Laman

Tampilkan postingan dengan label Padi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Padi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Maret 2010

Masalah Yang Dihadapi Padi SRI

Pengembangan padi SRI (System of Rice Intensification) yang terkenal dengan motonya "More Rice with Less Water" atau hasil beras meningkat dengan penggunaan air yang lebih sedikit, sampai saat ini masih mengalami kendala teknis dan non-teknis di tingkat lapangan. Dengan melihat keistimewaan sistem ini, terutama dari segi produktifitas dan efisiensi pengairan (yang identik dengan potensi perluasan areal irigasi), beberapa perbaikan sistem harus dilakukan agar pengembangannya dapat dilaksanakan seluas-luasnya.

Mari kita lihat terlebih dahulu beberapa keistimewaan sistem SRI ini bagi pengembangan budidaya padi sawah :
  1. SRI hanya membutuhkan benih yang jauh lebih sedikit, yaitu 5 sampai 10 kg per-hektar yang berbanding 40 - 60 kg pada sistem konvensional. Hal ini akan mendorong petani untuk menggunakan benih padi unggul bersertifikat karena tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk membelinya.
  2. Produktifitas dengan sistem SRI telah terbukti secara signifikan meningkat dengan tingkat B/C ratio (perbandingan nilai hasil terhadap biaya) yang lebih baik dibanding sistem konvensional. Hal ini jelas akan meningkatkan pendapatan petani.
  3. Sistem pengairan yang intermitten / terputus sampai kondisi tanah kering meretak akan memperbaiki lingkungan mikro bagi tanah sehingga secara pasti akan memperbaiki kondisi tanah, baik fisik, kimia maupun biologi. Hal ini dapat dipercepat apabila pemupukannya menggunakan pupuk organik. Beberapa artikel penelitian membuktikan bahwa kandungan mikro organisme pada tanah yang ditanami padi SRI mengalami peningkatan kualitas. Tentu saja harus diperhatikan pula proses pengembalian serasah padi pada tanah asalnya.
  4. Penggunaan air yang jauh lebih sedikit dibanding dengan sistem konvensional akan memperbaiki efisiensi pengairan dan dengan demikian memiliki potensi bagi perluasan areal irigasi. Dengan demikian SRI sangat menunjang program ekstensifikasi areal irigasi yang merupakan sumber utama ketahanan pangan (terutama beras). Sampai saat ini, areal irigasi yang ada masih banyak yang belum mampu mengairi padi 100% pada musim tanam kedua (kemarau).

Selasa, 16 Maret 2010

Padi SRI Tidak Identik dengan Padi Organik

Metoda SRI (System of Rice Intensification) memang sangat menganjurkan penggunaan pupuk organik sebagai langkah jangka panjang untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah serta hasil yang lebih baik (terutama segi kualitas beras yang dihasilkan). Akan tetapi metoda SRI tidak harus menggunakan pupuk organik untuk dapat menghasilkan produksi yang maksimal.

Di beberapa tempat dimana diadakan petak-petak percontohan, kesalahpahaman bahwa SRI mutlak harus menggunakan pupuk organik adalah suatu kesalahan fatal dalam perkembangan aplikasi metode ini. SRI hanyalah suatu metode dimana kondisi lingkungan mikro pertanaman padi dibuat menjadi lebih optimal dengan memberikan keleluasaan tumbuh yang lebih baik, aerasi daerah perakaran yang lebih optimal, dalam lingkup irigasi menggunakan ketersediaan air yang lebih efisien sehingga ketersediaan air dapat digunakan dalam areal yang lebih luas.

Penggunaan pupuk organik yang disyaratkan pada praktek petak percontohan tanpa penjelasan yang jujur dan bijak menjadi kendala utama bagi perkembangan pelaksanaan metode SRI selama ini. Selain itu, beberapa kendala lainnya juga dijumpai di tingkat lapangan, sehingga SRI dianggap sebagai metode yang sulit dilakukan oleh petani, yaitu diantaranya adalah :
  1. SRI "harus" menggunakan pupuk organik dimana sampai saat ini petani belum siap memproduksi pupuk organik sendiri dan pupuk organik masih "mahal" untuk dibeli.
  2. Penanaman 1 (satu) bibit perlubang tanam dengan bibit yang masih muda msih merupakan praktek yang sulit dilaksanakan petani karena harius dilaksanakan secara cepat.
  3. Sistem pemberian air yang terputus (intermitten) di lahan beririgasi merupakan hal yang masih sulit dilaksanakan dimana pergiliran pengairan pada petak-petak tersier / sekunder dilaksanakan berdasarkan waktu hari (10 harian, 2 mingguan atau pada musim kemarau di daerah kering dilaksanakan sebulan sekali)
  4. Proses pengeringan lahan di lahan beririgasi yang relatif datar masih sulit dilaksanakan.
Dari beberapa kendala yang dijumpai di tingkat lapangan seperti disebutkan di atas, pengembangan metode SRI sebaiknya dilaksanakan dengan faktor pendukung berkut :
  1. Pada saat sosialisasi, perlu ditekankan bahwa SRI tidak harus menggunakan pupuk organik atau SRI dilaksanakan sebagai bagian dari integrated farming system (pertanian terpadu) terutama antara tanaman dan ternak (sapi atau ayam). Pada sistem pertanian terpadu, kebutuhan pupuk organik dapat dipenuhi dari limbah ternak, sedangkan kebutuhan pakan ternak dapat dipenuhi dari limbah tanaman (jerami atau sekam/dedak).
  2. Lebih mengutamakan pengembangan di areal dengan ketersediaan buruh tani yang cukup setiap musim tanam atau dengan penekanan sistem bertani secara berkelompok (sistem gotong royong).
  3. Pengembangan diutamakan pada areal dengan kemiringan yang cukup (mungkin lebih dari 3%) atau bahkan pada lahan dengan terasering agar proses pengeringan dapat dilakukan dengan baik (pada lahan dengan proses drainase / pembuangan air yang lebih baik). Selain itu, SRI nampaknya lebih cocok dikembangkan pada luas petakan yang lebih sempit (kurang dari 2000 m2) agar proses penanaman bibit da pengeringan dapat dilakukan secara cepat.
  4. Pelaksanaan SRI disertai dengan pengembangan budaya pembuatan saluran keliling atau cacingan pada setiap petak tersier. Sejak belasan tahun lalu, saluran cacingan ini telah disosialisasikan dalam rangka pengaturan air yang lebih baik pada lahan yang sulit menerapkan jadwal penanaman serempak dan juga sebagai langkah preventif bagi pengendalian hama tikus dan lainnya (PHT dengan pengaturan lingkungan).
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas, nampaknya pengembangan SRI di Indonesia sebaiknya dikonsentrasikan pada lahan dengan terasering dimana luas petakannya lebih sempit dan kebutuhan tenaga buruh untuk setiap petakan dapat dipenuhi setiap saat. Selain itu, proses pengeringan lahan akan lebih mudah dilaksanakan.

Kembali pada persoalan pokok dimana SRI sering diidentikkan dengan padi organik. Beberapa petak percobaan di lahan petani menunjukkan peningkatan hasil yang signifikan dengan hanya menerapkan pupuk kimia berimbang sesuai anjuran setempat. Penggunaan pupuk organik terutama yang berasal dari ternak sapi memang merupakan teknologi yang sangat dianjurkan untuk pertanaman padi, dengan SRI atau tanpa SRI. Hal ini sangat erat kaitannya dengan perbaikan strukutur tanah dalam jangka yang panjang melalui perkembangan mikroorganisme tanah yang lebih baik dan pemenuhan unsur-unsur hara mikro yang secara nyata memperbaiki kualitas beras yang dihasilkan. Beberapa demplot yang dilaksanakan dengan metode konvensional oleh Departemen Pertanian, menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kandang ternak sapi yang tercampur dengan urine sapi (takaran 2 ton/ha) dengan 50% dosis penggunaan pupuk kimia secara nyata meningkatkan produksi padi sekitar 25% sampai 40% dengan kualitas beras yang lebih baik.
.

Minggu, 14 Maret 2010

Pertumbuhan dan Hasil Padi SRI

Bagi yang belum melihat hasil budidaya padi SRI (System of Rice Intensification), pertumbuhan awal nampak lebih kecil atau lambat dibanding dengan cara budidaya konvensional. Hal ini bisa dimaklumi karena pada metode SRI, bibit yang ditanam adalah bibit muda (5 - 10 hari) sehingga membutuhkan waktu penyesuaian lingkungan yang lebih lama, selain itu faktor pemberian air secara intermitten (terputus-putus) membuat pertumbuhan awal lebih tertekan. Hal ini berlangsung sampai umur sekitar 60 hari, dimana tinggi tanaman baru bisa menyamai tinggi tanaman padi dengan metode konvensional.

Akan tetapi, berbeda dengan tinggi tanaman, jumlah anakan dengan metode SRI melampaui jumlah anakan metode konvensional pada umur 30 hari setelah tanam. Rupanya, pengeringan lahan berpengaruh lebih baik pada perkembangan anakan daripada pertumbuhan tinggi tanaman.

Minggu, 28 Februari 2010

Pengairan dan Pemberantasan Hama Penyakit Pada Budidaya Padi SRI

Pengairan

Telah dijelaskan pada posting sebelumnya (lihat Prinsip Budidaya Padi SRI), bahwa pemberian air pada sistem budidaya padi SRI dilakukan secara internitten atau terputus-putus. Pada saat tanam, kondisi tanah adalah macak-macak (5 mm). Kemudian tinggi air ditambah sampai 2 cm atau maksimal. Setelah itu, pintu inlet ditutup dan lahan dibiarkan mengering. Setelah kondisi tanah mulai retak, pintu air dibuka kembali dan diatur ampai ketinggian 2 cm. Demikian seterusnya diulang sampai masa pemasakan bulir. Lamanya pengeringan tergantung pada musim dan kondisi setempat. Pengalaman di Nusa Tenggara Timur dengan kondisi iklim yang ekstrim (3 bulan basah dan 6 bulan kering), lamanya waktu antara penghentian pemberian air irigasi sampai kondisi tanah retak adalah sekitar 1 minggu. Di daerah lain yang memiliki kondisi iklim lebih basah dan temperatur lebih rendah, proses pengeringan dapat mencapai 2 minggu. Walaupun dengan kondisi ini  akan tampak bahwa pertumbuhan tanaman terhambat, akan tetapi sebenarnya tanaman sedang melakukan perbanyakan anakan. Dengan kondisi retak, suplai oksigen pada daerah perakaran akan lebih besar dan menyebabkan proses asimilasi yang lebih besar dibanding pada sistem pengairan biasa. Hal ini memicu penyerapan unsur hara yang lebih baik dan pertumbuhan anakan yang jauh lebih besar (mencapai 200%).

Selasa, 23 Februari 2010

Pengolahan Tanah dan Penanaman Padi SRI (ilustrasi)

Pengolahan Tanah

Seperti pada budidaya padi konvensional, pengolahan tanah pada Budidaya Padi SRI dilakukan sesuai petunjuk penuluh lapangan, dengan menggunakan cangkul, kerbau atau traktor. Kedalaman olah tanah yang paling dianjurkan adalah 25 sampai 30 cm. Setalah dibajak, dilakukan penggaruan untuk melumatkan agregat tanah sehingga melumpur. Saat penggaruan ini merupakan saat yang baik untuk menaburkan pupuk kandang atau kompos apabila dikehendaki. Langkah terakhir adalah meratakan muka tanah sesuai rata muka air agar tinggi muka air terhadap tanaman merata di seluruh petakan (hal ini untuk menciptakan lingkungan mikro yang seragam). Pada sistem SRI, setiap petakan dibuat parit keliling dan tengah (tergantung lebar lahan) utuk membantu proses pengeringan lahan secara berkala. Hal ini terutama diperlukan pada lahan-lahan beririgasi teknis yang kadang sulit untuk dilakukan pengeringan saat pintu air irigasi terbuka.

Jumat, 19 Februari 2010

Persiapan Bibit Padi SRI (Ilustrasi)

Langkah-langkah persiapan benih padi dengan menggunakan metoda SRI (System of Rice Intensification) :
  1. Buat larutan air garam dalam ember untuk perendaman benih padi
  2. Gunakan telur itik sebagai indikator konsentrasi larutan garam ; apabila telur itik mengapung dalam larutan tersebut, maka konsentrasi garam telah dianggap cukup / sesuai.
  3. Benih dimasukkan ke dalam larutan garam tersebut (kebutuhan benih sekitar 5 kg/ha)
  4. Benih diaduk secara perlahan selama 1 - 2 menit.
  5. Diamkan selama kurang lebih 10 - 15 menit sampai benih yang baik dan yang jelek terpisah. Benih baik akan tenggelam, sedangkan benih jelek akan terapung
  6. Benih yang mengapung disisihkan dengan menggunakan saringan.
  7. Benih tenggelam diambil dan dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan sisa garam yang menempel.
  8. Benih yang terpilih kemudian direndam dalam air bersih selama 24 - 48 jam (1 -2 hari)
  9. Benih kemudian ditiriskan (diangin-anginkan di tempat teduh yang terlindung) selama 1 - 2 hari sampai berkecambah.

Jumat, 12 Februari 2010

Prinsip Budidaya Padi SRI


Seperti pada postingan terdahulu, SRI atau System of Rice Intensification tertumpu pada 4 hal pokok yaitu :
  1. Menanam bibit muda (5 – 15 hari setelah semai)
  2. Menanam 1 bibit pertitik tanam
  3. Mengatur jarak tanam lebih lebar (30 x 30 cm sampai 50 x 50 cm ; di Indonesia, jarak tanam ideal untuk SRI adalah 35 x 35 cm atau 35 x 35 cm)
  4. Manajemen pengairan yang super hemat dengan cara intermitten (terputus ; berselang seling antara pemberian air maksimal 2 cm dan pengeringan tanah sampai retak).
Selain keempat hal tersebut, sangat dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik. Pupuk organik selain menyediakan unsur hara yang lengkap (makro dan mikro) juga memperbaiki struktur tanah sehingga meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman, udara yang cukup bagi perakaran, dan meningkatkan daya ikat air tanah.

Jumat, 15 Januari 2010

Padi Hibrida - Alternatif atau Masalah ?

Kira-kira lima tahun terakhir ini, padi hibrida telah masuk sebagai varian introduksi padi di Indonesia. China adalah negara pertama yang memasukkan padi rekayasa genetik itu. Hasilnya ? Luar biasa, dari rata-rata produktifitas padi konvensional di Gorontalo sebesar 6-7 ton/ha, seorang petani maju telah mengusahakan padi hibrida dengan rata-rata produksi 12-14 ton/ha (2006-2007). 
Padi hibrida merupakan hasil persilangan dari dua induk (genetically-fixed varieties) yang mampu menunjukkan sifat superior (efek heterosis), terutama potensi hasilnya.  Akan tetapi efek heterosis ini akan hilang pada generasi berikutnya.  Oleh sebab itu, benih yang dihasilkan padi hibrida tidak dapat digunakan sebagai benih untuk musim tanam berikutnya.  Hal ini menyebabkan bisnis benih hibrida menjadi menarik, karena petani akan tergantung pada pasokan benih dari produsennya. 
Padi merupakan tanaman yang menyerbuk sendiri (self-pollinated) dimana serbuk sari dan ovarium dihasilkan pada bunga yang sama.  Oleh sebab itu, diperlukan tanaman jantan-steril sebagai salah satu induk agar proses hibridisasi dapat berlangsung sempurna.  Pengembangan padi hibrida dimulai sekitar tahun 1970, saat ditemukan tanaman jantan steril dari populasi padi liar (Oryza sativa f. Spontanea) di Hainan, Cina.  Padi liar ini disebut sebagai wild rice with abortive pollen atau disingkat padi WA.  Padi WA ini disilang dengan padi lain untuk menghasilkan jantan steril yang disebut sebagai galur maintainer.
Melalui proses persilangan yang diulang terus menerus (backcross) dengan induk dari galur maintainer ini diperoleh tanaman padi dengan karakter jantan steril yang stabil, yang disebut galur padi cytoplasmic male sterile atau disingkat CMS.  Tanaman padi CMS ini digunakan sebagai salah satu induk untuk menghasilkan padi hibrida.  Induk lainnya disebut sebagai galur restorer yang berfungsi memulihkan fertilitas galur CMS setelah disilangkan.  Benih yang dihasilkan merupakan benih hibrida F1 yang mempunyai sifat superior (daya hasil tinggi), tetapi potensi hasil ini tidak dapat diturunkan ke generasi berikutnya (F2 dan seterusnya). (ref : PADI HIBRIDA: Apakah ini jawabnya)

Tanaman hibrida dibuat untuk menghasilkan tanaman yang unggul, terutama produksi dan kualitasnya. Akan tetapi, dalam beberapa kasus juga dihadapkan pada beberapa masalah. Masalah yang dijumpai diantaranya adalah :
  1. Ketergantungan petani terhadap benih produksi perusahaan besar yang tentunya mahal harganya (menjadi kendala utama).
  2. Padi hibrida (seperti juga tanaman hibrida lainnya) membutuhkan pupuk yang lebih banyak.
  3. Pada beberapa kasus, padi hibrida lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit sehingga membutuhkan pestisida yang lebih banyak.
  4. Mutu beras yang dihasilkan sampai saat ini belum sebaik mutu beras varietas unggul lokal (seperti ciherang, ciliwung, dsb.)
Dari ketiga masalah tersebut, jelas bahwa petani membutuhkan modal produksi yang lebih besar. Di negara penghasil benih padi hibrida utama (China), petani padi hibrida membutuhkan pupuk  sebesar 43% lebih banyak dan pestisida sebesar 31% lebih banyak dari biasanya.

Padi hibrida dan pencapaian ketahan pangan

Walaupun masih banyak masalah di tingkat lapangan, pemerintah melalui Departemen Pertanian (khususnya Badan Litbang Pertanian), secara intensif terus mengembangkan padi hibrida melalui program Uji Multi Lokasi (UML) bekerjasama dengan PT. Dupont Indonesia (ref : Pengembangan Padi Hibrida) terhadap 14 galur calon hibrida (Mei 2009).Untuk ini, PT. Dupont telah menganggarkan dana sebesar $200,000 dan sementara itu PT. Dupont juga telah berhasil mengembangkan perbenihan hibrida Maro seluas 133,8 ha dengan hasil benih 2,7 ton dan menyerahkan royalti kepada BB Padi sebesar 4,7 milyar.

Saat ini, selain PT. Dupont, perusahaan lain, baik dalam negeri maupun luar negeri, bersaing dalam mengembangkan padi hibrida di Indonesia. BB Padi juga telah memberikan lisensi varietas padi ke perusahaan swasta lainnya. Misalnya, varietas Rokan dengan PT SAS (Sumber Alam Sejahtera) dan Hipa3 dengan PT Syngenta.

Nampaknya pemerintah cukup serius dalam mengembangkan padi hibrida ini, dimana pengembangan produktifitas (intensifikasi) tidak bisa ditawar lagi pada saat perluasan areal sudah mencapai titik kulminasi seiring dengan berkurangnya lahan produktif di Jawa. Pencapaian ketahanan pangan dari komoditas utama padi hanya dapat dicapai dan dipertahankan dengan meningkatkan produktifitas.

Apakah  padi hibrida menjadi satu-satunya pilihan dalam program ketahanan pangan ?

Padi hibrida memang terbukti telah dapat menjanjikan produksi yang sangat tinggi. Di beberapa tempat pengembangan, rata-rata hasil yang diperoleh tidak kurang dari 12 ton/ha, suatu hasil yang sangat sulit dicapai dalam budidaya padi konvensional. Akan tetapi, beberapa kekurangan seperti yang dibahas di atas merupakan hal yang cukup serius untuk diperhatikan. Ongkos produksi yang tinggi dapat mempengaruhi animo petani untuk memakai padi hibrida, disamping itu kualitas beras yang rendah juga menurunkan harga dan mungkin juga kehilangan hasil yang cukup signifikan. Pada tingkat petani, resiko kegagalan budidaya padi hibrida juga lebih tinggi (baca : Hasil Analisis Ekonomi, Padi Hibrida Jauh Lebih Berisiko dan Benih Padi Hibrida Bantuan Tak Bisa Tumbuh).

Mengingat beberapa kasus di atas, pertanyaan selanjutnya apakah pengembangan padi hibrida merupakan pilihan utama.  Mari kita tengok pengembangan budidaya padi dengan menggunakan metoda SRI (System of Rice Intensification) dan Jajar Legowo.

Sejak diperkenalkan tahun 1997 di Indonesia, metode SRI tidak berkembang seperti yang diharapkan oleh perintisnya Prof. Dr Norman Uphoff.  Walaupun banyak hasil yang memuaskan, metode SRI berkembang secara lambat. Dalam beberapa aplikasi di lapangan, metode SRI mampu mendongkrak produktifitas beberapa varietas yang biasa ditanam petani secara fantastis. Dari rata-rata produksi 6 ton/ha, SRI mampu memberikan hasil sekitar 9 - 12 ton/ha, suatu hasil yang patut diperhitungkan dan selayaknya mendapat tempat istimewa dalam program ketahanan pangan. Hasil luar biasa ini pula lah yang merangsang PT. Sampurna berani membuka usaha agrobisnis komoditas padi yang selama ini dianggap enteng oleh kalangan pengusaha besar. Belum lagi Nippon Koei Co.Ltd yang secara konsisten melakukan sosialisasi aplikasi SRI pada setiap daerah pengembangan irigasi yang ditanganinya dan bahkan mendanai SRI Center di Mataram.

Selain keunggulan produksi, SRI juga memiliki banyak keunggulan yang diantaranya adalah :
  1. Penggunaan air irigasi yang lebih hemat, sehingga memungkinkan perluasan areal tanam padi lahan beririgasi saat musim kemarau.
  2. Pengunaan varietas unggul lokal yang telah biasa ditanam petani setempat.
  3. Penggunaan benih yang jauh lebih sedikit (10 - 15 kg/ha dibanding metoda konvensional sebesar 30 - 60 kg/ha).
  4. Mengurangi waktu produksi karena bibit ditanam pada umur 5 - 12 hari setelah semai (konvensional 21 hss).
  5. Secara umum, mengurangi ongkos produksi dan menambah tingkat keuntungan usahatani.
  6. Jarak tanam yang lebar (30 x 30 cm) mempermudah kegiatan pemeliharaan.
  7. Pada metoda SRI organik, selain sangat mengurangi kebutuhan pupuk kimia dan tanaman padi relatif lebih tahan terhadap hama dan penyakit, kualitas produk beras menjadi lebih baik.
(baca : NOSC, FTP UGM Panen Demplot Padi SRI, dan Budidaya dan Keunggulan Padi Organik Sistem SRI)

Walaupun dengan sistem pengairan biasa, pelaksanaan budidaya padi sistem jajar legowo agak mirip dengan metode SRI. Penanaman bibit 1 - 2 perlubang dan dengan jarak tanam yang diatur perblok, metode jajar legowo mampu meningkakan poduktifitas pada varietas lokal sebesar hampir 40% (dari 6,5 ton/ha menjadi 8,5 ton/ha). Introduksi budidaya organik pada sistem jajar legowo secara signifikan juga meningkatkan produktifitas dan kualitas hasil. (baca : Penanaman Padi Sistem Jajar Legowo, Jajar Legowo Tingkatkan Produksi Petani, Cara Tanam Padi Sistem Legowo, Jatim Terapkan Jajar Legowo)

Apa kesimpulannya ?

