Laman

Tampilkan postingan dengan label Pupuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pupuk. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Maret 2010

Padi SRI Tidak Identik dengan Padi Organik

Metoda SRI (System of Rice Intensification) memang sangat menganjurkan penggunaan pupuk organik sebagai langkah jangka panjang untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah serta hasil yang lebih baik (terutama segi kualitas beras yang dihasilkan). Akan tetapi metoda SRI tidak harus menggunakan pupuk organik untuk dapat menghasilkan produksi yang maksimal.

Di beberapa tempat dimana diadakan petak-petak percontohan, kesalahpahaman bahwa SRI mutlak harus menggunakan pupuk organik adalah suatu kesalahan fatal dalam perkembangan aplikasi metode ini. SRI hanyalah suatu metode dimana kondisi lingkungan mikro pertanaman padi dibuat menjadi lebih optimal dengan memberikan keleluasaan tumbuh yang lebih baik, aerasi daerah perakaran yang lebih optimal, dalam lingkup irigasi menggunakan ketersediaan air yang lebih efisien sehingga ketersediaan air dapat digunakan dalam areal yang lebih luas.

Penggunaan pupuk organik yang disyaratkan pada praktek petak percontohan tanpa penjelasan yang jujur dan bijak menjadi kendala utama bagi perkembangan pelaksanaan metode SRI selama ini. Selain itu, beberapa kendala lainnya juga dijumpai di tingkat lapangan, sehingga SRI dianggap sebagai metode yang sulit dilakukan oleh petani, yaitu diantaranya adalah :
  1. SRI "harus" menggunakan pupuk organik dimana sampai saat ini petani belum siap memproduksi pupuk organik sendiri dan pupuk organik masih "mahal" untuk dibeli.
  2. Penanaman 1 (satu) bibit perlubang tanam dengan bibit yang masih muda msih merupakan praktek yang sulit dilaksanakan petani karena harius dilaksanakan secara cepat.
  3. Sistem pemberian air yang terputus (intermitten) di lahan beririgasi merupakan hal yang masih sulit dilaksanakan dimana pergiliran pengairan pada petak-petak tersier / sekunder dilaksanakan berdasarkan waktu hari (10 harian, 2 mingguan atau pada musim kemarau di daerah kering dilaksanakan sebulan sekali)
  4. Proses pengeringan lahan di lahan beririgasi yang relatif datar masih sulit dilaksanakan.
Dari beberapa kendala yang dijumpai di tingkat lapangan seperti disebutkan di atas, pengembangan metode SRI sebaiknya dilaksanakan dengan faktor pendukung berkut :
  1. Pada saat sosialisasi, perlu ditekankan bahwa SRI tidak harus menggunakan pupuk organik atau SRI dilaksanakan sebagai bagian dari integrated farming system (pertanian terpadu) terutama antara tanaman dan ternak (sapi atau ayam). Pada sistem pertanian terpadu, kebutuhan pupuk organik dapat dipenuhi dari limbah ternak, sedangkan kebutuhan pakan ternak dapat dipenuhi dari limbah tanaman (jerami atau sekam/dedak).
  2. Lebih mengutamakan pengembangan di areal dengan ketersediaan buruh tani yang cukup setiap musim tanam atau dengan penekanan sistem bertani secara berkelompok (sistem gotong royong).
  3. Pengembangan diutamakan pada areal dengan kemiringan yang cukup (mungkin lebih dari 3%) atau bahkan pada lahan dengan terasering agar proses pengeringan dapat dilakukan dengan baik (pada lahan dengan proses drainase / pembuangan air yang lebih baik). Selain itu, SRI nampaknya lebih cocok dikembangkan pada luas petakan yang lebih sempit (kurang dari 2000 m2) agar proses penanaman bibit da pengeringan dapat dilakukan secara cepat.
  4. Pelaksanaan SRI disertai dengan pengembangan budaya pembuatan saluran keliling atau cacingan pada setiap petak tersier. Sejak belasan tahun lalu, saluran cacingan ini telah disosialisasikan dalam rangka pengaturan air yang lebih baik pada lahan yang sulit menerapkan jadwal penanaman serempak dan juga sebagai langkah preventif bagi pengendalian hama tikus dan lainnya (PHT dengan pengaturan lingkungan).
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas, nampaknya pengembangan SRI di Indonesia sebaiknya dikonsentrasikan pada lahan dengan terasering dimana luas petakannya lebih sempit dan kebutuhan tenaga buruh untuk setiap petakan dapat dipenuhi setiap saat. Selain itu, proses pengeringan lahan akan lebih mudah dilaksanakan.

