaman/lubang. Untuk jagung hibrida, jarak tanam 75 cm x 20 cm, 1 tanaman/lubang dapat memberikan pertumbuhan dan hasil produksi yang lebih baik. Penanaman dapat juga dilakukan dengan sistem dua baris (double row), yaitu jarak tanam (100 cm x 50 cm) x 20 cm dengan 1 tanaman/lubang.

4. Pemupukan
Cara pemupukan ditugal ± 7 cm disekitar tanaman atau goretan (parit) yang dibuah disamping tanaman sepanjang barisan, setelah pupuk diberikan kemudian ditutup. Semua dosis SP-36 dan KCI dan 1/3 dosis urea diberikan saat tanam, 2/3 bagian urea diberikan pada umur 4 minggu. Apabila menggunakan urea tablet, pupuk diberikan pada umur tanaman 10 hari. Dosis pupuk disesuaikan dengan Brosur Acuan Rekomendasi Pemupukan Spesifik Lokasi Untuk Jagung yang dikeluarkan oleh Dinas Tanaman Pangan Setempat. Sebagai contoh acuan, untuk daerah Jawa Timur telah dikeluarkan rekomendasi seperti Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Dosis pupuk yang disarankan di tiap tingkat II Jawa Timur
No. Daerah Tingkat II
Dosis Pupuk (kg/ha)

Urea
SP-36
KCI
1. Kodya Surabaya
300
100
50
2. Gresik
300
100
100
3. Tuban
300
100
100
4. Lamongan
300
100
100
5. Sidoarjo
300
100
50
6. Mojokerto
250-300
100
50
7. Jombang
250-300
100
100
8. Bojonegoro
250
100
100
9. Madiun
300
100
100
10. Magetan
200-300
100
100
11. Ngawi
200-300
100
100
12. Ponorogo
300
100
50
13. Pacitan
300
100
50
14. Kediri
250-300
100
50
15. Nganjuk
300
100
100
16. Blitar
300
100
100
17. Tulungagung
300
100
100
18. Trenggalel
300
100
100
19. Malang
200-300
100
50
20. Pasuruan
300
100
100
21. Probolinggo
250
100
100
22. Lumajang
250-300
100
50
23. Bondowoso
300
100
50
24. Situbondo
300
100
50
25. Jember
300
100
50
26. Banyuwangi
300
100
50
27. Pamekasan
250-300
100
50
28. Bangkalan
200-250
100
50
29. Sampang
200-250
100
50
30. Sumenep
200-250
100
50
Keterangan : Penambahan pupuk kandang 5 ton/ha sangat dianjurkan.

5. Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan dilakukan 2 kali, penyiangan I pada umur 10-15 hari dan penyiangan ke II pada umur 25-28 hari bersamaan dengan dilakukannya pembumbunan dan pemupukan ke II. Pada daerah yang sulit tenaga kerja, gulma dapat dikendalikan dengan penyemprotan herbisida pra tumbuh seperti a.l : Goal, Saturn-D, Gramaxone, Command, Ronstar dll. Dengan dosis sesuai anjuran Coammad.

6. Pengendalian Hama dan Penyakit
Dilakukan dengan menerapkan kaidah pengendalian hama terpadu (PHT) yang komponen-nya terdiri dari penanaman varietas tahan pengelolaan kultur teknis yang tepat dan penggunaan pestisida. Pengendalian lalat bibit : dengan Karbofuran (misal : Furadan, Dharmafur, Regent dll). Karbofunen diberikan 4-5 butir bersamaan tanam ditempatkan dalam lubang tanaman. Pengendalian Penggerek Pucuk dengan Karbofuran ditempatkan pada titik tumbuh. Pengendalian penyakit Bulai dengan menggunakan varietas tahan dan perlakuan benih 5 gram Ridomil setiap 1 kg benih.

7. Panen
Panen dilakukan setelah biji pada tongkol masak yang ditandai dengan terbentuknya lapisan hitam pada lembaga dan tongkol telah menguning.


Sumber :
Rakitan Paket Teknologi untuk mendukung Program peningkatan produksi jagung di Jawa Timur SATPEL Bimas Propinsi Jawa Timur 1996
Penyusun
Ir. Gede N. Wirawan
Ir. Moh. Ismail Wahab.
Sumber Dana
Proyek Pembinaan Pembangunan Pertanian Terpadu di
Kabupaten/Dati II se Jawa Timur Th. 1999/2000
Diproduksi : IPPT Wonocolo
.
.

Senin, 04 Januari 2010

Pemupukan Urea Pada Padi Sawah Irigasi Dengan Bagan Warna Daun (BWD)

Rekomendasi Teknologi Spesifik Lokasi


BWD adalah sejenis alat yang terdiri dari 6 skala warna mulai dari hijau kekuningan (skor 1) sampai hijau gelap (skor 6) yang secara tidak langsung mencerminkan kandungan klorofil daun dan status nitrogen pada tanaman.

1/3 bagian urea yang biasanya diberi- kan bersamaan pupuk dasar P dan K, tidak dilakukan bila produksinya >3 ton/ha. Bila produksinya <3 ton/ha diberi pupuk urea sebanyak 1/3 bagian bersamaan pemupukan SP36 dan KCl. Pemberian urea selanjutnya disesuaikan dengan analisa menggunakan bagan warna daun (BWD). Penentuan sampel pengamatan adalah 5 rumpun per petak secara acak yaitu 1 rumpun di tengah dan 4 rumpun di pojok. Pilih daun yang paling tinggi lalu bandingkan dengan pita warna pada BWD.


^






^














^














^






^

Catat skor warna dari lima helaian daun terpilih, lalu dirata-ratakan. Bila skor warna daun <3 untuk padi TABELA atau <4 untuk padi TAPIN, segera dipupuk urea. Pengukuran dilakukan tiap 7-10 hari dimulai sejak umur tanaman 14 hari. Pengukuran sebaiknya pagi hari, sewaktu pengukuran lindungi daun dari sinar matahari karena akan mempengaruhi pembacaan warna.

clip_image003

Hasil pengkajian:
Skor 1, EA = 23,67
Skor 2, EA = 28,14
Skor 3, EA = 27,00
Skor 4, EA = 32,69
Skor 5, EA = 24,63
BWD skor 4 menunjukkan Efisiensi Agronomi (EA) tertinggi, yaitu 32,69 kg gabah/1 kg N.

clip_image005
Sumber: BPTP Sumatera Utara
.
.

Senin, 30 November 2009

TRANSGENIK YANG MASIH KONTROVERSIAL

Produk pertanian transgenik sampai sekarang masih menjadi polemik karena penelitian mendalam mengenai dampaknya secara menyeluruh belum mendapatkan kesimpulan yang pasti dan terekomendasi oleh badan yang berwenang. Sementara itu, produk pertanian transgenik terus berkembang dengan label aman konsumsi.

Berikut pendapat ahli transgenik yang dilaporkan dalam tempointeraktif.com :

Kamis, 20 Agustus 2009 | 09:28 WIB

Menurut Kepala Bidang Penelitian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Ilyani S. Andang, sebagian besar produk kedelai yang diimpor Indonesia adalah produk transgenik. Ilyani mencatat bahwa 60 persen perdagangan pangan transgenik di dunia saat ini didominasi komoditas kedelai, sedangkan produk seperti jagung dan kapas secara berurutan sebesar 23 persen dan 11 persen. "Keamanan produk transgenik masih dipertanyakan," ujarnya saat menyajikan presentasi dalam Diskusi Polemik Transgenik di Sekretariat Lembaga Swadaya Masyarakat Satu Dunia, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Lalu apa itu produk transgenik? Ketua Program Studi S2 Bioteknologi Tanah dan Lingkungan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Dr Ir Dwi Andreas Santosa menjelaskan, produk transgenik adalah produk yang berasal dari organisme hasil rekayasa genetik. Produk tersebut bisa berupa pangan yang berasal dari tanaman transgenik atau enzim yang berasal dari mikroba transgenik.

Kemudian organisme transgenik adalah organisme yang telah disisipi gen yang berasal dari organisme lain. Misalnya tanaman kedelai Bt transgenik, yaitu tanaman kedelai yang melalui proses rekayasa genetik yang memiliki gen penghasil pestisida dari bakteri Bacillus thuringiensis. Menurut Andreas, dari hasil kajiannya pada 2001-2009, semua tempe dan tahu serta sebagian besar susu kedelai adalah produk transgenik.

Soal keamanannya, pria pembuat tebu transgenik PS-IPB 1 ini menyatakan masyarakat tidak perlu risau. Setiap produk transgenik, sebelum ditanam dalam skala komersial, seperti di Amerika, sudah lolos uji keamanan pangan. Artinya, produk tersebut aman untuk dikonsumsi manusia. Sepanjang yang dia tahu, seluruh produk transgenik yang dikonsumsi masyarakat sudah melalui proses uji keamanan pangan di negara produsennya. "Meski belum tahu juga jika dikonsumsi dalam jangka panjang dan dalam jumlah banyak, " ujarnya dalam kesempatan terpisah.

Ilyani mengungkapkan, sebuah studi di Inggris menemukan bahwa pangan transgenik itu ternyata bisa menyebabkan manusia menjadi alergi. Dalam makalahnya, dia melihat produk transgenik juga bisa menyebabkan transfer penanda antibiotik dan efek potensial lain pada manusia yang tidak diketahui. Malah, dari beberapa literatur yang dia dapat, tercatat produk transgenik mengakibatkan kanker dan kematian pada tikus percobaan. "Belum lagi dampaknya pada lingkungan," perempuan berjilbab ini menjelaskan.

Masalah lain, produk transgenik belum pernah diuji keamanannya dan tidak diberi label oleh otoritas pengawas makanan di Indonesia. Karena itu, alumnus teknologi lingkungan Institut Teknologi Bandung ini mengimbau masyarakat memilih produk kedelai dalam negeri saja, dengan menilik banyaknya negara Eropa yang menolak hasil budidaya pangan transgenik. "Negara di Eropa dan Jepang telah memberi label produk transgenik," tutur Ilyani.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), seperti dikatakan Kepala Subdirektorat Pengawasan Penandaan dan Promosi Produk Terapeutik dan Produk Kesehatan Rumah Tangga BPOM Tuning Nina, belum memutuskan untuk berbuat apa pun. Pada intinya, menurut dia, sampai kini status keamanan produk tersebut belum jelas alias masih labil. "Ada pengkajiannya, namun sampai sejauh apa dan bagaimana, saya belum tahu. Tanyakan saja kepada yang menangani di BPOM," katanya.

Sesungguhnya badan tertinggi di Indonesia yang mengawasi dan mengatur tentang produk transgenik adalah Komisi Keamanan Hayati yang dibentuk oleh negara. Sayangnya, komisi tersebut hingga kini (usianya telah mencapai tiga tahun) belum juga disahkan presiden. Di dunia, ada dua lembaga internasional yang mengatur secara umum mengenai produk transgenik ini, yaitu World Health Organization dan Food and Agriculture Organization. Menurut Andreas, yang banyak mendalami isu-isu mengenai pangan transgenik, kedua lembaga internasional tersebut menganut konsep substantial equivalent. Artinya, pengujian dan pengaturan diserahkan kepada negara produsen masing-masing yang sesuai dengan standar ilmiah yang sudah disepakati.

Lebih dalam, temuan Yayasan Satu Dunia mencatat, pada 2000 sebanyak 90 organisasi masyarakat menggugat Badan Pangan dan Obat (FDA) Amerika Serikat karena badan itu menyembunyikan dokumen tentang efek samping serta kematian yang berkaitan dengan penggunaan hewan transgenik. Malah, menurut Firdaus Cahyadi, aktivis Yayasan Satu Dunia, ada upaya penghalusan istilah kata untuk mengganti istilah rekayasa genetik menjadi modifikasi. Sebab, istilah rekayasa terdengar kurang ramah dan menakutkan.

