Laman

Jumat, 15 Januari 2010

Padi Hibrida - Alternatif atau Masalah ?

Kira-kira lima tahun terakhir ini, padi hibrida telah masuk sebagai varian introduksi padi di Indonesia. China adalah negara pertama yang memasukkan padi rekayasa genetik itu. Hasilnya ? Luar biasa, dari rata-rata produktifitas padi konvensional di Gorontalo sebesar 6-7 ton/ha, seorang petani maju telah mengusahakan padi hibrida dengan rata-rata produksi 12-14 ton/ha (2006-2007). 
Padi hibrida merupakan hasil persilangan dari dua induk (genetically-fixed varieties) yang mampu menunjukkan sifat superior (efek heterosis), terutama potensi hasilnya.  Akan tetapi efek heterosis ini akan hilang pada generasi berikutnya.  Oleh sebab itu, benih yang dihasilkan padi hibrida tidak dapat digunakan sebagai benih untuk musim tanam berikutnya.  Hal ini menyebabkan bisnis benih hibrida menjadi menarik, karena petani akan tergantung pada pasokan benih dari produsennya. 
Padi merupakan tanaman yang menyerbuk sendiri (self-pollinated) dimana serbuk sari dan ovarium dihasilkan pada bunga yang sama.  Oleh sebab itu, diperlukan tanaman jantan-steril sebagai salah satu induk agar proses hibridisasi dapat berlangsung sempurna.  Pengembangan padi hibrida dimulai sekitar tahun 1970, saat ditemukan tanaman jantan steril dari populasi padi liar (Oryza sativa f. Spontanea) di Hainan, Cina.  Padi liar ini disebut sebagai wild rice with abortive pollen atau disingkat padi WA.  Padi WA ini disilang dengan padi lain untuk menghasilkan jantan steril yang disebut sebagai galur maintainer.
Melalui proses persilangan yang diulang terus menerus (backcross) dengan induk dari galur maintainer ini diperoleh tanaman padi dengan karakter jantan steril yang stabil, yang disebut galur padi cytoplasmic male sterile atau disingkat CMS.  Tanaman padi CMS ini digunakan sebagai salah satu induk untuk menghasilkan padi hibrida.  Induk lainnya disebut sebagai galur restorer yang berfungsi memulihkan fertilitas galur CMS setelah disilangkan.  Benih yang dihasilkan merupakan benih hibrida F1 yang mempunyai sifat superior (daya hasil tinggi), tetapi potensi hasil ini tidak dapat diturunkan ke generasi berikutnya (F2 dan seterusnya). (ref : PADI HIBRIDA: Apakah ini jawabnya)

Tanaman hibrida dibuat untuk menghasilkan tanaman yang unggul, terutama produksi dan kualitasnya. Akan tetapi, dalam beberapa kasus juga dihadapkan pada beberapa masalah. Masalah yang dijumpai diantaranya adalah :
  1. Ketergantungan petani terhadap benih produksi perusahaan besar yang tentunya mahal harganya (menjadi kendala utama).
  2. Padi hibrida (seperti juga tanaman hibrida lainnya) membutuhkan pupuk yang lebih banyak.
  3. Pada beberapa kasus, padi hibrida lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit sehingga membutuhkan pestisida yang lebih banyak.
  4. Mutu beras yang dihasilkan sampai saat ini belum sebaik mutu beras varietas unggul lokal (seperti ciherang, ciliwung, dsb.)
Dari ketiga masalah tersebut, jelas bahwa petani membutuhkan modal produksi yang lebih besar. Di negara penghasil benih padi hibrida utama (China), petani padi hibrida membutuhkan pupuk  sebesar 43% lebih banyak dan pestisida sebesar 31% lebih banyak dari biasanya.

Padi hibrida dan pencapaian ketahan pangan

Walaupun masih banyak masalah di tingkat lapangan, pemerintah melalui Departemen Pertanian (khususnya Badan Litbang Pertanian), secara intensif terus mengembangkan padi hibrida melalui program Uji Multi Lokasi (UML) bekerjasama dengan PT. Dupont Indonesia (ref : Pengembangan Padi Hibrida) terhadap 14 galur calon hibrida (Mei 2009).Untuk ini, PT. Dupont telah menganggarkan dana sebesar $200,000 dan sementara itu PT. Dupont juga telah berhasil mengembangkan perbenihan hibrida Maro seluas 133,8 ha dengan hasil benih 2,7 ton dan menyerahkan royalti kepada BB Padi sebesar 4,7 milyar.