Kembali pada persoalan pokok dimana SRI sering diidentikkan dengan padi organik. Beberapa petak percobaan di lahan petani menunjukkan peningkatan hasil yang signifikan dengan hanya menerapkan pupuk kimia berimbang sesuai anjuran setempat. Penggunaan pupuk organik terutama yang berasal dari ternak sapi memang merupakan teknologi yang sangat dianjurkan untuk pertanaman padi, dengan SRI atau tanpa SRI. Hal ini sangat erat kaitannya dengan perbaikan strukutur tanah dalam jangka yang panjang melalui perkembangan mikroorganisme tanah yang lebih baik dan pemenuhan unsur-unsur hara mikro yang secara nyata memperbaiki kualitas beras yang dihasilkan. Beberapa demplot yang dilaksanakan dengan metode konvensional oleh Departemen Pertanian, menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kandang ternak sapi yang tercampur dengan urine sapi (takaran 2 ton/ha) dengan 50% dosis penggunaan pupuk kimia secara nyata meningkatkan produksi padi sekitar 25% sampai 40% dengan kualitas beras yang lebih baik.
.

Senin, 04 Januari 2010

Pemupukan Urea Pada Padi Sawah Irigasi Dengan Bagan Warna Daun (BWD)

Rekomendasi Teknologi Spesifik Lokasi


BWD adalah sejenis alat yang terdiri dari 6 skala warna mulai dari hijau kekuningan (skor 1) sampai hijau gelap (skor 6) yang secara tidak langsung mencerminkan kandungan klorofil daun dan status nitrogen pada tanaman.

1/3 bagian urea yang biasanya diberi- kan bersamaan pupuk dasar P dan K, tidak dilakukan bila produksinya >3 ton/ha. Bila produksinya <3 ton/ha diberi pupuk urea sebanyak 1/3 bagian bersamaan pemupukan SP36 dan KCl. Pemberian urea selanjutnya disesuaikan dengan analisa menggunakan bagan warna daun (BWD). Penentuan sampel pengamatan adalah 5 rumpun per petak secara acak yaitu 1 rumpun di tengah dan 4 rumpun di pojok. Pilih daun yang paling tinggi lalu bandingkan dengan pita warna pada BWD.


^






^














^














^






^

Catat skor warna dari lima helaian daun terpilih, lalu dirata-ratakan. Bila skor warna daun <3 untuk padi TABELA atau <4 untuk padi TAPIN, segera dipupuk urea. Pengukuran dilakukan tiap 7-10 hari dimulai sejak umur tanaman 14 hari. Pengukuran sebaiknya pagi hari, sewaktu pengukuran lindungi daun dari sinar matahari karena akan mempengaruhi pembacaan warna.

clip_image003

Hasil pengkajian:
Skor 1, EA = 23,67
Skor 2, EA = 28,14
Skor 3, EA = 27,00
Skor 4, EA = 32,69
Skor 5, EA = 24,63
BWD skor 4 menunjukkan Efisiensi Agronomi (EA) tertinggi, yaitu 32,69 kg gabah/1 kg N.

clip_image005
Sumber: BPTP Sumatera Utara
.
.

Senin, 28 Desember 2009

Pupuk Organik (Kompos)

Menurunnya kandungan bahan organik tanah ditengarai disebabkan karena cara budidaya pertanian yang kurang memperhatikan kandungan bahan organik. Salah satunya penggunaan pupuk kimia yang sangat intensif. Petani lebih memperhatikan penambahan unsur hara kimia dan tidak memperhatikan bahan organik. Misalnya: petani memakai urea, tetapi selalu membakar jerami setelah panen.