Di negara lain, seperti Austria, 1,2 juta orang mewakili 20 persen pemilih menandatangani petisi untuk melarang peredaran pangan hasil rekayasa genetik. Sementara itu, di Jerman, sebanyak 95 persen konsumen menolak makanan transgenik. Lantas bagaimana dengan Indonesia? 

Sederet Kontroversi Produk Transgenik

  1. Dampak terhadap kesehatan manusia: alergi, transfer penanda antibiotik, dan efek potensial yang tidak diketahui.
  2. Dampak pada lingkungan: transfer gen yang tidak dikehendaki, penyerbukan silang, efek pada mikroba tanah, serta penyusutan keanekaragaman hayati flora dan fauna.
  3. Pelanggaran nilai intrinsik organisme alami.
  4. Melawan sistem alamiah karena mencampurkan gen berbagai spesies.
  5. Dominasi produksi pangan dunia oleh beberapa perusahaan.
Sumber: Kepala Bidang Penelitian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Ilyani S. Andang.
HERU TRIYONO

Sementara itu, Prof Dr Ali Khomsan Dosen Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga IPB memberikan opini ilmiahnya sebagai berikut : 

Dampak Gizi dan Kesehatan pada Pangan Transgenik

Selama beberapa abad, variasi konsumsi pangan manusia terus mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan teknologi. Pemuliaan tanaman dengan cara tradisional, teknik mutasi, dan rekombinan DNA telah dilakukan untuk meningkatkan mutu gizi dan menghasilkan sifat-sifat tanaman tertentu yang dikehendaki. Tiga puluh tahun yang lalu, cara pemuliaan telah dipraktikkan untuk menghilangkan kandungan asam lemak yang tak diinginkan, yaitu erucic acid pada tanaman canola. Akhirnya, diperoleh minyak canola yang mempunyai profil asam lemak yang lebih baik.
Semakin meningkatnya gairah untuk menghasilkan pangan fungsional yang berguna untuk kesehatan akan semakin mendorong perkembangan teknologi rekayasa genetik. Modifikasi genetik pada tanaman kini sudah mengarah pada tanaman-tanaman pangan. Perubahan karakteristik gizi tanaman yang mungkin terjadi akan berdampak pada kesehatan masyarakat. Sebagai contoh, kini telah dapat dihasilkan kentang yang mengandung kadar pati lebih tinggi, mempunyai kemampuan menyerap lemak yang lebih rendah, dan tekstur yang baik. Di masa-masa mendatang mungkin akan semakin banyak bermunculan pangan rekayasa genetika yang memang diciptakan untuk membantu mengatasi sebagian masalah kesehatan masyarakat.
Varietas padi yang telah mengalami modifikasi genetik akan menghasilkan beras yang mengandung beta-karoten. Defisiensi vitamin A di negara-negara sedang berkembang masih menjadi masalah gizi utama. Oleh sebab itu, dikembangkannya beras kaya beta-karoten akan mempercepat pemulihan kondisi kurang gizi yang diderita masyarakat. Kedelai sebagai bahan baku minyak goreng direkayasa sehingga kandungan lemak jenuhnya menjadi lebih rendah dan meningkat kandungan lemak tak jenuhnya, terutama asam lemak oleat. Karakteristik gizi yang lebih baik ini akan bermanfaat untuk menangkal risiko kolesterol tinggi atau penyakit jantung koroner. Jadi, dalam hal ini peran kedelai sebagai bahan baku pangan fungsional semakin meningkat.
Upaya menghasilkan beras transgenik yang rendah glutelin ternyata pada saat bersamaan memunculkan karateristik lain, yaitu meningkatnya kandungan prolamin. Rendahnya glutelin berdampak positip pada protein yang tersimpan pada beras (rice protein storage). Namun, meningkatnya prolamin akan mengakibatkan perubahan kualitas gizi dan bahaya alergi bagi siapa pun yang mengonsumsinya.
Tampaknya, jalan yang harus ditempuh oleh pangan transgenik untuk sepenuhnya bisa diterima oleh masyarakat masih relatif panjang. Upaya untuk memperbaiki mutu gizi pangan melalui modifikasi genetik seyogianya harus meminimumkan kemungkinan munculnya zat gizi/nongizi lain yang tidak dikehendaki. Kalau saat ini telah dapat dihasilkan kedelai kaya lysine (salah satu asam amino esensial), maka ternyata dampak ikutannya adalah kadar lemak kedelai menjadi turun. Hal ini jelas tidak dikehendaki, apabila maksud dikembangkannya tanaman kedelai adalah sebagai bahan baku minyak goreng. Demikian pula beras kaya beta-karoten, menghasilkan karakteristik ikutan berupa meningkatnya xantophyll.
Perubahan komposisi gizi ini hendaknya diperhatikan oleh negara-negara yang akan mengizinkan masuknya pangan transgenik. Diperlukan kesiapan perangkat lunak dan perangkat keras untuk menguji keamanan pangan dan dampak kesehatan yang mungkin muncul akibat membanjirnya pangan rekayasa genetika di masa-masa yang akan datang.
Untuk mengetahui perubahan karateristik kimiawi yang terjadi pada pangan transgenik diperlukan alat deteksi gizi yang canggih. Pada kasus beras rendah glutelin, meningkatnya kadar prolamin yang tidak dikehendaki sulit dideteksi dengan analisis gizi biasa, seperti yang digunakan untuk mengetahui kandungan protein total dan profil asam amino.
Prolamin baru akan kelihatan bila dianalisis dengan SDS gel electrophoresis. Sementara, munculnya xantophyll pada beras kaya beta-karoten bisa dideteksi dengan analisis HPLC. Jadi, penting untuk diperhatikan bahwa analisis gizi yang tepat diperlukan untuk mendeteksi perubahan-perubahan yang tidak diharapkan pada pangan transgenik.
Dengan menyadari kemungkinan berubahnya susunan gizi pada pangan transgenik, maka hal ini akan berdampak pada status gizi dan kesehatan masyarakat. Dampak yang pertama, terkait dengan terjadinya perubahan zat gizi yang dikehendaki pada pangan rekayasa genetika. Yang kedua, berhubungan dengan masalah munculnya/meningkatnya komponen kimiawi lain yang tidak dikehendaki sebagai akibat ikutan dilakukannya modifikasi genetik. Untuk itu diperlukan ahli toksikologi dan ahli gizi untuk mengevaluasi potensi gangguan kesehatan yang mungkin muncul apabila seseorang mengonsumsi pangan transgenik.
Mungkin sekali bahwa perubahan kadar gizi ini bukan hanya akibat proses rekayasa genetik, tetapi juga akibat proses pemuliaan tanaman secara konvensional, seperti ketika kita menghasilkan semangka tanpa biji. Pada intinya, kemajuan teknologi mungkin tidak bisa dihambat, namun yang lebih penting dan lebih bijaksana adalah pemanfaatan teknologi tinggi ini jangan sampai membahayakan masyarakat.
Konsumen perlu menyadari bahwa pangan transgenik, yang mempunyai kandungan gizi berbeda dengan pangan nontransgenik, akan ikut menentukan status gizi seseorang. Dengan rekayasa genetik dapat dihasilkan kedelai dengan kandungan asam lemak oleat 80-90 persen. Selama ini kita mengenal sumber oleat yang tinggi adalah zaitun (70%). Selanjutnya, kedelai menjadi bahan baku pangan sehari-hari, misalnya untuk industri minyak goreng, tahu, dan tempe. Hal ini memunculkan pertanyaan, adakah kemungkinan masyarakat konsumen kedelai akan mengonsumsi gizi oleat secara berlebihan? Mungkin sekali pola makan masyarakat tidak berubah, namun dengan dikenalkannya produk pangan transgenik, maka komposisi gizi yang masuk ke dalam tubuhnya sudah berubah.
Mengingat teknologi modifikasi genetik masih relatif baru, maka hasil-hasil temuannya memunculkan pro-kontra di mana-mana. Pendukung dan penentangnya mungkin sama banyaknya. Yang penting adalah bahwa riset-riset harus tetap diteruskan agar hasil teknologi baru ini bisa bermanfaat bagi umat manusia. Meningkatnya kandungan gizi pada produk transgenik tidak begitu saja dapat dipakai sebagai tolok ukur keberhasilan. Ada pertanyaan yang masih harus dijawab menyangkut bagaimana bioavalibilitas zat gizi pada pangan transgenik. Apakah zat gizi tersebut tetap stabil seiring dengan berjalannya waktu akibat penyimpanan dan pemrosesan?
Dampak kesehatan berupa munculnya alergi sering disinggung dalam pembahasan pangan transgenik. Dalam kasus tanaman kedelai yang tahan glyphosate (herbisida), maka sebenarnya yang dilakukan adalah memasukkan protein baru (atau enzim). Datangnya protein baru ini berpotensi untuk menyebabkan alergi. Pernah dilakukan penelitian untuk membandingkan respons alergi pada konsumen pangan yang dibiakkan secara tradisional dan pangan transgenik. Hasilnya menunjukkan bahwa pangan transgenik mengakibatkan insiden alergi yang lebih tinggi.
Mereka yang membela pengembangan pangan transgenik tidak kalah banyak jumlahnya. Pernyataan mereka juga mempunyai landasan ilmiah. Dikatakan bahwa kita setiap hari terekspos dengan DNA (pembawa sifat pada gen) asing yang berasal dari makanan yang kita konsumsi, dan dari mikroorganisme di sekitar lingkungan kita. DNA bukanlah substansi kimiawi yang bersifat racun.
Kekhawatiran bahwa DNA dari pangan transgenik akan masuk ke dalam sel manusia, mungkin terjadi dan mungkin juga tidak. Hal ini dilandasi oleh pakta bahwa saluran cerna manusia merupakan sistem yang efisien. DNA yang masuk ke saluran cerna segera dipecah-pecah sehingga menjadi bagian yang sangat kecil dan sulit untuk difungsikan kembali. Dengan demikian, DNA diperkirakan tidak akan masuk ke dalam sel manusia, meski pecahan-pecahan DNA tadi mungkin diserap oleh bakteri di saluran cerna. Tikus percobaan yang diberi DNA bebas (diperoleh dari bacteriophages) memang menyebabkan terjadinya transfer DNA pada sel tikus. Akan tetapi, apabila DNA tersebut berasal dari makanan, tampaknya belum ada bukti yang cukup yang menyatakan terjadinya transfer DNA.
Deteksi bahwa pangan transgenik akan menyebabkan penyakit kronis (kanker, hipertensi, penyakit jantung koroner) perlu dilakukan untuk menjamin bahwa konsumen tidak semakin menghadapi risiko kesehatan yang tidak diinginkan. Pendukung pangan transgenik mempunyai alasan bahwa transfer gen dari produk pangan transgenik ke sel manusia adalah sulit, maka kemungkinan pangan transgenik ini menjadi penyebab penyakit kronis adalah kecil.
Publikasi FAO/WHO (2000), antara lain menyimpulkan bahwa masalah yang mungkin muncul dari dampak jangka panjang konsumsi pangan yang dimodifikasi gennya, masih sangat sedikit diketahui. Oleh sebab itu, tepat kiranya kalau pemerintah harus bersiap diri merumuskan kebijakan yang tidak sekadar melarang atau membolehkan masuknya pangan transgenik. Diperlukan pula alasan-alasan ilmiah yang valid yang melandasi dikeluarkannya suatu kebijakan menyangkut pangan transgenik ini.
Di lain pihak, industri yang berkecimpung dalam teknologi rekayasa genetik juga dituntut kejujurannya serta tanggung jawab moral yang tinggi untuk menghasilkan pangan yang aman bagi masyarakat.
Desain riset untuk membuktikan keamanan pangan produk transgenik harus dirancang secara baik, dan hasilnya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah sebagai ajang pertukaran informasi ilmiah dengan ilmuwan lain yang mungkin mempunyai pandangan berbeda. Sosialisasi melalui media massa juga diperlukan agar semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa hasil teknologi modifikasi genetik kini sudah ada di sekitarnya. Hal ini merupakan salah satu cara untuk membangun critical mass sehingga masyarakat konsumen dan produsen pangan transgenik mempunyai posisi tawar yang sederajat.

