Laman

Rabu, 12 Oktober 2011

Plus Minus Pestisida Nabati (Alami)

Tembakau, bahan insektisida yang ampuh.
Beberapa dekade terakhir ini, dunia pertanian diramaikan dengan program green revolution, kembali ke alam, atau organic farming. Hal ini dipicu oleh proteksi beberapa negara (terutama eropa) yang melarang produk-produk pertanian yang mengandung pestisida masuk ke negaranya. Statistik kesehatan di negara mereka telah mencatat betapa banyak pasien rumah sakit yang disebabkan oleh dampak kandungan pestisida dalam makanan yang dikonsumsi yang menyebabkan berbagai penyakit.

Atas kebijakan tersebut dan mungkin juga kesadaran beberapa produsen pertanian besar akan bahaya pencemaran pestisida dalam produknya bagi kesehatan konsumen, sistem pertanian organik mulai mendapat perhatian yang besar. Tidak tanggung-tanggung, dunia penelitian  secara gencar mengembangkan produk-produk pupuk dan pestisida alami yang mempunyai efektifitas setara dengan pestisida sintetis.

Kemudian, 20 tahun terakhir ini, dunia pertanian Indonesia pun mulai ikut-ikutan. Biasalah ... walaupun terlambat dan berjalan lambat, Indonesia mulai memikirkan hal ini. berbagai penelitian pun dilakukan. Walaupun belum dapat mengembangkan teknologi canggih dalam pengembagan pestisida alami ini, dunia pertanian di Indonesia mulai "diperkenalkan kembali" pada pengendalian hama penyakit tradisional, yaitu dengan menggunakan bahan-bahan alami, seperti daun mimba, tembakau, daun sirsak, dll. (lihat kembali artikel BEBERAPA PESTISIDA NABATI POTENSIAL.


Walaupun penggunaan pestisida sintetis (kimia) dari tahun ke tahun masih tetap meningkat, program-program penyuluhan dan pelatihan petani mulai memperkenalkan pengolahan dan penggunaan pestisida alami. Hanya saja dibutuhkan bahan baku yang cukup banyak untuk membuat pestisida alami yang dibutuhkan bagi pemeliharaan tanaman dalam satuan luas tertentu. Keterbatasan bahan baku ini pula yang membuat program penyuluhan disertai dengan bantuan pengembangan bahan baku pestisida alami yang biasanya dipadukan dengan pengembangan bahan pakan ternak.

Dilain pihak, penggunaan pestisida sintetis / kimiawi, dalam kurun waktu yang lama menyebabkan keseimbangan ekologis terganggu, selain itu juga menyebabkan terjadinya revolusi genetik pada beberapa spesies hama, seperti misalnya wereng dan belalang yang semakin lama semakin tahan terhadap jenis pestisida  tertentu. Kesadaran dunia terhadap dampak negatif penggunaan pestisida juga sudah semakin besar, dimana sayuran, bahan pangan, susu, dan bahkan ikan sudah banyak yang tercemar bahan kimia yang berasal dari pestisida. Umumnya dampak kesehatan yang terjadi dari konsumsi bahan tercemar ini adalah banyaknya penderita kanker dan cacat janin (Kanker vs Pestisida : http://marie-fortyfive.blog.com/), serta keracunan yang menyebabkan kematian. Walaupun korban yang meninggal langsung akibat pestisida pada umumnya para petani sendiri, akan tetapi korban tak langsung dengan jumlah yang cukup besar terjadi pada golongan konsumen.

Jenis pestisida yang paling beracun adalah yang mirip dengan gas syaraf, yaitu jenis Organofosfat dan Metilcarbamat. Pestisida jenis ini sangat berbahaya karena mereka menyerang cholinesterase, suatu bahan yang diperlukan oleh oleh sistem syaraf kita agar dapat berfungsi dengan normal. Pestisida gas syaraf menyebabkan kematian paling besar diseluruh dunia dibanding pestisida jenis lain. Contoh beberapa jenis pestisida dengan efek serupa gas syaraf yang paling berbahaya adalah:

  1. Organofosfat
  2. Metilcarbamat
  3. Azinophosmethyl
  4. Demotonmethyl
  5. Dichlorvos / DDVP
  6. Disulfoton
  7. Ethion
  8. Ethylparation / Parathion
  9. Fenamiphos
  10. Aldicarb
  11. Carbofuran
  12. Fomentanate
  13. Methomyl
  14. Oxanyl
  15. Propoxur
Lihatlah daftar di atas ! Jenis-jenis tersebut merupakan jenis-jenis yang banyak beredar di Indonesia dan bahkan menjadi jenis pestisida favorit petani kita !!

Sudah waktunya kembali ke alam.

Ingatlah bahwa jaman dahulu leluhur kita hanya menggunakan bahan alami untuk membasmi hama bahkan memupuk sekalipun. Lihatlah, hanya karena ulah segelintir pedagang yang pandai berpromosi bahwa pestisida jauh lebih ampuh untuk membasmi hama, sekarang penggunaan pestisida sudah tidak dapat dibendung lagi. Selain daya tahan hama yang semakin meningkat, hal ini juga didorong oleh tuntutan ekonomi petani yang semakin besar dimana nilai yang didapatkan petani persatuan luas budidaya semakin kecil dibandingkan kebutuhan hidupnya. Begitu pula dengan pergerakan produsen dan pedagang pestisida semakin gencar, membuat pestisida kimia semakin sulit dihindari.

Akan tetapi, walau bagaimanapun kita tetap harus berjuang untuk mengembangkan pestisida alami dengan harapan lambat-laun keseimbangan ekologis dapat tercapai kembali. Kumbang Batok, Ular, Elang, Burung Hantu dan beberapa jenis serangga predator dapat hidup berkembang kembali. Biaya produksi yang semakin meningkat mungkin dapat dijadikan alat agar petani mau memproduksi bahan pestisida alami, paling tidak dapat mengurangi volume penggunaan pestisida kimia.

Jangan Berhenti Memperkenalkan Pestisida Alami pada Petani.

Paling tidak ada 3 hal yang perlu disadari oleh petani agar mau menggunakan pestisida alami :
  1. Bahwa pestisida alami punya kemampuan yang tinggi dalam mengendalikan hama / penyakit, yang penting bahan, konsentrasi, dan cara penggunaannya benar.
  2. Bahwa pestisida alami dapat mengurangi biaya produksi, asal mau membudidayakan bahan dasarnya pestisida alami akan siap setiap saat dan tidak perlu tergantung pada ketersediaan barang di toko.
  3. Dengan menggunakan pestisida alami, mereka tidak menjadi penyebab pencemaran lingkungan, bahkan dapat membantu proses pelestarian lingkungan.
Secara umum, pestisida alami dapat dibagi dalam 3 golongan (Ir. Novizan, Pestisida Ramah Lingkungan, Agromedia Pustaka, 2002), yaitu :
  1. Pestisida botani (botanical pesticides), yaitu yang berasal dari ekstrak tanaman / tumbuhan.
  2. Pestisida biologis (biological pesticides), yaitu yang mengandung mikroorganisme pengganggu hama, seperti bakteri patogen, virus, dan jamur.
  3. Pestisida mineral organik yang berbahan dasar mineral organik yang terdapat pada kulit bumi. Contoh yang paling umum adalah belerang dan kapur yang dapat mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur dan bakteri.
Keistimewaan pestisida alami dibanding pestisida kimiawi adalah :
  1. Mudah terurai oleh komponen alam lainnya sehingga efek residunya cepat menghilang.
  2. Mempunyai daya tokisisitas yang cukup tinggi, bahkan beberapa diantaranya mempunya daya racun yang lebih tinggi dibanding jenis pestisida kimia seperti nikotin (perasan tembakau).
  3. Bersifat lebih selektif. Beberapa jenis pestisida alami ini hanya efektif dalam mengendalikan beberapa jenis hama saja.
Oleh karena itu, pestisida alami juga memiliki kelemahan :
  1. Karena mudah terurai, pestisida alami membutuhkan penyimpanan yang khusus. Dalam prakteknya, pestisida alami lebih baik bila disiapkan dan digunakan hanya untuk sekali pakai saja. Cukup bahan dasarnya saja yang disiapkan dalam jumlah yang cukup.
  2. Bahan dasar harus disiapkan dalam jumlah yang cukup besar karena konsentrasi dari ekstraksi bahan ini mempunyai konsentrasi yang rendah. Selain itu, penggunaannya membutuhkan waktu yang cukup lama karena harus dibuat terlebih dahulu dan tidak bisa disiapkan dalam waktu yang terlalu lama dari waktu pemakaiannya.
  3. Tokisisitas yang cukup tinggi ini menyebabkan efek toksisitas terhadap petani pemakai dan efek kekebalan hama akan serupa dengan yang disebabkan pestisida kimia. Oleh karena itu, penggunaannya tetap harus terkontrol dengan baik dengan memperhatikan konsentrasi dan volume yang ideal bagi setiap jenis hama yang akan dikendalikan.
  4. Karena bersifat lebih selektif (spektrum rendah), para penyuluh dan pemakai harus mengenal betul masing-masing sifat penggunaan masing-masing bahan alami ini untuk menghindari kesalahpahaman terhadap efektifitas pestisida alami. (Banyak petani peserta program yang mengeluhkan hal ini, bahwa pestisida alami tidak cukup efektif dalam mengendalikan hama)
Apa Yang Harus Dilakukan ?

Menurut saya, langkah-langkah yang perlu diambil dalam mengembangkan pestisida alami ini diantaranya adalah :
  1. Secara sinambung terus mengembangkan penggunaan pestisida alami di tingkat petani, melalui penyadaran, pembantuan teknis, dan pembinaan keterampilan petani.
  2. Senantiasa menyertakan pengembangan dan pemanfaatan pestisida alami dalam setiap program pembinaan petani.
  3. Mengembangkan peneletian pengembangan bahan-bahan pestisida alami, terutama untuk skala industri dalam negeri.
  4. Mencari dukungan stake holder dalam pengembangan penelitian, produksi, dan pemakaian pestisida alami.
  5. Dukungan regulasi di tingkat kebijakan pemerintah yang akan mendukung penganggaran pengembangan pestisida alami secara efektif.

3 komentar:

Koro Pedang mengatakan...

thanks,infonya sangat bermanfaat bagi kami

Ullych R M mengatakan...

Alhamdulillah. Terimakasih atas perhatiannya.

BloggerBaru mengatakan...

astaga ternyata ada jg minusnya. sebelumnya sy baca hanya cara membuatnya http://pesonataman.com/hama/cara-membuat-pestisida-nabati-dengan-mudah-dan-murah/