Salah satu akibat dari rendahnya bahan organik tanah adalah kebutuhan pupuk buatan yang semakin meningkat  tetapi  produksi justru cenderung menurun. Beberapa kakek petani pernah bercerita ke saya, jika dulu dia cukup menggunakan 100 kg NPK/ha. Sekarang mereka memupuk hingga 200 250 kg NPK/ha. Bahkan dosen Fak. Pertanian IPB pernah menceritakan jika di daerah Gunung Kidul DIY petani menggunakan pupuk  urea dengan dosis 500 kg/ha. Ini mau memupuk atau 'nguruk' tanah dengan pupuk?  Pak Haji Zaka menceritakan kepada saya jika dulu produksi padinya dengan varietas Pelita  1 bisa mencapai 10 ton/ha, tetapi sekarang produksi padinya cuma 6 7 ton/ha (varietas ciherang) meskipun pupuknya lebih banyak. Ironi sekali.

Saat ini petani sangat tergantung dengan pupuk kimia. Sayangnya pupuk sering dipermainkan banyak pihak. Ketika kebutuhan pupuk tinggi, tiba-tiba pupuk menghilang dari pasaran dan harganya membumbung tinggi. Pupuk-pupuk palsu juga banyak beredar. Saya pernah membeli pupuk SP36, tetapi setelah dianalisa kandungan P2O5- nya hanya 20%. Setelah komplain ke penjualnya, mereka menawarkan pupuk super fosfat lain, tetapi kandunganya hanya 18%. Gila....!!!!


Pemerintah harus mengeluarkan dana trilyunan rupiah untuk subsidi pupuk. Sayangnya pupuk subsidi itu banyak diselewengkan, dipakai oleh  perusahaan/perkebunan besar, dan diselundupkan keluar negeri. Subsidi pupuk seperti lebih menguntungkan perusahaan-perusahaan pupuk besar dan cukong-cukong daripada petani-petani kecil.

Kesadaran untuk kembali menggunakan pupuk organik sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Pemerintah melalui Deptan pernah mendeklarasikan 'Go Organik 2010'. Tahun 2010 tinggal satu tahun lagi, tetapi belum ada tanda-tanda kalau 'Go Organik 2010' akan terwujud.

Puncaknya ketika terjadi krisis energi tahun 2008, harga BBM naik tinggi  yang membuat biaya produksi pupuk juga meningkat.   Agar harga  pupuk  tetap rendah, pemerintah harus mengeluarkan subsidi lebih banyak lagi.   Ini jelas sangat membenani APBN.   Pemerintah kemudian mengalihkan sebagian subsidi pupuk kimia buatan ke pupuk organik.

Pemupukan memakan kurang lebih 60% dari seluruh biaya produksi di industri perkebunan. Bagi perkebunan-perkebunan besar, naiknya harga pupuk sangat membebani anggaran pemupukan mereka. Salah satu alternatif solusinya adalah mereka 'berbondong-bondong' beralih menggunakan pupuk organik.

Pupuk organik berbeda dengan pupuk kimia buatan (lebih jelasnya silahkan baca di  http://isroi.wordpress.com/2008/02/26/pupuk-organik-pupuk-hayati-dan-pupuk-kimia/). Manfaat dari pupuk organik adalah untuk meningkatkan kandungan bahan organik tanah yang  banyak  memiliki  peranan penting  di  dalam  tanah. Bahan organik  tanah menjadi salah satu indikator kesehatan tanah karena memiliki  beberapa peranan kunci di tanah. Peranan-peranan kunci bahan organik tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:

a. Fungsi Biologi:

  • menyediakan  makanan  dan  tempat  hidup  (habitat)  untuk organisme (termasuk mikroba) tanah
  • menyediakan energi untuk proses-proses biologi tanah
  • memberikan kontribusi pada daya pulih (resiliansi) tanah b.  Fungsi Kimia:
  • merupakan ukuran kapasitas retensi hara tanah
  • penting untuk daya pulih tanah akibat perubahan pH tanah
  • menyimpan cadangan hara penting, khususnya N dan K

c. Fungsi Fisika:

  • mengikat partikel-partikel tanah menjadi lebih remah untuk meningkatkan stabilitas struktur tanah
  • meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air
  • perubahahan moderate terhadap suhu tanah

Fungsi-fungsi bahan organik tanah ini saling berkaitan satu dengan yang lain.  Sebagai contoh bahan organik tanah menyediakan nutrisi untuk  aktivitas mikroba yang juga dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik, meningkatkan  stabilitas agregat  tanah, dan meningkatkan daya pulih tanah.