Minggu, 15 November 2009

KEHILANGAN HASIL PRODUKSI PADI

Dalam rangka mempertahankan swasembada beras tahun 2008, selain produksi dan produktifitas, pemerintah juga memberikan perhatian khusus kepada teknologi paska panen. Permasalahan utama yang dijumpai pada penanganan paska panen adalah masih tingginya nilai susut produksi karena penggunaan teknologi yang belum efisien. Saat ini, kehilangan hasil produksi beras masih mencapai angka di atas 20%. Salah satu faktor kehilangan hasil yang paling tinggi adalah pada proses pemanenan dan perontokan yang masih mencapai angka 14%. 6% lebih kehilangan terjadi pada proses penggilingan dan pengangkutan.

Kehilangan hasil pada saat panen yang umumnya disertai proses perontokan terjadi karena beberapa faktor yang diantaranya adalah :
  1. Tidak tepatnya umur panen atau tingkat kematangan ideal bulir padi saat panen yang menyebabkan rendahnya rendemen dan meningkatnya bulir rontok saat panen.
  2. Masih sedikitnya penggunaan sabit bergerigi atau mesin panen sebagai alat panen sehingga meningkatkan bulir rontok saat panen.
  3. Masih banyaknya perontokan secara manual dimana faktor kehilangan lebih disebabkan tercecernya bulir padi. Mekanisasi proses perontokan secara signifikan mengurangi persentase kehilangan hasil.
Kehilangan hasil juga terjadi saat penggilingan dimana banyak mesin penggilingan yang dioperasionalkan tidak memenuhi standar sehingga kualitas yang dihasilkan cukup rendah. Para pengusaha penggilingan juga masih banyak yang tidak memperhatikan faktor kecepatan putaran mesinnya yang ideal untuk menghasilkan beras yang paling baik. Umumnya, kualitas rendah disebabkan masih tingginya persentase beras pecah dan tertinggalnya kulit ari pada beras. Hal ini memerlukan proses sortasi ulang untuk menghasilkan beras yang lebih berkualitas. Dengan kualitas giling beras yang rendah, rendemen antara gabah kering dengan beras berkualitas menjadi rendah. Saat ini, rata-rata tingkat rendemen padi adalah 61% (kg beras yang dihasilkan per kg gabah kering giling), padahal idealnya dapat mencapai 65% pada tingkat kekeringan gabah standar.

Kehilangan lainnya terjadi pada saat pengangkutan, yaitu sekitar 1-2%. Penyebabnya selain faktor manusia juga terjadinya kebocoran pada karung. Pengujian kualitas beras pada pedagang besar saja sudah mengjhilangkan tonase beras sekitar 1/3 kg per kuintal pada saat disosok untuk “pengujian”.
Berapa kehilangan hasil padi nasional ? 20 % yang setara dengan 11 juta ton GKG atau bila menggunakan harga standar Rp. 2.000,- perkilogram nilainya setara dengan 22 milyar rupiah. Sungguh ini merupakan angka yang sangat tinggi.

Sejak 2007, pemerintah telah memprogramkan peningkatan produksi beras nasional sebesar 5% pertahun dalam rangka sawasembada beras. Target ini dapat dicapai bukan hanya karena peningkatan produktifitas lahan, akan tetapi juga harus disertai dengan pengurangan persentase kehilangan hasil panen.

Lantas apa yang sedang digalakkan oleh pemerintah untuk mendukung program tersebut ? Selain sosialisasi melalui penyuluh, pemerintah juga telah menjalankan program bantuan mekanisasi pertanian khususnya untuk tanaman pangan, terutama padi. Diantaranya adalah bantuan power tresher secara bertahap kepada kelompok tani, baik secara langsung maupun terintegrasi dalam program seperti PNPM Mandiri (PUAP).




Baca pula :

Produksi Beras Nasional Naik Lima Persen

EL NINO, ANCAMAN TERHADAP PRODUKSI PADI NASIONAL

Produksi Beras Nasional Sudah Mencukupi

Sabtu, 07 November 2009

KHASIAT BUNGA ROSELLA YANG LUAR BIASA

Tanaman Rosella memiliki lebih dari 300 spesies yang tersebar pada daerah tropis dan non tropis. Biasanya, digunakan sebagai tanaman hias dan beberapa diantaranya dipercaya memiliki kasiat medis, salah satu diantaranya adalah rosella merah atau rosella (Hibiscus Sabdariffa L.). Nama lain rosella adalah Hibiscus Sabdariffa L., H. Sabdariffa varaltissima, Rozelle, Red Sorrel, Sour-sour, Lemon bush, Florida cranberry, Oseille rouge (Perancis), Quimbombo Chino (Sepanyol), Karkad (Afrika Utara), Bisap (Senegal).

Pohon Roselle adalah sejenis perdu yang mudah ditaman. Cara penanamannya dengan menggunakan biji yang kering kemudian disemai.

Pada tahun 2006, dilakukan penelitian tentang manfaat medis dari rosela merah dan diperoleh hasil terdapat 1,7 mmmol/prolox antioksidan. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan kumis kucing yang antioksidannya teruji klinis meluruhkan batu ginjal. Menurut penelitian Ballitas Malang, bunga rosella, terutama dari tanaman yang berkelopak bunga tebal (juicy), misalnya Rosela Merah berguna untuk mencegah penyakit Kanker dan Radang, mengendalikan tekanan darah, melancarkan peredaran darah dan melancarkan buang air besar.

Kelopak bunga Rosela dapat diambil sebagai bahan minuman segar berupa sirup, teh, selai, dan minuman, terutama dari tanaman yang berkelopak bunga tebal, yaitu Rosela Merah. Kelopak bunga tersebut mengandung vitamin C, vitamin A, dan asam amino. Asam amino yang diperlukan tubuh, 18 diantaranya terdapat dalam kelopak bunga Rosela, termasuk arginin dan legnin yang berperan dalam proses peremajaan sel tubuh. Selain itu, Rosela juga mengandung protein dan kalsium.

Di Malaysia, Rosella juga disebut Asam paya, Asam kumbang atau Asam susur, merupakan tumbuhan yang mempunyai keluarga yang sama dengan bunga raya/sepatu (Hibiscus rosasinensis). Tumbuhan Rosella ada yang mengatakan berasal dari India tetapi ada juga pendapat yang mengatakan Rosella berasal dari Afrika Barat. Tumbuhan Rosella ini semula diperkenalkan di Malaysia sejak lebih dari tiga abad yang lampau. Di India Barat disebut dengan Jamaican Sorrel.

Pohon Rosella tumbuh dari biji/benih dengan ketinggian yang bisa mencapai 3 - 5 meter serta mengeluarkan bunga hampir sepanjang tahun. Bunga Rosella berwarna cerah, Kelopak bunga atau kaliksnya berwarna merah gelap dan lebih tebal jika dibandingkan dengan bunga raya/sepatu. Bagian bunga Rosella yang bisa diproses menjadi makanan ialah kelopak bunganya yang mempunyai rasa yang amat masam. Kelopak bunga ini bisa diproses menjadi pelbagai jenis makanan seperti minuman, jelly, saos, serbuk (teh ) atau manisan Roselle. Daun muda Rosella bisa juga dimakan sebagai ulam atau salad. Sementara itu di Afrika, biji Rosella dimakan karena dipercaya mengandung minyak tertentu. Di Sudan, Rosella diproses menjadi minuman tradisional yang dinamakan Karkadeh dan merupakan minuman kebangsaan orang Sudan.

Tumbuhan herba ini ternyata mampu berfungsi sebagai bahan antiseptik, penambah syahwat, agen astringen. Tanaman ini juga banyak digunakan dalam pengobatan tradisional seperti batuk, ketidakhadaman, lesu, demam, tekanan perasaan, gusi berdarah (skurvi) dan mencegah penyakit hati. Bunga Roselle banyak digunakan untuk pembuatan jus, saos, sirup dan juga sebagai bahan pewarna pada makanan.

Ekstrak daripada kuncup bunganya ternyata mampu berfungsi sebagai antispasmodik (penahan kekejangan), antihelmintik (anti cacing) dan antibakteria. Selain itu rosella ternyata mampu menurunkan kadar penyerapan alkohol. Daun tumbuhan herba ini juga bisa digunakan untuk merawat luka, penyakit kulit dan gigitan serangga. Di India, biji Rosella digunakan untuk mengobati penyakit kulit, kekurangan darah dan kelesuan.

Bahan penting yang terkandung dalam kelompak bunga Rosella adalah Gossy peptin anthocyanin dan glucoside hibiscin yang mempunyai efek diuretic dan choleretic, memperlancar peredaran darah, mencegah tekanan darah tinggi, meningkatkan kinerja usus serta berfungsi sebagai tonik (obat kuat).

Dari penelitian lainnya terbukti bahwa kelopak bunga Rosella mempunyai efek anti-hipertensi, kram otot dan anti infeksi-bakteri. Dalam eksperimen ditemukan juga bahwa ekstrak kelopak bunga Rosella mengurangi efek alcohol pada tubuh kita, mencegah pembentukan batu ginjal, dan memperlambat pertumbuhan jamur/bakteri/parasit penyebab demam tinggi. Kelopak bunga Rosella juga diketahui membantu melancarkan peredaran darah dengan mengurangi derajat kekentalan darah. Ini terjadi karena asam organik, poly-sakarida dan flavonoid yang terkandung dalam ekstrak kelopak bunga Rosella sebagai Farmakologi. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah kelopak bunga Rosella mengandung vitamin C dalam kadar tinggi yang berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh manusia terhadap serangan penyakit.

Manfaat kelopak bunga Rosella
1.          Dapat mengurangi kepekatan/kekentalan darah
2.          Membantu proses pencernaan
3.          Mencegah peradangan pada saluran kencing dan ginjal
4.          Penyaring racun pada tubuh
5.          Mencegah kekurangan Vitamin C
6.          Melancarkan peredaran darah
7.          Melancarkan buang air besar
8.          Menurunkan kadar penyerapan alkohol
9.          Penahan kekejangan Bersifat detoksifikasi, menetralkan racun
10.        Menurunkan tekanan darah
11.        Menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes
12.        Menghambat tumbuhnya kanker
13.        Menjaga stamina
14.        Menurunkan kolesterol dalam darah
15.        Menyeimbangkan berat badan
16.        Mengurangi panas dalam dan susah BAB
17.        Menurunkan tingkat penggumpalan lemak di hati
18.        Mengurangi pusing / migraine
19.        Mengandung multivitamin, termasuk vit.C dan Beta karoten
20.        Membantu memulihkan dari ketergantungan obat

Penyakit yang dapat diobati :
1.          Tekanan Darah Tinggi ( Hipertensi )
2.          Batu Ginjal
3.          Batuk
4.          Lemah syahwat
5.          Lesu
6.          Demam
7.          Tekanan Perasaan
8.          Gusi berdarah
9.          Penyakit kulit
10.        Gigitan Serangga
11.        Luka
12.        Kurang darah

Bagaimana cara mengkonsumsinya ? Masukkan 5-7 kelopak bunga Rosella dan seduh dengan air panas, tunggu 5 menit, dan ramuan siap diminum. Rasa dari minuman ini seperti asam jawa. Untuk penderita sakit maag sebaiknya dibuat lebih encer. Kalau mau tambah gula boleh juga, tapi lebih baik dicampur pake madu saja sebagai pemanis.


tanaman rosela sudah banyak diusahakan petani


struktur batang, daun dan bunga rosella



potongan melintang bunga rosela



bunga rosella yang sudah dikeringkan

Selasa, 03 November 2009

Guideline for Land Suitability (CIDA – Canadian International Development Agency,1980)

SOIL DRAINAGE CLASSES


1.      Very Poorly Drained
Water is very slowly removed from the soil related to water supply when the water remains at the soil surface for a long time if there are no artificial drainage. Soil of this drainage class is usually occupy level or depressed sites and frequently ponded. Where the rainfall is high and nearly continuous, very poorly drained soils may be found with moderate or high slope gradient. These soil are wet enough to prevent the growth or most important upland crops without artificial drainage. Soils of this class have aquic soil moisture regimes.

2.      Poorly Drained
Water is very slowly removed from the soil related to water supply when the soil remains wet for a long time. Free water is commonly at or near the surface during enough of the growing season that the most common upland field crops cannot be grown unless the soil is artificially drained. Poorly drained conditions are due to a high water table, a slowly permeable layer within the profile, seepage, nearly continuous rainfall or some combination or these conditions. Soil of this class usually has aquic soil moisture regimes.  

3.      Somewhat Poorly Drained
Water is removed from the soil slowly enough in relation to supply to keep the soil wet for a significant part of the growing season. Soil wetness restricts the growth of upland crops to a marked degree, unless artificial drainage has been provided, but upland crops can be grown in most years.  Somewhat poorly drained soils commonly have a slowly permeable layer, a high water table, additions of water by seepage, nearly continuous rainfall or some combination of these. Some soil of this class has aquic soil moisture regimes while others do not.

4.      Moderately Well Drained
Water is removed from the soil somewhat slowly in relation to supply during some periods. The soil is wet for a small part of the growing season but long enough to periodically affect most upland crops. Moderately well drained soil commonly have a slowly permeable layer within or immediately beneath the soil, a relatively high water table of short duration, addition of water through seepage, high rainfall for some period or some combination of these conditions. Moderately well drained soils of grasslands commonly have thick dark “A” horizones and yellowish or grayish faintly mottled “B” horizons.


5.      Well Drained
Water is removed from soil readily but not rapidly. Water removal is in good balance with supply. Well drained soils are commonly intermediate in texture although soils of other textural classes may also be well drained. Well drained soils are mottled only in the lower part of a thick “B” horizon, deep in the “C” horizons or due to the occurrence of fossil clay. These soils commonly retain near optimum amounts of irrigation water. Some have low water retention capacity, but receive rain frequently and are seldom dry.

6.      Somewhat Excessively Drained
Water is removed from the soil rapidly in relation to supply. Some of the soils are shallow. Many of them have faint horizons and are sandy and very porous. Somewhat excessively drained soils are usually free of mottling throughout. Among soils of the grasslands, many somewhat excessively drained soils have either relatively thin “A” horizons or thick “A” horizons less strongly expressed than in well drained soils. Yields of most crops are usually low on soils of this class unless the soil is irrigated.

VARIABILITY CLASSES


The degree of variability varies with the mode of formation. Frequent river flooding events produce high variability in soil tectures over sa short distance. On the other hand, large alluvial basins may have very uniform texture and slopes. This rating gives a relative degree of variability only.

1.      Low                       :  uniform soils throughout the unit, high predictive value within the map unit. Uniform areas greater than 100 ha in size.

2.      Moderate             :  considerable variability of soils due to texture and / or salinity changes. Uniform areas between 10 ha and 100 ha in size.

3.      High                      :  great variability of soils with regard to texture, salinity and moisture within a particular map unit. Difference not mappable because of intensity of survey. Uniform areas less than 10 ha in size.


FLOODING HAZARD


River flooding hazard was determined largely by examination f soil profile. Young surface sediments and buried soils indicate active river flooding. In populated areas the people’s experiences match closely the inferred flooding as shown by the soil profile. The rating correspond closely to the topographic position in relation to river level.

1.   Low                       :  rarely or never floods with river water (less than onnce in 10 years).

2.   Moderate             :  occasionally flooding (every 3 to 10 years)

3.   High                      :  frequent, deep flooding  (every year)


SOIL REACTION


This measures the degree  of acidity or alkalinity within the soil profile.

pH  =  - log (H+)          à        determined electrometrically in 1 : 2  of soil : KCl solution. A 0.01 ml KCl solution is used to minimize the effect of salts which tend to raise the pH of the solution above that which is actually experienced by plant roots. pH values in KCl solutions are often 1 unit lower than pH’s taken in soil by water solution.

pH Range
Rating of Accidity


< 5.6
Ø     very acid
5.6  -  6.0
Ø     moderately acid
6.1  -  6.5
Ø     slightly acid
6.6  -  7.3
Ø     neutral
7.4  -  7.8
Ø     mildly alkaline
7.9  -  8.4
Ø     moderate alkaline
8.5  >
Ø     strongly alkaline


SALINE AND SODIC SOIL


Soluble salts produce harmful effects to plants by increasing Exchangeable Sodium Percentage (ESP). The latter is of a more permanent nature, since exchangeable, since exchangeable sodium usually persists after soluble salts are removed. Soils are grouped into 3 classes based on salt content and ESP as follows:

1.      Saline

Soils for which the conductivity of saturation extract is more than 4 mmhos/cm at 250C and for which the ESP is less than 15. Ordinarily, the pH is less than 8.5.

When adequate drainage is establish, the excessive soluble salts may be removed by leaching and soils again become normal. Owing to presence of excess salts and low ESP, saline soils are generally flocculated. Consequently, the permeability is equal to or higher than, similar nonsaline soils.

2.      Saline / Sodic Soils

These soils, formerly called saline / alkaline are those for which the conductivity of saturation extract is greater than 4 mmhos/cm at 250C and for which the ESP is greater than 15. pH levels seldom exceed 8.5. Saline / sodic soils occur in parts of the coastal plains.

When excess salts are present, the appearance and properties of these soils are generally similar to those of saline soils. If the excess salts are leached, the properties may change markedly to resemble those of nonsaline/sodic soils.