Saat ini, selain PT. Dupont, perusahaan lain, baik dalam negeri maupun luar negeri, bersaing dalam mengembangkan padi hibrida di Indonesia. BB Padi juga telah memberikan lisensi varietas padi ke perusahaan swasta lainnya. Misalnya, varietas Rokan dengan PT SAS (Sumber Alam Sejahtera) dan Hipa3 dengan PT Syngenta.

Nampaknya pemerintah cukup serius dalam mengembangkan padi hibrida ini, dimana pengembangan produktifitas (intensifikasi) tidak bisa ditawar lagi pada saat perluasan areal sudah mencapai titik kulminasi seiring dengan berkurangnya lahan produktif di Jawa. Pencapaian ketahanan pangan dari komoditas utama padi hanya dapat dicapai dan dipertahankan dengan meningkatkan produktifitas.

Apakah  padi hibrida menjadi satu-satunya pilihan dalam program ketahanan pangan ?

Padi hibrida memang terbukti telah dapat menjanjikan produksi yang sangat tinggi. Di beberapa tempat pengembangan, rata-rata hasil yang diperoleh tidak kurang dari 12 ton/ha, suatu hasil yang sangat sulit dicapai dalam budidaya padi konvensional. Akan tetapi, beberapa kekurangan seperti yang dibahas di atas merupakan hal yang cukup serius untuk diperhatikan. Ongkos produksi yang tinggi dapat mempengaruhi animo petani untuk memakai padi hibrida, disamping itu kualitas beras yang rendah juga menurunkan harga dan mungkin juga kehilangan hasil yang cukup signifikan. Pada tingkat petani, resiko kegagalan budidaya padi hibrida juga lebih tinggi (baca : Hasil Analisis Ekonomi, Padi Hibrida Jauh Lebih Berisiko dan Benih Padi Hibrida Bantuan Tak Bisa Tumbuh).

Mengingat beberapa kasus di atas, pertanyaan selanjutnya apakah pengembangan padi hibrida merupakan pilihan utama.  Mari kita tengok pengembangan budidaya padi dengan menggunakan metoda SRI (System of Rice Intensification) dan Jajar Legowo.

Sejak diperkenalkan tahun 1997 di Indonesia, metode SRI tidak berkembang seperti yang diharapkan oleh perintisnya Prof. Dr Norman Uphoff.  Walaupun banyak hasil yang memuaskan, metode SRI berkembang secara lambat. Dalam beberapa aplikasi di lapangan, metode SRI mampu mendongkrak produktifitas beberapa varietas yang biasa ditanam petani secara fantastis. Dari rata-rata produksi 6 ton/ha, SRI mampu memberikan hasil sekitar 9 - 12 ton/ha, suatu hasil yang patut diperhitungkan dan selayaknya mendapat tempat istimewa dalam program ketahanan pangan. Hasil luar biasa ini pula lah yang merangsang PT. Sampurna berani membuka usaha agrobisnis komoditas padi yang selama ini dianggap enteng oleh kalangan pengusaha besar. Belum lagi Nippon Koei Co.Ltd yang secara konsisten melakukan sosialisasi aplikasi SRI pada setiap daerah pengembangan irigasi yang ditanganinya dan bahkan mendanai SRI Center di Mataram.

Selain keunggulan produksi, SRI juga memiliki banyak keunggulan yang diantaranya adalah :
  1. Penggunaan air irigasi yang lebih hemat, sehingga memungkinkan perluasan areal tanam padi lahan beririgasi saat musim kemarau.
  2. Pengunaan varietas unggul lokal yang telah biasa ditanam petani setempat.
  3. Penggunaan benih yang jauh lebih sedikit (10 - 15 kg/ha dibanding metoda konvensional sebesar 30 - 60 kg/ha).
  4. Mengurangi waktu produksi karena bibit ditanam pada umur 5 - 12 hari setelah semai (konvensional 21 hss).
  5. Secara umum, mengurangi ongkos produksi dan menambah tingkat keuntungan usahatani.
  6. Jarak tanam yang lebar (30 x 30 cm) mempermudah kegiatan pemeliharaan.
  7. Pada metoda SRI organik, selain sangat mengurangi kebutuhan pupuk kimia dan tanaman padi relatif lebih tahan terhadap hama dan penyakit, kualitas produk beras menjadi lebih baik.
(baca : NOSC, FTP UGM Panen Demplot Padi SRI, dan Budidaya dan Keunggulan Padi Organik Sistem SRI)