Melihat ketiga fenomena di atas, terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara pengembangan SRI dan Jajar Legowo dengan padi hibrida. Perkembangan SRI dan Jajar Legowo berjalan dengan lambat, sedangkan perkembangan padi hibrida walaupun masih menimbulkan masalah, berkembang cukup pesat. Secara teknis, pengembangan SRI dan Jajar Legowo ditangani dalam program-program pemerintah (seperti  SRI - Disimp yang ditangani Nippon Koei melalui dana Loan JBIC dan Jajar Legowo pada P4MI/PFI3P yang didanai Loan ADB), sedangkan padi hibrida ditangani langsung oleh lembaga usaha (PT. Dupont, PT. SAS,  Syngenta, dll.). Oleh karena itu, walaupun relatif lebih baru, gaung pengembangan padi hibrida lebih kencang karena berpotensi memberikan keuntungan yang sangat besar bagi pengusaha benih hibrida. Keuntungan finansial juga dirasakan Balai Benih Padi dengan perolehan royalty dan bantuan langsung dalam bentuk pendanaan kerjasama pengembangan benih hibrida yang tidak didapatkan dari pengembagan SRI atau jajar Legowo.

Akan tetapi, apabila kita lihat dari keunggulan-keunggulan yang diperoleh secara general dari ketiga sistem tersebut, tentunya kita sangat berharap bahwa sistem yang lebih berpihak pada program ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan petani lah yang mestinya lebih diutamakan pengembangannya. Barangkali, seperti biasanya, korupsi, kolusi, dan nepotisme sering mengaburkan bahkan menutupi makna sesungguhnya dari suatu sistem pembangunan di negeri ini. Kita hanya bisa berharap bahwa yang akan unggul adalah yang berpihak pada kepentingan masyarakat dan bangsa ini, bukan yang berpihak pada pengusaha dan para pengumpul harta..
.
.

Selasa, 12 Januari 2010

GREEN REVOLUTION IN ASIA

Prabhu L. Pingali and Mark W. Rosegrant
Environment and Production Technology Division International Food Policy Research Institute 1200 Seventeenth Street, N.W. Washington, D.C. 20036-3006 U.S.A.
August 1994

ABSTRACT

Intensive double or triple monocropping of rice has caused degradation of the paddy micro environment and reductions in rice yield growth in many irrigated areas in Asia. Problems include increased pest infestation, mining of soil micronutrients, reductions in nutrient-carrying capacity of the soil, build-up of soil toxicity, and
salinity and waterlogging. Emerging sustainability problems in intensive rice agriculture show the need for a greater understanding of the physical, biological and ecological consequences of agricultural intensification and greater research attention to long term management of the agricultural resource base.

1. INTRODUCTION

The Green Revolution Strategy for increasing food production in Asia was based on the intensification of the lowlands through massive investments in irrigation infrastructure and in crop research. It was presumed that lowland intensification would lead to sustainable output growth over the long term. This strategy was meant to relieve pressures on the fragile uplands by creating employment opportunities in the lowlands.

Aggregate rice output growth rate for Asia increased from 2.1% per annum during 1955-65 to 2.9% per annum during 1965-80. Rice output growth rate surpassed annual population growth rate of 3.3%. Area expansion contributed nearly one-third of Asian rice output growth in the 1960s and one-fifth in the 1970s, but virtually none in the 1980s. Rapid yield growth from 1965 to 1980, due to the adoption of modern rice varieties, was the primary contributor to rice output growth. In the past decade, however, the growth in aggregate rice output has declined to 1.5% per annum. Rice yield growth in Asia also declined sharply in the 1980s, from an annual growth rate of 2.6% in the 1970s to 1.5% during the period beginning in 1981 (Table 1). Even accounting for the income induced slow down in demand growth (Bouis, 1989, 1990a), projected demand increases are higher than the growth in rice production in the 1980s (Agcaoli and Rosegrant, 1992; IRRI, 1989).

Virtually all future output growth must come from increased rice yield per unit of land since the opportunities for further area expansion are minimal. At the field level, there is increasing evidence that the growth in rice yields has levelled off and there is a danger of future declines in yield growth, especially in the irrigated lowlands of Asia (Pingali, et al., 1990).

Intensification of irrigated land use, that is the movement from one to two or three crops of rice per year, has had positive and negative consequences. The positive impacts (especially employment and income effects) of intensification and the adoption of modern seed-fertilizer technology have been examined in great detail by the `green revolution' literature (Otsuka, et al., 1990). The post-green revolution phase of declining productivity and stagnant incomes has been analyzed only recently (Herdt, 1988; Barker and Chapman, 1988; Pingali, et al., 1990). This paper describes the factors contributing to the decline in productivity growth and the technological and policy options for reversing these trends.

2. FACTORS CONTRIBUTING TO THE DECLINE IN IRRIGATED RICE PRODUCTIVITY GROWTH

The slowdown in rice productivity growth in Asia since the 1980s has been caused by: i) world rice price induced factors; and ii) intensification induced factors. The long term decline in the world rice price has resulted in reduced investments for irrigation infrastructure, rice research and extension. At the same time, increased intensity of irrigated land use has led to increasing input requirements for sustaining current yield gains. This section argues that the combination of these factors has resulted in the observed declines in rice output growth.

WORLD RICE PRICE INDUCED DECLINE IN PRODUCTIVITY GROWTH Declining rice productivity growth can be partly attributed to the long term decline in the world rice price. The world rice price has been on a declining trend in real terms since 1900, a decline which has sharpened in the 1980s (Mitchell, 1987). The declining price of rice has caused a direct shift of land out of rice and into more profitable cropping alternatives, and has slowed the growth in use of inputs and yields. Probably more important in the long run, the declining world price has caused a slowdown in investment in rice research and irrigation infrastructure.

DECLINING RESEARCH EXPENDITURE AND OUTPUT

There was a considerable expansion of international and national support for agricultural research during the past three decades. However, annual growth in real total research expenditures in Asia declined from 7.4% in the 1961 to 1980 period, to about 4.6% during the 1980s (Rosegrant and Pingali, 1993). Expenditures per researcher have nearly remained constant over this period, and are very low in Asia compared to Sub- Saharan Africa and Latin America. Pardey and Roseboom (1990) argue that this is partly due to economies of scale because of the relatively large size of research systems in Asia. Nevertheless the relatively low spending per researcher is cause for additional concern.

Hayami and Mooroka (1987) show that there has been a corresponding decline in rice research output over this period, as measured by the number of rice research publications. The growth in number of rice research publications increased from 2.8% for 1963-70 to 4.8% for 1969-79, and then declined sharply to 1.6% for 1979-85. Moreover, Hayami and Mooroka show that the decline in rice research output over this last period was directly related to the decline in world rice prices.

The declining trend in research expenditures is particularly troublesome because a broad range of evidence shows that investment in research have been among the most socially profitable avenues for public investments. Moreover, the available evidence show that the rates of return to agricultural research have been maintained in the 1980s, despite the popular perception that returns may have declined due to the failure to introduce new varieties that increase potential rice yields. The effective use of maintenance and adaptive research has sustained the rate of return to research (Evenson and Rosegrant, 1993). Continued reductions in research expenditures will therefore increase the difficulty of sustaining rice productivity growth.

DECLINING IRRIGATION INVESTMENT AND DEGRADATION OF IRRIGATION INFRASTRUCTURE

Since the mid-1960s, the growth rate of irrigated area in the world has declined by about 60%; in Asia, it has declined by 72%. Recent sharp reduction in irrigation investment is likely to further slow the rate of growth in area irrigated. Lending and assistance for the Asia region as a whole reached its peak in real terms in 1977-79, and by 1986/87 it was only about 50% of the 1977-79 level. For South Asia, the peak lending period was 1980-82, followed by a 50% drop in annual lending by 1986/87. The decline was even more precipitous in Southeast Asia, from a peak in annual average lending of $630 million in 1977-79 to $202 million in 1986/87 (Rosegrant and Pingali, 1993).

Some countries, notably India, have insulated their irrigation investment programs from this cut-back in international lending by increasing the use of domestic funds. However, most countries in Asia, for example Indonesia, the Philippines, and Thailand, have sharply reduced total spending on irrigation as international lending has decreased.

Among the factors contributing to the reductions in investment are the large public and foreign debt loads carried by most of the countries in the region, the declining share of unexploited irrigation development, and concerns about the environmental implications of irrigation projects (Rosegrant and Svendsen, 1990). However, the most important causes of declining investment appear to be the decline in world rice prices and the increasing real costs per hectare of new irrigation development (Rosegrant and Pasandaran, 1990; Rosegrant and Mongkolsmai, 1990; Svendsen and Ramirez, 1990). The full effects of these declines in irrigation investment on rice production are just beginning to be felt due to the lags in irrigation construction.
The problem is exacerbated by the poor maintenance of much of the existing irrigation infrastructure. Despite a relative shift in overall irrigation investment in the 1980s from new construction to rehabilitation and operations and maintenance, there is evidence of continued decline in the quality of existing irrigation infrastructure.

An analysis of 92 irrigation systems in Luzon Island of the Philippines, shows that almost a third of them have declining trends in wet and dry season irrigated areas and in wet and dry season rice yields (Masicat, et. al., 1990). Between 1979 and 1989, the absolute wet and dry season irrigated area on Luzon declined by 20,466 hectares and 36,175 hectares, respectively.

The change in the relative price of rice versus non-rice crops has also increased intensification pressures on the upper watershed areas of the irrigation systems. The associated externalities on irrigation infrastructure, in terms of soil erosion leading to siltation of reservoirs and the consequent reduction in the service area of irrigation systems, are discussed in Pingali and De Vera (1993).

3. INTENSIFICATION INDUCED DECLINE IN PRODUCTIVITY GROWTH

Does intensification of irrigated land use, independent of rice price effects, lead to a long term decline in rice productivity? Intensification is defined here as the permanent movement from one rice crop per year followed by a dry season fallow, to two or three consecutive rice crops per year on the same land. The consequences of intensification on the paddy resource base can be observed only over the long term and vary by agro- climatic and management factors.

The best illustration of the consequences of intensification, independent of price effects, can be found in the examination of yield trends from long term trails conducted on experiment stations. The long term continuous cropping experiment conducted by IRRI in the Philippines is an excellent example of such trials. This experiment, set up in 1963, has been monitoring the impact of rice monoculture (with three crops per year) and as of 1993 had completed 89 consecutive crops on the same plot (Cassman, et al., 1994).

At the farm level, declining yield trends are usually not observed since input levels are not held constant over time. However, in areas where intensive rice monoculture has been practiced over the past two to three decades, one does observe stagnant yields and/or declining trends in partial factor productivities, especially for fertilizers, and declining trends in total factor productivities (Pingali, et. al., 1990; Pingali, 1992; and Cassman and Pingali, 1993).

Consider the following intensively cultivated rice bowls of Southeast Asia: Central Luzon, Philippines, Central Plains, Thailand and West Java, Indonesia, for the period 1980-1989. Farm panel data sets for each of these locations indicate that in the decade of the 1980s the rate of growth in yields was lower than the rate of growth in input use (Pingali, 1992). In Central Luzon, a 13% yield increase over a ten year period was achieved with a 21% increase in fertilizers, and a 34% increase in seeds. In the Central Plains, for the same period, yields increased by 6.5%, while fertilizer levels increased by 24% and pesticides by 53%. Similarly, for West Java, yields increased by 23%, while fertilizer use increased by 65% and pesticide use increased by 69% (Pingali, 1992).

Clearly, productivity cannot be sustained over the long term in intensive rice monoculture systems. Intensive rice monoculture on the lowlands results in the following changes in production systems: i) rice paddies flooded for most of the year without adequate drying period; ii) increased reliance on inorganic fertilizers; iii) asymmetry of planting schedules; and iv) greater uniformity in the varieties cultivated. Over the long term, these changes impose significant environmental costs due to negative bio-physical impacts (Table 3).

Environmental consequences of rice monoculture systems vary by agro-climatic conditions, soil types and the source and the quality of the irrigation water. The following, however, are the most common: 1) build up of salinity and waterlogging; 2) micro-nutrient deficiencies and increased incidence of soil toxicities; 3) formation of a hardpan (subsoil compaction); 4) decline in soil nitrogen supplying capacity; and 5) increased pest build up and pest related yield losses. A brief description of each of the problems and the possibilities for reversing them are discussed below. At the farm level, long term changes in the bio-physical environment are manifested in terms of declining total factor productivity, profitability and input efficiencies.

SALINITY AND WATERLOGGING

Intensive use of irrigation water in areas with poor drainage can lead to a rise in the water table due to the continually recharge of ground water. In the semi-arid and arid zones this leads to salinity buildup while in the humid zone to waterlogging. Salinity is induced by an excess of evapotranspiration over rainfall causing a net upward movement of water through capillary action and the concentration of salts on the soil surface. The ground water itself need not be saline for salinity to build up, it can occur due to the long term evaporation of continuously recharged water of low salt content (Moorman and Van Breemen, 1978). High water tables prevent the flushing of salts from the surface soil. Postel (1989) estimates that 24% of the irrigated land world wide suffer from salinity problems, with India, China, United States, Pakistan, and Soviet Union being the most effected.

In the short term salinity build up leads to reduced yields while in the long term it can lead to abandoning of paddy lands (Samad, et. al., 1992; Postel, 1989 and Mustafa, 1991).Induced salinity problems are caused by excessive irrigation and poor drainage, especially, seepage from unlined canals. Poor irrigation system design is a primary factor inducing salinity problems. For instance, in Pakistan's Sind Province, large areas became saline after the introduction of extensive irrigation, which led to a rise of the water table from a depth of 20 to 30 meters to 1 to 2 meters within 20 years (Moorman and Van Breeman, 1978, other examples from South Asia can be found in Chambers, 1988). "Many irrigation projects in the drier rice growing areas suffer from a lack of insight into the dynamics of salinity" (Moorman and Van Breeman, 1978). In the humid zone, induced salinity build up is not as much a problem because the higher rainfall levels help flush out the accumulated salts, however, excessive water use and poor drainage cause problems of waterlogging in this zone. Waterlogged fields have lower productivity levels because lower rates of decomposition of organic matter, lower nitrogen availability and due to the accumulation of soil toxins. These issues are discussed further along in this section.

MICRO-NUTRIENT DEFICIENCIES AND SOIL TOXICITIES

Perennial flooding of rice lands and continuous rice mono-culture leads to increased incidence of micro-nutrient deficiencies and soil toxicities. Zinc deficiency and iron toxicity are the ones most commonly observed in the tropics. Waterlogging and salinity buildup aggravate these problems. In Asia zinc deficiency is regarded as a major limiting factor for wetland rice on about 2 million hectares (Ponnamperuma, 1974). These are mainly soils of low zinc content. Soils that are not initially of low zinc content also show signs of induced zinc deficiency due to rice monoculture. Drainage, even if temporary, helps alleviate this deficiency by increasing zinc availability (Lopes, 1980; Moormann and Van Breemen, 1978).

Most rice lands do not start off with any soil toxicities, however, toxicities may build up in some soils due to continuous flooding, increased reliance on poor quality irrigation water and impeded drainage. Iron toxicity is the most commonly observed soil toxicity due to intensive rice cultivation. Other toxicities are related directly to chemical content and pollutants in the incoming irrigation water, for instance, boron toxicity has been observed on the IRRI farm due to high levels of boron in the irrigation water.

WATER QUALITY

Rice productivity can be negatively effected by waterborne pollutants, both physical pollutants (such as silt and mine tailings) or dissolved chemicals that cause soil toxicities. Pollutant concentrations in irrigation water have been increasing due to: the degradation of the watersheds that replenish the irrigation systems (Pingali and De Vera, 1993; Castańeda and Bhuiyan, 1988); industrial pollutants discharged into the river system; and due to increased pumping of brackish ground water.

LONG TERM CHANGES IN SOIL PHYSICAL CHARACTERISTICS

Seasonal cycles of puddling (wet tillage) and drying, over the long term, lead to the formation of hard pans in paddy soils. The hard pan refers to compacted sub soil that is 5-10cm thick at depths of 10-40 cm from the soil surface. Compared to the surface soil, a plow pan has higher bulk density and less medium to large sized pores. Their permeability is generally lower than that of the overlying and deeper horizons. The formation of hardpans makes it difficult to grow non-rice crops after rice in a cropping system, and for the rice crop contributes to impeded root growth and ability to extract nutrients from the subsoil and leads to the build up of soil toxicities due to the perennial waterlogged condition of the soil layer above it.

A striking example of the problem of hardpans is seen in the rice-wheat cropping system in South Asia. With the advent of short duration rice and wheat varieties, over twelve million hectares of paddy lands are grown to wet season rice followed by a dry season wheat crop. The productivity of the wheat crop is affected by the poor establishment of wheat after puddled rice. If the hardpan is broken through deep tillage and soil structures are improved through the incorporation of organic matter it affects the productivity of the subsequent rice crop by reducing water holding capacity of the soil. Intensification has reduced the flexibility of dry season crop choice by changing the soil physical structure.

CHANGES IN SOIL NUTRIENT STATUS

The most commonly observed effect of intensive rice monoculture systems is a decline in the partial factor productivity of fertilizer nitrogen. Recent work at IRRI (Cassman, et. al., 1994 and Cassman and Pingali, 1993) indicates that this is due to a decline in the nitrogen supplying capacity of intensively cultivated wetland soils. In addition to this, increased incidence of phosphorus and potassium eficiency is also observed due to a lack of nutrient balance in fertilizers applied (De Datta et al., 1988). Fertilized rice obtains 50-80% of its nitrogen requirement from the soil, and unfertilized rice obtains an even larger portion, mainly through the mineralization of organic matter (De Datta, 1981). The nitrogen supplying capacity of the soil depends on the previous cropping history and residue management, the quantity and quality of soil organic matter, and the moisture regime which affects the composition and activity of the microflora and fauna that govern the decomposition of soil organic matter and crop residues. In continuous cropping of flooded soils with two and sometimes three crops each year, organic matter is conserved or increased even when all straw is removed at harvest. This happens because of the large inputs of carbon from the aquatic biomass, such as green and blue green algae, and a slower rate of organic matter decomposition than for dry soils. Despite this conservation, the soil nitrogen supplying capacity decreases due to chemical changes in the organic matter and effects of flooded soils on microbial activity (Cassman et al., 1994). Phosphorus and potassium deficiencies are becoming widespread across Asia in areas not previously considered to be deficient. These deficiencies are directly related to the increase in cropping intensity and the predominance of year round irrigated rice production systems. For example, in China it is estimated that about two-thirds of agricultural land is now deficient in phosphorus, while in India nearly one-half of the districts have been classified as low in available phosphorus (Stone, 1986; Tandon, 1987; Desai and Gandhi, 1989). Desai and Gandhi note that this is due to the emphasis on nitrogen rather than a balanced application of all macro nutrients required for sustaining soil fertility. The result of unbalanced application of fertilizers has been a decline in the efficiency of fertilizer use over time (Desai and Gandhi, 1989; Stone, 1986; Ahmed, 1985).

INCREASING LOSSES DUE TO PESTS

The use of purchased inputs for plant protection was unimportant for rice prior to the mass introduction of modern varieties. Farmers had traditionally relied on host plant resistance, natural enemies, cultural methods, and mechanical methods such as hand weeding. Relatively minor pests--leaffolder, caseworm, armyworm and cutworm--started to cause noticeable losses in farmers' fields as area planted to modern varieties increased. The green leafhopper and brown planthopper (BPH) became major problems, the former as a vector of RTV and the latter as a direct result of insecticides killing its natural enemies (Teng, 1990). Soil pests, especially root nematodes, have also increased with intensification(Prot, et al., 1992 and Prot, 1993). Root nematodes hamper root growth and thereby effect rice yields. Pest build up in irrigated rice systems is related to: continuous rice cultivation; increased asymmetry of planting; uniformity of varieties cultivated; and injudicious pesticide use. Heong (1992) argues that prophylactic pesticide application has led to the disruption of the pest-predator balance and a resurgence of pest populations later in the crop season.

4. POLICIES FOR SUSTAINABLE PRODUCTIVITY GROWTH

The evidence thus points to increasing difficulty and higher cost in maintaining yield growth in rice, and the need for innovative policies to maintain sustainable productivity growth. The following sections of the paper will discuss policy options for sustainable growth in rice productivity in the areas of input management and crop diversification.

FERTILIZER

Achievement of relatively high levels of fertilizer use on rice in Asia has shifted concern from simply increasing the levels of use to improving the efficiency of fertilizer use. The two main aspects of increased efficiency of fertilizer use are improvement of the balance of fertilizer applications to address soil fertility constraints, and improvement of the placement and timing of fertilizer. Further work is needed to generate and extend viable technologies through location-specific research on soil fertility constraints and agronomic practices, improvement in extension services, and development of improved fertilizer supply and distribution systems.

An important policy initiative to improve the efficiency of fertilizer use is the reduction and eventual removal of fertilizer price subsidies. Subsidized fertilizer prices have induced increased use of fertilizers without encouraging efficiency of use, and have tended to favor the use of nitrogen fertilizers over other nutrients. Removal of fertilizer subsidies would correct the existing distortions in the fertilizer-labor price ratio and would make technologies that reduce fertilizer use more viable. The immediate impact would be on better timing and placement of fertilizers and the longer term impact would be on the use of organic fertilizers and fertility enhancing crop rotations, such as rice- legume systems.

Green manure technologies, especially the use of Azolla, have proven to be technically feasible but often not economically viable. Azolla used to be grown extensively in China and Vietnam when agricultural production was collectivized. Once the responsibility of production was transferred to the households, azolla production dropped dramatically in both countries. The opportunity cost of land and labor increased substantially after de-collectivization and the time taken for azolla production could be more profitably used for high value cash crop production and chemical fertilizers could be purchased with the additional income.

Where markets for secondary crops exist, the economically feasible organic fertilizer technique is a crop rotation that involves, for each year, a rice crop followed by a legume crop or two rice crops followed by a legume crop. Mungbean and soyabean are the most popular legumes used in rotation with rice. Nitrogen replenishment to the soil comes from two sources when a rice-legume system is practiced, first through nitrogen fixation and the second through residue incorporation. The net savings in chemical fertilizer for the rice crop following the legume crop is around 30%. Green manures ought to be viewed as a complement to chemical fertilizers and not as a substitute. An integrated nutrient management system in which green manures are used in association with more efficiently used chemical fertilizers would be viable when fertilizer subsidies are eliminated. An added advantage of such a system is that the legume, by acting as a break crop in the rice monoculture cycle, could disrupt the build up of insect and disease populations and prevent their carry over to the next crop. It could also help improve soil health and therefore the long term sustainability of the soil.

CROP PROTECTION

Efficiency gains in the utilization of pesticides appear to be possible through the use of integrated pest management. Adoption of IPM can increase the efficiency of pesticide use in two ways, by lowering the amount of pesticides applied without a consequent yield decline and by promoting non-chemical methods of pest control. Improved extension and training is crucial to make this technology work, as with techniques for increased fertilizer efficiency.

IPM uses resistant varieties, predator management and cultural practices along with judicious pesticide use to provide long term control of pest losses. A major force that has shaped the evolution of IPM field implementation on rice is the FAO Inter- Country Program for Integrated Pest Management for South and Southeast Asia. The program has encouraged both technical accomplishments and significant policy changes in several governments in the form of official sanctions of IPM as the means of national plant protection. Official decrees supporting IPM implementation have been promulgated in the Philippines, Indonesia, India, Sri Lanka and Malaysia (Teng, 1990).

WATER MANAGEMENT

The traditional method of rice irrigation is to continuously flood the paddy so as to maintain a constant water level. This system is inefficient and causes long term sustainability problems. The emerging problems of waterlogging and salinity build up in the intensively cultivated irrigated lowlands, are related to this inefficient water management practice. Where water induced paddy land degradation sets in, it effects the efficiency of all other inputs used. In addition to paddy land degradation, this system of irrigation management: i) imposes uncertainty for the users at the lower end of the irrigation system, in terms of the timing and quantity of water received; and ii) it reduces the flexibility of crop choice for the farmer, especially in the dry season.

Recent research has shown that intermittent flooding in order to keep the soil continuously saturated (but with no standing water) provides water savings of 40% with no significant decline in yield (Tabbal, et. al., 1992). In the dry season, intermittent water supply to the paddies would also allow for non-rice crop with minimal drainage costs (IRRI, 1990). In general, water control and distribution facilities at the system level are flexible enough to accommodate such a change. There would have to be a change in system management, especially in terms of water allocation rules. Farmer incentives for adopting such a system would depend on a change in irrigation fee collection procedures. Irrigation fees are normally collected on a per hectare basis and not on the basis of the amount of water used by the farmer. Volumetric fees would improve farmer incentives for increasing water use efficiency. As the value of water increases with rapid economic growth leading to rapid growth in non-agricultural demand for water, establishment of markets in tradable property rights to water could provide more efficient incentives for conservation of water use in rice production, by inducing farmers to consider the full opportunity costs of water (Rosegrant and Binswanger, 1994).

CROP DIVERSIFICATION

With a stagnant technological yield frontier and limited current options for increasing input use efficiency, prospects are poor for sustaining incomes through intensive irrigated monoculture rice production. Rice farmer income would depend to a large extent on the opportunities for crop and income diversification. To an extent, crop diversification could also be viewed as a means of arresting (or reducing) the long term degradation of the paddy ecosystem. The progression to crop and income diversification has taken place smoothly in countries where product markets were allowed to operate relatively freely, such as Thailand. Successful transition from rice monoculture to a rice based farming system is induced by market forces and constrained by physical factors, and does not require direct government involvement or intervention. For a detailed discussion on the opportunities and constraints to diversification see Pingali (1990).

In the lowlands, diversification options are generally limited to the dry season, because the wet season crop often continues to be rice due to high drainage requirements. The uplands have historically been diversified, with crop choices responding to market conditions. The movement into or out of rice in the uplands is not a major issue for deliberation. In the lowlands, diversification in areas with good market access would be most profitable and feasible in the irrigated lowlands and for the dry season, because of greater reliability of water supply, and higher returns to diversification investments. This is especially true on well drained soils, while on poorly drained soils that are prone to waterlogging the profitability of diversification depends on the magnitude of the drainage investment requirements. For the rainfed lowlands, the opportunities for growing a post- rice, dry season, crop depend on the risk of water stress (which is related to rainfall distribution) and/or the availability of supplementary irrigation. The following generalization is possible, the irrigated lowlands, while having an absolute advantage in a rice-rice cropping pattern, may at the same time, have a comparative advantage in a rice-non-rice cropping pattern. The extent of the comparative advantage depends on physical constraints and market opportunities for non-rice crop production. On the other hand, during the wet season, the upland environments have both an absolute and a comparative advantage in non-rice crop production.

The switch from rice mono-culture to diversified farming requires substantial start up investments plus operating expenses. This switch is generally not possible without long term and seasonal credit arrangements. Where diversification has occurred successfully, farmers have managed to acquire credit through private or public sources. No special credit arrangements were necessary for promoting diversification. Diversified farmers have similarly managed, through private arrangements, to deal with the higher labor and power requirements, higher management and supervision requirements and the higher price and production risk requirements of non-rice crops relative to rice.

5. CONCLUSIONS

The current problems of sustaining productivity growth in the Asian lowlands indicate that these areas are as susceptible to environmental degradation as the more fragile uplands. Environmental impacts of intensification on the lowlands, although not easily observed, tend to have a significant long term impact food production and food supply. For instance, if current rice yields on the irrigated lowlands of Asia dropped by 5%, the impact on total rice production would be about 10 million mt per year, based on production figures for 1989-91, an amount nearly equal to the annual volume of rice traded in the world market.

The problem of sustainability of the lowlands does not emerge mainly because of the technology being used, but rather because of the intensity of land use itself and the choice of crops. Intensive rice monoculture systems over the long term are not sustainable without adequate changes in current technologies and management practices. The argument that rice has been sustainably cultivated in China, Japan, etc for centuries is not an argument against the current problems being faced in Asia. In these countries, until recently, one crop of rice was grown per year, and the fallow period during the dry season allowed the land to be rejuvenated.

The problem of sustaining productivity growth comes about because of inadequate attention to understanding and responding to the physical, biological and ecological consequences of agricultural intensification. The focus of research resources ought to shift from a fixation on yield improvements to a wholistic approach toward the long term management of the agricultural resource base. When yield per hectare is used as the only measure of productivity growth and the "true" costs of production are not considered then research resource allocation will be biased away from understanding the systemic problems causing productivity stagnation or decline. It is unlikely that there will be quick answers for reversing the current slowing trend in productivity growth, so sustained research investments are essential.

Sustaining productivity gains in the post-green revolution era will have to come from more efficient use of inputs, including land and labor. Technologies for enhancing input efficiencies (such as better fertilizer management, integrated pest management, etc) are more knowledge intensive and location specific than the modern seed-fertilizer technology that was characteristic of the green revolution. Productivity gains accrue to farmers who have the ability to learn about the new technologies; discriminate among technologies offered to them by the research system; adapt the technologies to their particular environmental conditions; and provide supervision input to ensure the appropriate application of the technology.

Finally, we ought to emphasize that the long term productivity of the lowlands, especially the state of irrigation infrastructure, is not independent of upper watershed degradation. Where this externality is not explicitly accounted for, there is an underinvestment of research resources for upland conservation. The Green Revolution strategy of increasing lowland productivity has to a large extent relieved the pressure on the uplands by providing employment opportunities for migrant labor. However, if the current trend towards stagnation/decline in lowland productivity persists, then one could expect a decline in employment opportunities in the lowlands and hence increased pressure on the uplands.
.
.

Senin, 04 Januari 2010

Pemupukan Urea Pada Padi Sawah Irigasi Dengan Bagan Warna Daun (BWD)

Rekomendasi Teknologi Spesifik Lokasi


BWD adalah sejenis alat yang terdiri dari 6 skala warna mulai dari hijau kekuningan (skor 1) sampai hijau gelap (skor 6) yang secara tidak langsung mencerminkan kandungan klorofil daun dan status nitrogen pada tanaman.

1/3 bagian urea yang biasanya diberi- kan bersamaan pupuk dasar P dan K, tidak dilakukan bila produksinya >3 ton/ha. Bila produksinya <3 ton/ha diberi pupuk urea sebanyak 1/3 bagian bersamaan pemupukan SP36 dan KCl. Pemberian urea selanjutnya disesuaikan dengan analisa menggunakan bagan warna daun (BWD). Penentuan sampel pengamatan adalah 5 rumpun per petak secara acak yaitu 1 rumpun di tengah dan 4 rumpun di pojok. Pilih daun yang paling tinggi lalu bandingkan dengan pita warna pada BWD.


^






^














^














^






^

Catat skor warna dari lima helaian daun terpilih, lalu dirata-ratakan. Bila skor warna daun <3 untuk padi TABELA atau <4 untuk padi TAPIN, segera dipupuk urea. Pengukuran dilakukan tiap 7-10 hari dimulai sejak umur tanaman 14 hari. Pengukuran sebaiknya pagi hari, sewaktu pengukuran lindungi daun dari sinar matahari karena akan mempengaruhi pembacaan warna.

clip_image003

Hasil pengkajian:
Skor 1, EA = 23,67
Skor 2, EA = 28,14
Skor 3, EA = 27,00
Skor 4, EA = 32,69
Skor 5, EA = 24,63
BWD skor 4 menunjukkan Efisiensi Agronomi (EA) tertinggi, yaitu 32,69 kg gabah/1 kg N.

clip_image005
Sumber: BPTP Sumatera Utara
.
.

Minggu, 20 Desember 2009

Perlakuan Benih Padi


Produksi padi yang baik dan maksimal dimulai dari pemilihan dan perlakuan benih padi yang baik. Sesuai dengan anjuran pemerintah dan juga anjuran teknologi budidaya yang baik, benih padi yang digunakan sangat disarankan berasal dari benih padi bersertifikat. Benih padi yang bersertifikat menjamin :
  1. Keaslian / kemurnian varietas
  2. Daya tumbuh yang baik
  3. Masa pakai (expired product) diketahui dengan pasti, sehingga lebih terjamin.
Jaminan kualitas benih padi bersertifikat, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 23/Permentan/SR.120/2/2007, adalah :
  1. Benih belum kadaluarsa
  2. Daya tumbuh minimal 80%
  3. Kadar air 10% - 13%
  4. Kandungan kotoran maksimal 2%
  5. Kemurnian varietas minimal 98%
 Dengan kualitas yang baik, tanaman padi akan  tumbuh lebih seragam, sehingga memaksimalkan hasil saat dipanen.

Untuk memperoleh produksi yang maksimal, usaha yang baik harus dimulai sejak awal. Selain penggunaan benih bersertifikat, perlakuan benih saat akan disemaikan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan awal bibit padi. Inilah perlakuan benih padi yang baik sebelum disemaikan :

Menyortir benih yang masih memiliki daya tumbuh tinggi dengan menggunakan larutan garam.
  • Siapkan larutan garam dalam ember dengan volume sesuai dengan benih padi yang akan disortir. Konsentrasi larutan garam (takaran garam) tersebut diukur dengan menggunakan telur ayam/bebek mentah. Masukkan telur ke dalam ember berisi air. Masukkan garam sedikit demi sedikit ke dalam air sambil diaduk pelan. Pemberian garam dihentikan ketika telur mulai mengapung dalam air, hal ini menunjukkan bahwa kandungan garam telah cukup sebagai penguji benih.
  • Masukkan benih padi yang akan disortir. Kemudian diaduk sehingga semua benih tercampur dengan larutan garam tersebut. Biarkan beberapa menit, sehingga terlihat benih padi tersebut tenggelam dan sebagian kecil terapung.
  • Benih yang masih terapung merupakan benih hampa/rusak/tidak sempurna, sehigga tidak layak untuk dijadikan bibit. Walaupun benih tersebut dapat tumbuh, akan tetapi akan tumbuh menjadi bibit yang tidak sempurna.
  • Benih yang tenggelam dipilih sebagai benih yang akan disemaikan. Benih tersebut kemudian dibilas dengan air bersih sebanyak 2 kali agar larutan garamnya tercuci dengan baik.
Memeram benih sebelum disemai.
  • Benih yang akan disemai sebaiknya dibantu pertumbuhannya dengan cara diperam.
  • Benih direndam dalam air bersih selama kurang lebih 1 jam, kemudian ditiriskan dalam ayakan atau saringan sampai tidak ada air yang menetes.
  • Benih yang lembab tersebut kemudian dimasukkan dalam karung goni atau karung terigu (atau kain katun) dan dibiarkan selama 2 hari dalam ruangan yang terlindung.
  • Setelah dua hari akan nampak pada pangkal benih berwarna putih yang menandakan bahwa akar benih telah mulai tumbuh dan telah siap disemai dalam persemaian.
  • Benih yang telah diperam akan memiliki daya tumbuh yang lebih cepat dan lebih baik dibanding dengan benih yang tidak diperam, sehingga dalam persemaian akan tumbuh lebih kuat dan sehat.

Produksi padi yang baik dimulai dari benih yang baik.


Diambil dari berbagai sumber.

Sabtu, 19 Desember 2009

Mengenal SRI (System of Rice Intensification)

SRI adalah salah satu jawaban dari krisis pangan yang dihadapi Indonesia. Akan tetapi berbeda dengan metode penanaman padi yan lain, SRI Indonesia dipelopori oleh seorang engineer. Ternyata SRI lebih bisa dimengerti oleh mereka yang memahami engineering walaupun tidak menutup kemungkinan adanya pendekatan lain yang dapat menjelaskan fenomena SRI.

Apa Itu SRI ?

SRI merupakan singkatan dari System of Rice Intensification, suatu sistem pertanian yang berdasarkan pada prinsip Process Intensification (PI) dan Production on Demand (POD). SRI mengandalkan optimasi untuk mencapai delapan tujuan PI, yaitu cheaper process (proses lebih murah), smaller equipment (bahan lebih sedikit), safer process (proses yang lebih aman), less energy consumption (konsumsi energi/tenaga yang lebih sedikit), shorter time to market (waktu antara produksi dan pemasaran yang lebih singkat), less waste or byproduct (sisa produksi yang lebih sedikit), more productivity (produktifitas lebih besar), and better image (memberi kesan lebih baik) ((Ramshaw, 2001).

SRI ditemukan oleh Pendeta Madagaskar Henri de Laulanie sekitar tahun 1983 di Madagaskar. SRI lahir karena adanya kepedulian dari Laulanie terhadap kondisi petani di Madagaskar yang produktivitas pertaniannya tidak bisa berkembang. Berangkat dari keterbatasan sarana yang Laulanie bisa perbantukan pada petani (yang terdiri atas keterbatasan lahan, biaya dan waktu), ia kemudian bisa membantu melipatgandakan produktivitas pertanian sampai suatu nilai yang mencengangkan. Sampai tulisan ini dibuat, terdapat banyak penelitian yang mencoba mengungkap ‘misteri’ dibalik keberhasilan Laulanie.

Metode SRI

Keterbatasan Laulanie dalam membantu petani kemudian menjadi metode pokok SRI. Metode ini terdiri atas 3 poin utama, yaitu:

Pertama. Penanganan bibit padi secara seksama. Hal ini terdiri atas, pemilihan bibit unggul, penanaman bibit dalam usia muda (kurang dari 10 hari setelah penyemaian), penanaman satu bibit per titik tanam, penanaman dangkal (akar tidak dibenamkan dan ditanam horizontal), dan dalam jarak tanam yang cukup lebar.

Bagi yang telah terbiasa menanam padi secara konvensional, pola penanganan bibit ini akan dirasakan sangat berbeda. Hal ini karena metode konvensional memakai bibit yang tua (lebih dari 15 hari sesudah penyemaian), ditanam sekitar 5-10 bahkan lebih bibit per titik tanam, ditanam dengan cara dibenamkan akarnya, dan jarak tanamnya rapat.

Perbedaan metode penanganan bibit padi metode SRI terhadap metode konvensional dapat dijelaskan oleh penjelasan sebagai berikut,

  1. Mengapa ditanam muda? Hal ini dijelaskan oleh Katayama, yaitu melalui teori Pyllochrone. Katayama mengungkapkan bahwa penanaman bibit pada usia 15 hari sesudah penyemaian akan membuat potensi anakan menjadi tinggal 1/3 dari jumlah potensi anakan. Hal ini berarti, SRI menambah potensi anakannya sekitar 64%.
  2. Mengapa ditanam satu bibit per titik tanam? Hal ini karena tanaman padi membutuhkan tempat tumbuh yang cukup agar dia dapat mencapai pertumbuhan optimal. Analoginya adalah satu kamar kost untuk satu mahasiswa. Penambahan jumlah mahasiswa yang tinggal dalam kamar kost akan menyebabkan adanya persaingan dalam memanfaatkan fasilitas di dalam kamar kost tersebut. Begitu juga dengan padi, ketika ditanam secara banyak, maka akan terjadi persaingan untuk mendapatkan nutrisi, cahaya matahari, udara, dan bahan lainnya dalam suatu titik atau area tanam.
  3. Mengapa ditanam dangkal ? Hal ini bertujuan untuk memacu proses pertumbuhan dan asimilasi nutrisi akar muda. Jika ditanam terbenam, maka akan timbul kekurangan oksigen yang menimbulkan peracunan akar (asphyxia), dan gangguan siklus nitrogen yang dapat menyebabkan pelepasan energi, produksi asam yang tinggi serta tidak adanya rebalance H+ sehingga terjadi destruksi sel akar dan pertumbuhan struktur akar menjadi tidak lengkap. Semua akibat dari penanaman dengan cara dibenamkan akar memangkas potensi akar sampai menjadi ¼ nya saja.
  4. Mengapa ditanam dalam jarak yang cukup lebar? Hal ini untuk menjamin selama proses tumbuhnya padi menjadi padi siap panen, seluruh nutrisi, udara, cahaya matahari, dan bahan lainnya tersedia dalam jumlah cukup untuk suatu rumpun padi.

Kedua. Metode pokok SRI yang kedua adalah penyiapan lahan tanam. Penyiapan lahan tanam untuk metode SRI berbeda dari metode konvensional terutama dalam hal penggunaan air dan pupuk sintetis (untuk kemudian disebut pupuk). SRI hanya menggunakan air sampai keadaan tanahnya sedikit terlihat basah oleh air (macak-macak) dan tidak adanya penggunaan pupuk karena SRI menggunakan kompos. Sangat berbeda dengan metode konvensional yang menggunakan air sampai pada tahap tanahnya menjadi tergenang oleh air serta pemupukan minimal dua kali dalam satu periode tanam.

Mengapa demikian ? Tanah yang tergenang air akan menyebabkan kerusakan pada struktur padi sebab padi bukanlah tanaman air. Padi membutuhkan air tetapi tidak terlalu banyak. Hal lain yang ditimbulkan oleh proses penggenangan adalah timbulnya hama. Secara alamiah, seperti padi liar yang tumbuh di hutan-hutan, hama dari padi memiliki musuh alami. Untuk padi liar, yang hidup di tanah kering, musuh alami hama padi dapat hidup dan menjaga kestabilan dengan memakan hama tersebut. Ketika padi hidup di tanah yang tergenang, maka musuh alami hama padi tidak dapat hidup sedangkan hama padi dapat hidup. Bahkan, hal ini memacu adanya hama padi baru yang berasal dari lingkungan akuatik.

Pemupukan dua kali, pada awal periode tanam dan saat ditengah-tengah periode tanam memiliki dampak yang kurang signifikan dalam menjaga ketersediaan nutrisi untuk padi. Pemupukan menggunakan pupuk sintetis memang memiliki kecepatan transfer nutrisi yang cepat, tetapi hal ini tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh padi yang berusia muda karena padi tersebut hanya membutuhkan nutrisi yang relatif sedikit. Lalu sisa dari nutrisi tersebut tidak termanfaatkan bahkan dapat terbawa oleh aliran air (karena lahan tanam tergenang). Analogi dari hal tersebut adalah bayi yang diberi makanan dengan jatah 25 tahun (jika umur hidupnya 50 tahun). Tentu saja makanannya tidak termanfaatkan.

Ketiga. Prinsip ketiga dalam metode SRI adalah keterlibatan mikroorganisme lokal (MOL) dan kompos sebagai ’tim sukses’ dalam pencapaian produktivitas yang berlipat ganda. Dalam hal ini peran kompos sering disalahartikan sebagai pengganti dari pupuk. Hal ini salah, karena peran kompos lebih kompleks daripada peran pupuk. Peran kompos, selain sebagai penyuplai nutrisi juga berperan sebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga proses tumbuh padi secara optimal. Konsep bioreaktor adalah kunci sukses dari SRI. Bioreaktor yang dibangun oleh kompos, mikrooganisme lokal, struktur padi, dan tanah menjamin bahwa padi selama proses pertumbuhan dari bibit sampai padi dewasa tidak mengalami hambatan. Fungsi dari bioreaktor sangatlah kompleks, fungsi yang telah teridentifikasi antara lain adalah penyuplai nutrisi sesuai POD melalui mekanisme eksudat, kontrol mikroba sesuai kebutuhan padi, menjaga stabilitas kondisi tanah menuju kondisi yang ideal bagi pertumbuhan padi, bahkan kontrol terhadap penyakit yang dapat menyerang padi.

Engineering Approach (Pendekatan Rakayasa Teknik)


Lalu bagaimana dengan pendekatan engineering dalam SRI ? Perlu diketahui bahwa SRI menjadi kontroversi karena konsep dalam bidang pertanian tidak dapat menjelaskan mengapa SRI dapat memberikan hasil yang berlipat ganda. Dr. Mubiar Purwasasmita, mengatakan bahwa pendekatan yang harus dilakukan adalah melalui konsep PI dan POD yang sangat dikenal dalam dunia engineering.

Apa itu PI ?

Konsep PI yang menjadi acuan dalam perkembangan industri dunia, merujuk pada proses dalam skala yang semakin kecil. Menurut PI, proses yang dapat dilangsungkan dalam skala yang semakin kecil akan berlangsung lebih efektif dan efisien. Hal ini dapat dipahami karena mass and heat transfer akan berlangsung lebih baik pada skala yang lebih kecil. Hal ini adalah konsep yang telah diterima secara luas dalam dunia engineering.

Dalam kaitan dengan SRI, konsep ini diwakili oleh bioreaktor. Bioreaktor SRI adalah perwujudan dari proses-proses yang berlangsung dalam skala yang lebih kecil daripada skala yang digunakan pada pertanian konvensional. Ketika berbicara tentang penanaman padi, seharusnya yang dibahas adalah bagaimana interaksi padi dengan lingkungan sekitarnya terutama mikroba yang menjadi unsur pendukungnya. Jadi, penanaman padi tidak hanya ditinjau dari skala manusia tapi juga dari skala mikroba. Proses yang berlangsung dalam skala kecil pada bioreaktor akan menjamin efektivitas dan efisiensi penggunaan bahan akan lebih maksimal.

Konsep PI kedua adalah using less to produce more yang diwakili oleh metode penanganan bibit dan penanaman padi yang memanfaatkan sumberdaya seminim mungkin. Hal ini tidak dapat berdiri sendiri, karena disisi lain untuk meningkatkan produktivitas maka harus ada elemen produksi yang meningkat. Peningkatan kualitas lahan, bibit serta proses bioreaktor menjadi insurance agar hal ini tercapai.

Apa itu POD?