Upon leaching, the soil pH levels may exceed 8.5, the particles disperse and the soil becomes impermeable. The return of soluble salts may lower the pH reading and restore the particles to a flocculated condition but management of these soils continues to be difficult until excess salts and exchangeable sodium are removed. In some instances, saline / sodic soils contain gypsum. When these soils are leached, calcium dissolves and the replacement of exchangeable sodium by calcium occurs concurrently with removal of excess salts.

3.      Non Saline / Sodic Soils

These are soils for which the ESP is greater than 15 and the conductivity of saturation extract is lower than 4 mmhos/cm at 250C. pH readings usually at range between 8.5 and 10.

Soils like this were encountered on the coastal plains, usually associated with saline/sodic soils. Soils may initially fit any of these categories and with irrigation and drainage they may remain the same or improved. However when drainage inadequate and/or irrigation water is of poor quality, soil deterioration often occurs. When soil water is derived from irrigation, the soil solution is at least as saline as the irrigation water and usually more so. Increases in salinity result from evapotranspiration and consumptive use of water by plants. Both of these concentrate salts in the residual soil water. Therefore, it is necessary to remove the concentrated soil solution from the root zone to prevent the salinity from reaching damaging levels. This can be accomplished if water applications exceed evapotranspiration and internal drainage is adequate. However, if drainage is not adequate, excess water raises the water table which causes water logging and also increases the movement of salts into the upper root zone.

Infiltration rates of less than 0.25 cm/h or hydraulic conductivities of surface soil as low as 0.1 cm/h may present serious difficulties in leaching (USDA Handbook 60). When concentrations of soluble salts in groundwater exceed 100 ppm, water table depth becomes important and should be lower than 180 cm to 200 cm for medium textured soils and somewhat shallower for coarse and fine soils (Van Schilfgaarde, 1974). In some instances 2 or 3 milliequivalents of exchangeable sodium per 100 grams of soil is equal or even more useful as a critical limit (USDA Handbook 60). With the exception of paddy, all crops are adversely affected by deteriorating soil structure. However, stunted growth of rice occurs when ESP values are in the range of 20% to 40% (Van Schilfgaarde, 1974).

The salinity of soils is determined by measuring the electrical conductivity of the saturated extract. The adverse affects on growth of crops when salt contents are increased are shown on table below.

Salt Tolerance of Plants.
Crop
Electrical Conductivity (mmhos/cm at 250C)
At which yields decreased by
 Decreased 10%
Decreased 25%
Decreased 50%
Cotton
10
12
16
Sorghum
6
9
12
Soybean
5.5
7
9
Sugarcane
3
5
8.5
Corn
5
6
7
Paddy
5
6
8


QUANTITATIVE ANALYSIS USED IN SUITABILITY RATINGS


A.     Soil Depth Criteria (x)

Suitability Classes
Soil Depth (cm)
S1
> 90
S2
45  -  90
S3
25  -  45
U1
Less than 25
U2
Less than 25

B.    Topographic Criteria (t)

Suitability Classes
Slope for Diversified Cropping (%)
Slope for Irrigated Paddy (%)
S1
1  -  2
1
S2
2  -  5
1  -  2
S3
5  -  9
2  -  5
U1
9  -  30
5  -  9
U2
Greater than 30
Greater than 9

C.    Saline / Sodic Criteria for Irrigation Suitability

Suitability Classes
Depth (cm)
Mmhos/cm
ESP
S1
0  -  30
30  -  100
Less than 2
Less than 4
0  -  10
0  -  10
S2
0  -  30
30  -  100
2  -  4
4  -  8
0  -  10
10  -  20
S3
0  -  30
30  -  100
4  -  8
8  -  12
10  -  20
10  -  30
U1
0  -  30
30  -  100
Greater than 8
Greater than 12
Greater than 20
Greater than 30




D.    Electrical Conductivity (Ec)

Salinity
mmhos/cm within rooting zone
Class
Effect
0  -  2
Non – saline
Saline effects are negligible to a wide variety of crops
2  -  4
Slight salinity hazard
Yield of very sensitive crops may be restricted
4  -  8
High salinity hazard
Yield of many crops is restricted
8  -  16
High salinity hazard
Only tolerant crops yield satisfactorily
Greater than 16
Very high salinity hazard
Only a few very tolerant crops yield satisfactorily

ESP
ESP
Rating
< 10
Low sodium hazard
10  -  20
Medium sodium hazard
> 20
High sodium hazard

E.     Cation Exchange Capacity (CEC)

CEC
Meq/100 g soil
Rating
< 5
Very low
5  -  10
Low
10  -  20
Medium
20  -  40
High
> 40
Very high


F.     Organic Matter

Organic Matter rating
% Organic Matter
Rating
0  -  2
Low
2  -  5
Moderate
> 5
High

C/N Ratio
C/N
Rating
8  -  12
Narrow
12  -  15
Medium
15  -  20
Wide
G.    Phosporous Levels

P2O5
P2O5 (ppm)
Rating
0  -  15
Low
15  -  45
Medium
> 45
High

H.    Potassium Levels

K2O
K+( me/100g)
K2O (ppm ; Olsen)
Rating
< 0.2
< 50
Very low
0.2  -  0.3
50  -  150
Low
0.3  -  0.5
150  -  200
Medium
0.5  -  1.0
200  -  250
High
> 1.0
> 250
Very high

I.        Atterberg Limits

Plasticity Index Rating
Plastic Index
Rating
0  -  10
Low
10  -  20
Moderate
20  -  30
High
> 30
Very high

J.      Bulk Density

The bulk density is the mass of dry soil per bulk volume. It is recorded in units grams / cm3.

K.    Workability

Soil Type
Workability
Consistency
Fine textured soil
Difficult
Very hard when dry, very sticky and very plastic when wet
Medium textured soil
Moderate
Hard to slightly hard when dry , slightly sticky when wet
Coarse texture soil
Easy
Slightly hard to loose when dry, non sticky and non plastic when wet



L.     Texture Classes

Class
Diamater range (mm)
Sand
2.0  -  0.05
Silt
0.05  -  0.002
Clay
< 0.002




SOIL TEXTURE TRIANGLE



BROAD TEXTURAL CLASSES