Cara sederhana untuk melihat peranan pupuk organik, dalam hal ini kompos, adalah sebagai berikut. Jika tanah berpasir diberi kompos, maka tanah berpasir akan menjadi lebih gembur/remah, agregat tanah terbentuk, dan tanaman dapat tumbuh lebih baik.  Demikian pula jika tanah liat diberi kompos.  Sifat fisik tanah akan menjadi lebih gembur dan remah, tanah akan berkurang 'kelengketannya' dan tanaman dapat tumbuh lebih baik.


Penggunaan pupuk organik akan meningkatkan efisiensi penyerapan hara oleh tanaman. Penggunaan pupuk organik yang dikombinasikan dengan  pupuk kimia dapat mengurangi dosis pupuk kimia. Serapan hara tanaman  meningkat dan  produksinya  pun  cenderung menjadi lebih tinggi.

.
.

Rabu, 07 Oktober 2009

Merugi Kok Ekspor Pupuk?


detikcom - Rabu, 7 Oktober 2009

Nasib produsen pupuk dalam negeri seperti buah simalakama, pada saat keran ekspor telah dibuka justru harga pupuk internasional berangsur turun. Di sisi lain jika tidak segera diekspor setidaknya 1 juta ton lebih pupuk menumpuk di gudang yang dipastikan kerugian sudah di depan mata.

"Justru saat harga bagus kita seharusnya ekspor, contohnya kemarin saat harga US$ 700. Sekarang harga US$ 250, hilang kesempatan kan," kata Direktur Utama PT Petrokimia Gresik Arifin Tasrif saat ditemui di sela-sela acara pemaparan road map Kadin bidang industri pengolahan di Jakarta, Selasa (6/10/2009).

Ia mengatakan dengan harga pupuk saat ini telah mencapai US$ 250 per ton, dipastikan produsen pupuk hanya mendapat margin tipis atau impas jika diekspor. Saat ini, kata dia, biaya produksi setiap ton pupuk mencapai US$ 175 per ton, itu pun harus ditambah biaya-biaya ekspor lainnya seperti perusahaan perantara ekspor dan lain-lain. Meskipun demikian ia mengatakan ekspor pupuk mau tidak mau harus dilakukan pada tahun ini karena saat ini sudah ada 1,5 juta ton pupuk menganggur. Total izin ekspor pupuk yang diizinkan oleh Departemen Perdagangan hasil rekomendasi Departemen Pertaniannya hanya mencapai 500.000 ton urea. "Tentu (harus ekspor), kan ada hampir 1,5 juta ton menganggur. Modal kerjanya bisa sekitar Rp 3 triliun lebih (semua produsen pupuk dalam negeri)," jelasnya.

Mengenai rencana ekspor pupuk tahun 2010, menurutnya sangat tergantung dengan masing-masing produsen yang tentunya sudah memiliki rencana masing-masing. Tetapi masalah izin dan kuota akan tetap ditentukan oleh pemerintah. Pihaknya Petrokimia Gresik sendiri, lanjut Arifin, memiliki kapasitas produksi urea yang sangat kecil karena bukan produsen utama urea. Pada tahun 2009 ini Petrokimia mendapat alokasi ekspor sebanyak 16 ribu ton urea, diperkirakan tahun depan sekitar 20 ribu ton. Ia mengatakan saat ini kapasitas produksi pupuk urea secara nasional mencapai 7 juta ton. Tetapi banyak pabrik pupuk yang tidak berfungsi karena masalah pasokan gas dan harga gas yang tinggi.