Konsep POD adalah bagaimana produksi harus sesuai dengan permintaan. Dalam SRI, produksi yang dimaksud adalah nutrisi, cahaya matahari, udara, dan bahan lainnya. Produksi kebutuhan padi akan sesuai dengan kebutuhan padi saat itu, tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Bagaimana cara bioreaktor mengetahui kebutuhan padi? Caranya adalah dengan eksudat yang merupakan bentuk komunikasi padi dengan bioreaktor. Eksudat ini berlangsung setiap saat yang menjamin bahwa produksi akan sesuai dengan kebutuhan padi. Dengan cara ini, bioreaktor akan menyediakan nutrisi dan sebagainya sesuai kondisi padi. Semua hal tersebut adalah kunci sukses dari SRI.

Sumber dari penulisan ini adalah diskusi secara langsung dengan Dr. Mubiar Purwasasmita, ahli SRI Indonesia

Minggu, 15 November 2009

KEHILANGAN HASIL PRODUKSI PADI

Dalam rangka mempertahankan swasembada beras tahun 2008, selain produksi dan produktifitas, pemerintah juga memberikan perhatian khusus kepada teknologi paska panen. Permasalahan utama yang dijumpai pada penanganan paska panen adalah masih tingginya nilai susut produksi karena penggunaan teknologi yang belum efisien. Saat ini, kehilangan hasil produksi beras masih mencapai angka di atas 20%. Salah satu faktor kehilangan hasil yang paling tinggi adalah pada proses pemanenan dan perontokan yang masih mencapai angka 14%. 6% lebih kehilangan terjadi pada proses penggilingan dan pengangkutan.

Kehilangan hasil pada saat panen yang umumnya disertai proses perontokan terjadi karena beberapa faktor yang diantaranya adalah :
  1. Tidak tepatnya umur panen atau tingkat kematangan ideal bulir padi saat panen yang menyebabkan rendahnya rendemen dan meningkatnya bulir rontok saat panen.
  2. Masih sedikitnya penggunaan sabit bergerigi atau mesin panen sebagai alat panen sehingga meningkatkan bulir rontok saat panen.
  3. Masih banyaknya perontokan secara manual dimana faktor kehilangan lebih disebabkan tercecernya bulir padi. Mekanisasi proses perontokan secara signifikan mengurangi persentase kehilangan hasil.
Kehilangan hasil juga terjadi saat penggilingan dimana banyak mesin penggilingan yang dioperasionalkan tidak memenuhi standar sehingga kualitas yang dihasilkan cukup rendah. Para pengusaha penggilingan juga masih banyak yang tidak memperhatikan faktor kecepatan putaran mesinnya yang ideal untuk menghasilkan beras yang paling baik. Umumnya, kualitas rendah disebabkan masih tingginya persentase beras pecah dan tertinggalnya kulit ari pada beras. Hal ini memerlukan proses sortasi ulang untuk menghasilkan beras yang lebih berkualitas. Dengan kualitas giling beras yang rendah, rendemen antara gabah kering dengan beras berkualitas menjadi rendah. Saat ini, rata-rata tingkat rendemen padi adalah 61% (kg beras yang dihasilkan per kg gabah kering giling), padahal idealnya dapat mencapai 65% pada tingkat kekeringan gabah standar.

Kehilangan lainnya terjadi pada saat pengangkutan, yaitu sekitar 1-2%. Penyebabnya selain faktor manusia juga terjadinya kebocoran pada karung. Pengujian kualitas beras pada pedagang besar saja sudah mengjhilangkan tonase beras sekitar 1/3 kg per kuintal pada saat disosok untuk “pengujian”.
Berapa kehilangan hasil padi nasional ? 20 % yang setara dengan 11 juta ton GKG atau bila menggunakan harga standar Rp. 2.000,- perkilogram nilainya setara dengan 22 milyar rupiah. Sungguh ini merupakan angka yang sangat tinggi.

Sejak 2007, pemerintah telah memprogramkan peningkatan produksi beras nasional sebesar 5% pertahun dalam rangka sawasembada beras. Target ini dapat dicapai bukan hanya karena peningkatan produktifitas lahan, akan tetapi juga harus disertai dengan pengurangan persentase kehilangan hasil panen.

Lantas apa yang sedang digalakkan oleh pemerintah untuk mendukung program tersebut ? Selain sosialisasi melalui penyuluh, pemerintah juga telah menjalankan program bantuan mekanisasi pertanian khususnya untuk tanaman pangan, terutama padi. Diantaranya adalah bantuan power tresher secara bertahap kepada kelompok tani, baik secara langsung maupun terintegrasi dalam program seperti PNPM Mandiri (PUAP).




Baca pula :

Produksi Beras Nasional Naik Lima Persen

EL NINO, ANCAMAN TERHADAP PRODUKSI PADI NASIONAL

Produksi Beras Nasional Sudah Mencukupi

Rabu, 11 November 2009

Varietas Unggul Padi Baru

Oleh : Ume Humaeda, SP, M.Si

Varietas unggul merupakan salah satu komponen paket teknologi budidaya padi yang secara nyata dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Pada tahun 2008 Balai Besar Penelitian Tanaman Padi telah melepas 6 varietas INPARI (INPARI 1-6), dan 3 Varietas INPARA (INPARA 1-3). Inbrida Padi Irigasi, atau lebih dikenal dengan INPARI adalah varietas-varietas unggul baru padi sawah yang cocok ditanam di lahan sawah irigasi, sedangkan Inbrida Padi Rawa (INPARA) adalah varietas-varietas unggul padi yang baik dibudidayakan pada kondisi lahan rawa, tahan terhadap rendaman, serta daya adaptasi pada kondisi lahan masam.



INPARI :

1. INPARI 1
Varietas ini dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 952/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008. Ciri-ciri varietas ini bentuk tanaman tegak, dengan tinggi tanaman 93 cm, jumlah anakan produktif mencapai 16 anakan, dan tekstur nasi pulen. Keunggulan varietas ini adalah ketahanan terhadap wereng batang coklat biotipe 2, serta agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 3, selain itu varietas INPARI 1 mempunyai ketahanan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri, serta tahan rebah. Umur tanaman yang relatif pendek (108 hari) adalah keunggulan lain dari varietas ini. Yang paling penting dari suatu varietas unggul adalah potensi produksi yang cukup tinggi, rata-rata produksi varietas INPARI 17,32 ton/ha Gabah Kering Giling (GKG) serta mempunyai potensi produksi 10 ton/ha GKG.

2. INPARI 2
Varietas INPARI 2 termasuk golongan cere, dengan umur tanaman 115 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 85-95 cm, dengan jumlah anakan 15 anakan. Potensi hasil Varietas ini adalah 7,30 ton/ha dengan rata-rata hasil 5,83 ton/ha. Varietas ini cocok ditanam di ekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl. Varietas INPARI 2 agak tahan terhadap hama wereng batang coklat, penyakit hawar daun bakteri, penyakit virus tungro. Varietas ini dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 951/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.

3. INPARI 3
Varietas INPARI 3 cocok ditanam pada lahan irigasi dengan ketinggian sampai 600 m dpl. Varietas ini termasuk dalam golongan cere, dengan umur tanaman 110 hari. Potensi hasil varietas yang dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 953/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008 ini mencapai 7,52 ton/ha dengan rata-rata hasil 6,05 ton/ha. Varietas ini tahan terhadap hama wereng batang coklat dan agak tahan terhadap penyakit Hawar daun bakteri, dan penyakit virus tungro inokulum variasi 073, 013 dan 031.

4. INPARI 4
Tidak begitu berbeda dengan Varietas INPARllainnya, INPARI4 juga memiliki ketahanan terhadap ham a . wereng batang coklat, dan agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri, serta agak tahan penyakit virus tungro inokulum varian 073 dan 031. Potensi hasil 8,80 ton/ha dengan rata-rata hasil 6,04 ton/ha. Varietas ini termasuk dalam golongan cere dengan umur tanaman 115 hari, tinggi tanaman 95-105 cm, dan 16 jumlah anakan. Varietas INPARI4 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 954/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17Juli 2008.

5. INPARI 5 MERAWU
Varietas INPARI 5 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 955/Kpts/SR.120/7/2008 tanggal 17 Juli 2008. Varietas ini termasuk golongan cere, dengan umu! tanaman 115 hari, tinggi tanaman 100-105 cm, dan jumlah anakan 15 anakan. Varietas INPARI 5 agak rentan terhadap hama wereng batang coklat Biotipe I, 2, dan 3, tetapi varietas ini agak tahan terhac:lap penyakit hawar daun bakteri, dan penyakit virus tungro inokulum varian 073 dan 031. Padaumumnya varietas . INPARI 5 cocok ditanam pad a lahan irigasi dengan ketinggian sampai dengan 600 m dpl.

6. IN PARI 6 JETE
Termasuk golongan cere indica dengan umur tanaman 118 hari, tinggi tanaman 100 cm, jumlah anakan 15 batang. INPARI 6 memiliki tekstur nasi sangat pulen dengan kadar amilosa 18 %. Potensi produksi varietas INPARI 6 produktivitas 8,60 ton/ha GKG; 12 ton/ ha GKG. Varietas ini tahan rebah, serta tahan terhadap hama wereng batang coklat biotipe 2 dan 3 serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III, IV dan strain VIII. Varietas INPARI 6 JETE diiepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 956/ Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.

INPARA

1. INPARA I
Varietas INPARA I termasuk dalam golongan Cere Indica, dengan umur tanaman 131 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 111 cm, jumlah anakan produktif varietas INPARA I dapat mencapai 18 anakan. Apabila ditanam pada kondisi lahan rawa lebak rata-rata hasil dapat mencapai 5,65 ton/ha, sedangkan apabila ditanam pada kondisi lahan rawa pasang surut rata-rata hasllnya lebih rendah yaitu 4,45 ton/ha. Varietas INPARA I memiliki potensi hasil cukup tinggi yaitu 6,47 ton/ha. Lahan rawa, baik rawa lebak maupun rawa pasang surut umumnya mengandung Fe dan Al cukup tinggi, kedua unsur ini apabila dalam kondisi banyak dapat menyebabkan keracunan pada tanaman. Varietas INPARA I memiliki toleransi keracunan Fe dan Al serta agak tahan terhadap serangan wereng batang coklat Biotipe 1 dan 2, serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri dan bias. Varietas ini cocok ditanam di daerah rawa lebak dan rawa pasang surut. Varietas INPARA I dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 957/ Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.

2. INPARA 2
INPARA 2 merupakan varietas yang termasuk dalam golongan cere indica, varietas ini agak tahan terhadap wereng batang coklat Biotipe 2 serta tahan terhadap hawar daun dan blass, serta memiliki toleransi terhadap keracunan Fe dan Al. INPARA 2 baik ditanam pada lahan pasang surut dan lahan rawa lebak. Ciri dari varietas ini adalah umur tanaman 128 hari, bentuk tanaman tegak, ketahanan terhadap rebah sedang, tinggi tanaman 103 cm dengan jumlah anakan produktif mancapai 16 batang. Potensi hasil INPARA 2 mencapai 6,08 ton/ha dengan rata-rata hasil pada lahan rawa lebak 5,49 ton/ha, dan pada lahan rawa pasang surut 4,82 ton/ha. Varietas INPARA 2 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 958/Kpts/SR.120/7!2008 tanggal 17Juli 2008.

3. INPARA 3
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 960/Kpts/SR.120/7I2008 Tanggal 17 Juli 2008 Varietas INPARA 3 dilepas. INPARA 3 agak toleran rendaman selama 6 hari pada fase vegetatif, agak toleran keracunan Fe dan Al, baik ditanam di daerah rawa lebak, rawa pasang surut potensial dan di sawah irigasi yang rawan terhadap banjir. Varietas INPARA 3 termasuk dalam golongan cere indica, tekstur nasi pera, dengan umur tanaman 127 hari, tinggi tanaman 108 cm, bentuk tanaman tegak, dengan jumlah anakan produktif 17 anakan. Potensi hasil INPARA 3 mancapai 5,6 ton/ha, dengan rata-rata hasil 4,6 ton/ ha GKG.

Peran Penyuluh Pertanian di lapangan. Berkaitan dengan telah dilepaskannya varietas baru tersebut, maka penyuluh pertanian perlu mencari tahu, mencoba, dan menginformasikan kepada petani varietas-varietas yang cocok dan menguntungkan di wilayah kerjanya.

Ume Humaedah, SP., M.Si
Penulis dari BBP2TP
Dimuat dalam Tabloid Sinar Tani, 10 Juni 2009

PRINSIP BUDIDAYA PADI

Penyusun : Wigati Istuti dan Endah R
Diproduksi : IPPT Wonocolo

VARIETAS DAN KEBUTUHAN BENIH
Pergiliran varietas harus dilaksanakan guna memperpanjang sifat ketahanan suatu varietas atas serangan hama dan penyakit tertentu. Hama dan penyakit utama seperti wereng coklat, virus tungro, bakteri hawar daun atau kresek ( Xanthomonas capetris sp ) dan bias ( Pyricularia oryzae) dikendalikan dengan penerapan pergiliran varietas. Beberapa hal penting yang harus dipertimbangkan dalam memilih varietas di wilayah hamparan tertentu :

  1. Varietas umur sedang 120 hari - 130 hari, agar tidak mengganggu pola tanam.


  2. Benih bermutu baik dengan daya tumbuh > 90%, campuran varietas lain (cvl) kurang dari 1%. Benih berasal dari produsen yang dapat dipercaya.


  3. Kebutuhan benih 30 - 35 kg/ha untuk cara pindah dan jajar legowo 35 - 40 kg/ha.


  4. Di daerah endemis serangan penyakit tungro dapat dipilih varietas Memberamo, IR-66, dan IR-74.


  5. Di daerah endemis serangan wereng coklat dapat dipilih varietas : Memberamo, Digul, Barumun, Way Apo Buru, Widas dan Ketonggo (ketan).


  6. Di daerah endemis penyakit hawar daun bakteri dianjurkan menggunakan varietas : Way Apo Buru, Krueng Aceh, Memberamo, Cilosari, Cibodas, Maros dan Widas.


  7. Memberamo lebih sesuai ditanam pada musim hujan II (MH II) atau musim gadu (MK I). Bila terpaksa ditanam pada musim hujan, dosis N yang dianjurkan adalah 200 kg Urea dengan pengairan berkala atau terputus-putus.


  8. Untuk daerah yang tidak terjadi masalah serangan hama dan penyakit varietas yang dipilih : IR-64, Way Apo Buru dan Widas pada MH, pada MK71 varietas Memberamo, Widas/Way Apo Buru.


  9. Sawah tadah hujan dapat ditanam varietas Grata, Way Rarem, Towuti, IR-64 dan IR-36.

PESEMAIAN DAN BIBIT
Yang harus diperhatikan dalam membuat pesemaian agar diperoleh bibit yang sehat/kuat antara lain yaitu:

  1. Untuk setiap 1 hektar pertanaman padi, area pesemaian yang disiapkan seluas 5% (1/20-nya).


  2. Pesemaian dibuat pada area yang mudah di airi, dan tidak di area bekas serangan tungro dan penggerek batang.


  3. Hindarkan pembuatan pesemaian dekat lampu agar tidak menarik hama wereng dan penggerek batang.


  4. Benih di rendam selama 24 jam dan diperam selama 24 jam.


  5. Untuk daerah endemis serangan wereng coklat, benih sebaiknya diperlakukan dengan cara dicampur dulu dengan insektisida fipronil sebelum disemaikan.


  6. Pemupukan pesemaian dengan 10 kg Urea + 5 kg SP-36 + KCi 3 kg setiap 500 m2 diberikan 5 hari setelah tabur benih.


  7. Untuk mencegah serangan wereng coklat, benih dicampur dulu dengan insektisida fipronil (Regent 50 SC).


  8. Pencegahan serangan penggerek batang dan tungro, pesemaian disemprot dengan penaburan insektisida karbofuran 20 gr/10 m2 atau insektisida lain bila dijumpai serangga penular.


  9. Bibit dipindahkan pada umur 25 - 28 hari.


  10. Penanaman pada lahan yang PH > 6,5 atau diperkirakan kahat Zn, bibit sebelum ditanam supaya dicelup dalam larutan 2% Zn S04 selama 2 menit.


  11. Bibit yang menunjukkan gejala penyakit tungro (warna daun kuning kemerahan dan kaku) atau adanya gejala ganjur tidak ditanam.

PENGOLAHAN LAHAN
Pengolahan tanah dimaksudkan untuk mendapatkan media tumbuh yang baik bagi tanaman, dan juga berfungsi sebagai tindakan pengendalian gulma. Anjuran pengolahan tanah sebagai berikut:
  1. Dianjukan menambah 2-5 ton/ha bahan organik (pupuk kandang / kompos ) diberikan sebelum pengolahan tanah I, terutama pada tanah yang kadar bahan organiknya rendah.
  2. Tanah berat dibajak dua kali, arah bajakan membentuk garis silang tegak lurus, kedalaman bajak 15 - 20 cm. Tanah ringan pembajakan dilakukan satu kali dan digaru satu kali pada kedalaman sekitar 25 cm.
  3. Untuk melumpurkan dan meratakan tanah, tanah dirotari dan di "gelebek" satu atau dua kali. Bila tidak terdapat rotari bisa dicangkul atau dilakukan penggaruan.
  4. Gulma dan sisa tanaman diambil dan disingkirkan dari petakan sawah.
  5. Untuk keserempakan saat tanam, waktu yang diperlukan saat pengolahan tanah pertama hingga lahan siap tanam sekitar 2 minggu.
PENANAMAN
Penanaman dapat dilakukan dengan sistem pindah biasa atau JAJAR LEGOWO

  1. Saat tanam diupayakan seserempak mungkin, dalam suatu hamparan seluas + 50 ha diusahakan selesai sekitar 10 hari.


  2. Pembuatan jarak tanam dilakukan dengan menggunakan garetan atau "blak" yang telah ditentukan jarak tanamnya.


  3. Jarak tanam :


    • Tapi biasa : 18cm x 18cm ; 20cm x 18cm ; 20cm x 20cm, 2-3 bibit/rumpus.


    • Jajar legowo : 40 cm x ( 20 cm x 10 cm ), jarak antar barisan berselang - seling 40cm dan 20cm, jarak dalam barisan l0cm, 2-3 bibit/ rumpus.

PENYIANGAN

  1. Penyiangan secara manual atau menggunakan "osrok"/ landak.


  2. Penyiangan dapat dilakukan secara kombinasi dengan herbisida dan tangan, dengan teknik sebagai berikut


    • Penyemprotan herbisida purna tumbuh pada umur±15 hari, dosis 2 – 3 It/ha atau menurut petunjuk. Contoh herbisida Saturn-D, Ally, Rumpass, Agroxon, Ronstar dll.


    • Penyiangan pada umur _+ 30 hari bisa menggunakan tangan atau "osrok".

PEMUPUKAN

  1. Dosis pupuk Urea 250-300 kg/ha, diberikan 2 kali umur 1/2 dosis pada 8-15 hari setelah tanam (HST) dan ½ dosis pada saat primordia (45 hst). Pada tanah porus Urea diberikan tiga kali yaitu pada umur ± 15 hst, + 28 hst dan 42 hst, masing-masing 1/3 dosis Urea.


  2. Dosis pupuk P dan K ditentukan berdasarkan hasil analisa tanah yaitu dosis SP-36 50-100 kg dan KCI 50-75 kg/ha.


  3. Saat ini di pasar bebas telah beredar pupuk alternatif, selain pupuk standar seperti Urea, SP-36 dan KCI.


  4. Lebih jelasnya dosis pemupukan N, P dan K maupun pupuk alternatif tanaman padi dapat di konsultasikan dengan PPL/BPP setempat.

PENGAIRAN

  1. Usahakan pengelolaan air seefisien mungkin, agar penggunaan air lebih hemat sehingga areal yang diairi lebih luas.


  2. Sistem pengairan terputus (diairi 4-6 hari sekali) memberikan hasil yang sama dengan pengairan tergenang terus menerus dan dapat menekan populasi hama dan penyakit.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
Pengendalian hama dan penyakit utama tanaman padi seperti tikus, wereng, penggerek batang dan penyakit tungro, sbb:

a. Pengendalian Tikus

  1. Pengendalian tikus dengan bubu dilakukan seawal mungkin, yaitu pada saat pengolahan tanah sampai panen. Pemasangan bubu dipesemaian maupun dipertanaman merupakan salah satu cara menekan populasi tikus.


  2. Pengendalian dengan racun tikus, terdapat dua macam racun yaitu racun akut ( sangat beracun, membunuh tikus dengan cepat ) dan racun kronis (membunuh -tikus setelah makan berulang-ulang ).


  3. Pengumpanan dengan racun akut efektif dilakukan pada saat bera menjelang musim hujan, pada saat itu sumber makanan tidak tersedia.


  4. Saat pertumbuhan vegetatif umpan diletakkan di pematang dengan jarak ± 50 m antar lokasi umpan.


  5. Pada fase bunting, umpan diletakkan pada petak sawah sejauh satu meter dari pematang.


  6. Saat padi berbunga hingga panen, tikus sedang bunting atau beranak, pengemposan dengan asap belerang atau karbit merupakan cara yang efektif. Pemasangan umpan pada fase ini tidak efektif, karena sumber makanan melimpah.

b. Pengendalian Wereng Coklat

  1. Tanam serempak, selang waktu tanam dalam satu hamparan tidak lebih dari 3 minggu.


  2. Laksanakan pergiliran varietas.


  3. Setiap varietas jangan ditanam lebih dari 2 kali berturut-turut dalam setahunnya, selingi dengan palawija.


  4. Pembuatan pesemaian dan penyediaan bibit sehat.


  5. Hindarkan pemupukan N (Urea) berlebihan. Pupuk. K (KCI) dapat mengurangi keparahan akibat serangan hama wereng.


  6. Pada tanaman terserang, keringkan petakan 3 - 4 hari. Segera setelah panen tunggul jerami di bakar dan di bajak.


  7. Apabila dalam pengamatan ditemukan lebih dari 5 ekor wereng saat tanaman berumur kurang 40 hari, dan lebih dari 20 ekor wereng pada tanaman berumur lebih dari 40 hari. Tanaman disemprot dengan insektisida seperti Applaud, Regent 50 SC, Confidor 5 WP, atau Winder 25 WP.

c. Penyakit Tungro

  1. Segera setelah panen tanah dibajak agar singgan tidak tumbuh. Tanam seawal mungkin secara serempak.


  2. Pergiliran tanaman padi - padi - palawija.


  3. Gunakan varietas tahan tungro seperti Mamberamo, IR-66, dan IR-74.


  4. Mencabut tanaman yang terserang.


  5. Pengendalian secara kimiawi dilakukan sejak di pesemaian dengan insektisida karbofuran (Furadan, Curater dll), atau dengan Confidor 5 WP.

d. Penggerek Batang.

  1. Sampai saat ini tidak ada varietas padi yang tahan terhadap penggerek batang. Lakukan tanam serempak.


  2. Memotong jerami serendah mungkin dan di bakar.


  3. Hindarkan pemupukan N yang berlebihan, pupuk K dapat mengurangi keparahan akibat serangan penggerek batang.


  4. Segera setelah panen tunggul jerami dibakar dan dibajak.