Walaupun dengan sistem pengairan biasa, pelaksanaan budidaya padi sistem jajar legowo agak mirip dengan metode SRI. Penanaman bibit 1 - 2 perlubang dan dengan jarak tanam yang diatur perblok, metode jajar legowo mampu meningkakan poduktifitas pada varietas lokal sebesar hampir 40% (dari 6,5 ton/ha menjadi 8,5 ton/ha). Introduksi budidaya organik pada sistem jajar legowo secara signifikan juga meningkatkan produktifitas dan kualitas hasil. (baca : Penanaman Padi Sistem Jajar Legowo, Jajar Legowo Tingkatkan Produksi Petani, Cara Tanam Padi Sistem Legowo, Jatim Terapkan Jajar Legowo)

Apa kesimpulannya ?

Melihat ketiga fenomena di atas, terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara pengembangan SRI dan Jajar Legowo dengan padi hibrida. Perkembangan SRI dan Jajar Legowo berjalan dengan lambat, sedangkan perkembangan padi hibrida walaupun masih menimbulkan masalah, berkembang cukup pesat. Secara teknis, pengembangan SRI dan Jajar Legowo ditangani dalam program-program pemerintah (seperti  SRI - Disimp yang ditangani Nippon Koei melalui dana Loan JBIC dan Jajar Legowo pada P4MI/PFI3P yang didanai Loan ADB), sedangkan padi hibrida ditangani langsung oleh lembaga usaha (PT. Dupont, PT. SAS,  Syngenta, dll.). Oleh karena itu, walaupun relatif lebih baru, gaung pengembangan padi hibrida lebih kencang karena berpotensi memberikan keuntungan yang sangat besar bagi pengusaha benih hibrida. Keuntungan finansial juga dirasakan Balai Benih Padi dengan perolehan royalty dan bantuan langsung dalam bentuk pendanaan kerjasama pengembangan benih hibrida yang tidak didapatkan dari pengembagan SRI atau jajar Legowo.

Akan tetapi, apabila kita lihat dari keunggulan-keunggulan yang diperoleh secara general dari ketiga sistem tersebut, tentunya kita sangat berharap bahwa sistem yang lebih berpihak pada program ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan petani lah yang mestinya lebih diutamakan pengembangannya. Barangkali, seperti biasanya, korupsi, kolusi, dan nepotisme sering mengaburkan bahkan menutupi makna sesungguhnya dari suatu sistem pembangunan di negeri ini. Kita hanya bisa berharap bahwa yang akan unggul adalah yang berpihak pada kepentingan masyarakat dan bangsa ini, bukan yang berpihak pada pengusaha dan para pengumpul harta..
.
.

3 komentar:

omyosa mengatakan...

MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM
KETIKA PANEN TIBA

Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia, NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) , dengan produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an.
Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahuin yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik. Tetapi sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.
Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

Solusi yang lebih praktis dan sangat mungkin dapat diterima oleh masyarakat petani kita dapat kami tawarkan, yaitu: BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB SO/AVRON /NASA + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS ( EM16+) + Sistem Jajar Legowo.
Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.

Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
CATATAN: Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh (demplot) bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu menjadi agen sosial penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.
Semoga Indonesia sehat yang dicanangkan pemerintah dapat segera tercapai.
Terimakasih,
Omyosa -- Jakarta Selatan
02137878827; 081310104072

Ullych R M mengatakan...

Terimakasih atas tanggapan dan semangatnya. Walaupun ujungnya promosi, tapi saya tetap respect dengan comment anda. Silahkan kembangkan produk-produk yang ramah lingkungan. Bila produk anda tulus dan jujur, silahkan kirimi saya penjelasan yang membuat saya yakin. Insha Allah, produk anda saya promosikan di blog ini. Jangan lupa kirimi juga picturenya supaya bisa saya upload di blog ini. Alamat email saya rull_king@ymail.com.

dukun asmoro mengatakan...

Setuju dg bufidaya pafi SRI tp saya mau tanya untuk bibit jenis hibrida bisakah ditanam model SRI lalu bs jadi berapa batangkah 1rumpun jk ditanam 1bj dalam satu lubang