Laman

Minggu, 15 November 2009

KEHILANGAN HASIL PRODUKSI PADI

Dalam rangka mempertahankan swasembada beras tahun 2008, selain produksi dan produktifitas, pemerintah juga memberikan perhatian khusus kepada teknologi paska panen. Permasalahan utama yang dijumpai pada penanganan paska panen adalah masih tingginya nilai susut produksi karena penggunaan teknologi yang belum efisien. Saat ini, kehilangan hasil produksi beras masih mencapai angka di atas 20%. Salah satu faktor kehilangan hasil yang paling tinggi adalah pada proses pemanenan dan perontokan yang masih mencapai angka 14%. 6% lebih kehilangan terjadi pada proses penggilingan dan pengangkutan.

Kehilangan hasil pada saat panen yang umumnya disertai proses perontokan terjadi karena beberapa faktor yang diantaranya adalah :
  1. Tidak tepatnya umur panen atau tingkat kematangan ideal bulir padi saat panen yang menyebabkan rendahnya rendemen dan meningkatnya bulir rontok saat panen.
  2. Masih sedikitnya penggunaan sabit bergerigi atau mesin panen sebagai alat panen sehingga meningkatkan bulir rontok saat panen.
  3. Masih banyaknya perontokan secara manual dimana faktor kehilangan lebih disebabkan tercecernya bulir padi. Mekanisasi proses perontokan secara signifikan mengurangi persentase kehilangan hasil.
Kehilangan hasil juga terjadi saat penggilingan dimana banyak mesin penggilingan yang dioperasionalkan tidak memenuhi standar sehingga kualitas yang dihasilkan cukup rendah. Para pengusaha penggilingan juga masih banyak yang tidak memperhatikan faktor kecepatan putaran mesinnya yang ideal untuk menghasilkan beras yang paling baik. Umumnya, kualitas rendah disebabkan masih tingginya persentase beras pecah dan tertinggalnya kulit ari pada beras. Hal ini memerlukan proses sortasi ulang untuk menghasilkan beras yang lebih berkualitas. Dengan kualitas giling beras yang rendah, rendemen antara gabah kering dengan beras berkualitas menjadi rendah. Saat ini, rata-rata tingkat rendemen padi adalah 61% (kg beras yang dihasilkan per kg gabah kering giling), padahal idealnya dapat mencapai 65% pada tingkat kekeringan gabah standar.

Kehilangan lainnya terjadi pada saat pengangkutan, yaitu sekitar 1-2%. Penyebabnya selain faktor manusia juga terjadinya kebocoran pada karung. Pengujian kualitas beras pada pedagang besar saja sudah mengjhilangkan tonase beras sekitar 1/3 kg per kuintal pada saat disosok untuk “pengujian”.
Berapa kehilangan hasil padi nasional ? 20 % yang setara dengan 11 juta ton GKG atau bila menggunakan harga standar Rp. 2.000,- perkilogram nilainya setara dengan 22 milyar rupiah. Sungguh ini merupakan angka yang sangat tinggi.

Sejak 2007, pemerintah telah memprogramkan peningkatan produksi beras nasional sebesar 5% pertahun dalam rangka sawasembada beras. Target ini dapat dicapai bukan hanya karena peningkatan produktifitas lahan, akan tetapi juga harus disertai dengan pengurangan persentase kehilangan hasil panen.

Lantas apa yang sedang digalakkan oleh pemerintah untuk mendukung program tersebut ? Selain sosialisasi melalui penyuluh, pemerintah juga telah menjalankan program bantuan mekanisasi pertanian khususnya untuk tanaman pangan, terutama padi. Diantaranya adalah bantuan power tresher secara bertahap kepada kelompok tani, baik secara langsung maupun terintegrasi dalam program seperti PNPM Mandiri (PUAP).




Baca pula :

Produksi Beras Nasional Naik Lima Persen

EL NINO, ANCAMAN TERHADAP PRODUKSI PADI NASIONAL

Produksi Beras Nasional Sudah Mencukupi

Tidak ada komentar: